<?xml version='1.0' encoding='UTF-8'?><?xml-stylesheet href="http://www.blogger.com/styles/atom.css" type="text/css"?><feed xmlns='http://www.w3.org/2005/Atom' xmlns:openSearch='http://a9.com/-/spec/opensearchrss/1.0/' xmlns:georss='http://www.georss.org/georss' xmlns:gd='http://schemas.google.com/g/2005' xmlns:thr='http://purl.org/syndication/thread/1.0'><id>tag:blogger.com,1999:blog-8983338289940995135</id><updated>2012-02-17T00:10:42.779+07:00</updated><category term='Soepomo'/><category term='Bojong Kokosan'/><category term='Saleh danasasmita'/><category term='Jawa Barat'/><category term='Moehamad Moesa'/><category term='ngabuburit'/><category term='Tio Tek Hong'/><category term='Geowisata'/><category term='Muhamad Musa'/><category term='Krisis Kebudayaan'/><category term='Guru Gantangan'/><category term='Portugis'/><category term='AFNEI'/><category term='Artefak'/><category term='Ajip Rosidi'/><category term='Mikihiro Moriyama'/><category term='hermeneutika'/><category term='Salakanagara'/><category term='Roger Eatwell'/><category term='Gedung Sate'/><category term='Gedong Pakuan'/><category term='politik'/><category term='Ideologi'/><category term='Cibatu'/><category term='Jakob Sumardjo'/><category term='Batavia'/><category term='Resimen III TKR/TRI Sukabumi'/><category term='Pakuan'/><category term='Mesjid Agung'/><category term='Sunda Kalapa'/><category term='Eddie Soekardi'/><category term='Bosscha'/><category term='Soekabumi'/><category term='J. Gerber'/><category term='Yoseph Iskandar'/><category term='Danau Bandung'/><category term='Tome Pires'/><category term='APWI'/><category term='Kesastraan Sunda'/><category term='Masup'/><category term='gotrasawala'/><category term='T. Bachtiar'/><category term='Cekungan Bandung'/><category term='Priangan'/><category term='Siliwangi'/><category term='Cagar Budaya'/><category term='Jendela'/><category term='Semerbak Bunga di Bandung Raya'/><category term='Drs. Atja'/><category term='Sunda'/><category term='Jonathan Rigg'/><category term='Antonio Pinto da Franca'/><category term='adat'/><category term='J. Noorduyn'/><category term='Haryoto Kunto'/><category term='ridwan hutagalung'/><category term='Jakarta'/><category term='Garut'/><category term='braga'/><category term='perdata'/><category term='TRI'/><category term='Wangsakerta'/><category term='Edi S. Ekadjati'/><category term='Summa Oriental'/><category term='Bahasa Sunda'/><category term='Pajajaran'/><category term='Gua Pawon'/><category term='esai'/><category term='Jus Rusamsi'/><category term='K.F. Holle'/><category term='sejarah pergerakan'/><category term='Babad Pakuan'/><category term='trem'/><category term='Pantun'/><category term='Tangkuban Parahu'/><category term='Cianjur'/><category term='Bujangga Manik'/><category term='Kota Kembang'/><category term='Savoy Homann'/><category term='parijs van java'/><category term='Bandung'/><category term='Kelir'/><category term='Rusman Sutiasumarga'/><category term='A. Heuken S.J.'/><category term='Ricky Sutanto'/><category term='perhimpunan Indonesia'/><category term='Ayat Rohaedi'/><category term='NICA'/><category term='Gedung Pakuan'/><category term='Saini KM'/><category term='Sastra Sunda'/><category term='Budi Brahmantyo'/><category term='Saini K.M.'/><category term='Kandjutkundang'/><category term='Gedong Sate'/><category term='tauffany nugraha'/><title type='text'>Resensi Buku (Book Review)</title><subtitle type='html'>Berbagi informasi dengan para "kutu buku" semoga bermanfaat.</subtitle><link rel='http://schemas.google.com/g/2005#feed' type='application/atom+xml' href='http://akubacabuku.blogspot.com/feeds/posts/default'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8983338289940995135/posts/default?max-results=100'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://akubacabuku.blogspot.com/'/><link rel='hub' href='http://pubsubhubbub.appspot.com/'/><author><name>Asep Suryana</name><uri>http://www.blogger.com/profile/10523153530100050939</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://2.bp.blogspot.com/_BhFnIsjhfKc/Syj4fG2boRI/AAAAAAAAAdQ/qaZIYaAkDMk/S220/profil.jpg'/></author><generator version='7.00' uri='http://www.blogger.com'>Blogger</generator><openSearch:totalResults>24</openSearch:totalResults><openSearch:startIndex>1</openSearch:startIndex><openSearch:itemsPerPage>100</openSearch:itemsPerPage><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8983338289940995135.post-5310600825759000186</id><published>2011-07-06T17:59:00.002+07:00</published><updated>2011-07-06T18:04:35.198+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='perhimpunan Indonesia'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='sejarah pergerakan'/><title type='text'>Sejarah Pergerakan Rakyat Indonesia</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://3.bp.blogspot.com/-n_cefrm_IGw/ThRBLSQXAWI/AAAAAAAAAj0/Oef5WqLgYVs/s1600/Pergerakan1.jpg"&gt;&lt;img style="float:right; margin:0 0 10px 10px;cursor:pointer; cursor:hand;width: 220px; height: 320px;" src="http://3.bp.blogspot.com/-n_cefrm_IGw/ThRBLSQXAWI/AAAAAAAAAj0/Oef5WqLgYVs/s320/Pergerakan1.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5626193496627413346" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;Judul      : Sejarah Pergerakan Rakyat Indonesia&lt;br /&gt;Penulis   : A.K. Pringodigdo, SH&lt;br /&gt;Penerbit : Dian Rakyat, Jakarta&lt;br /&gt;Cetakan : Ketigabelas 1994&lt;br /&gt;Halaman : xii, 244&lt;br /&gt;ISBN     : 979-523-041-7&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Buku ini merupakan ikhtisar pergerakan rakyat Indonesia meliputi semua  jenis yang dilakukan dengan tata organisasi moderen ke arah perbaikan  hidup untuk bangsa Indonesia dalam kurun waktu 1908-1942. Konsepnya  disusun pada Agustus 1944 – April 1945 atas permintaan kepala Chosasitsu  kantor Jepang yang meneruskan Centraal Kantoor voor de Statistiek  Belanda.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pembagian dilakukan dalam empat bagian yaitu meliputi kejadian tahun:1908 – 1920,&lt;br /&gt;1921 – 1930, 1931 – 1942, dan setelah tahun 1942. Pertama kali  diterbitkan setelah Indonesia merdeka tahun 1949. Sebagai buku yang  diterbitkan tidak jauh dari organisasi pergerakan itu didirikan dan  berkiprah, maka buku ini patut diperhatikan sebagai rujukan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di setiap kurun waktu pembahasan dibagi lagi berdasarkan corak organisasi yaitu:&lt;br /&gt;1. Pergerakan Politik dan sebagainya&lt;br /&gt;2. Pergerakan Serikat Sekerja&lt;br /&gt;3. Pergerakan Keagamaan&lt;br /&gt;4. Pergerakan Wanita&lt;br /&gt;5. Pergerakan Pemuda&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Meskipun diusahakan lengkap termasuk di dalamnya organisasi-organisasi  kecil yang bersifat lokal dan hanya hidup dalam waktu yang singkat  seperti Sarekat Jongos dan Sarekat Penganggur (hal. 102) tetapi tak  dapat dihindarkan ada organisasi yang tidak dibahas dalam buku ini  terutama yang berdiri dan berkiprah di luar Pulau Jawa. Salah satu  organisasi keagamaan Persatuan Islam yang didirikan tanggal 12 September  1923 di Bandung misalnya tidak ada di dalam buku ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya kira data-data juga berasal dari Kantor Pusat Statistik Belanda  yang meneruskan tradisi pencatatan oleh Belanda sejak jaman kompeni (VOC  ) dengan Dagh Register dan kemudian sejak jaman Hindia Belanda dengan  Regering Almanak. Walaupun sudah berusaha seobyektif mungkin tak bisa  dihindari pandangan politik penulis dalam menarik kesimpulan suatu  pergerakan  bahkan mungkin juga pandangan itu berasal dari catatan  Belanda.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam buku ini pada awal masa pergerakan usaha-usaha kaum terpelajar  Indonesia yang sedang belajar di negeri Belanda dan Eropa mendapat porsi  yang cukup. Digambarkan kegiatan mereka terutama yang tergabung dalam  Perhimpunan Indonesia mengikuti berbagai pertemuan internasional di  Eropa mengenai pembebasan bangsa-bangsa terjajah. Begitu pula dibahas  aktivitas pergerakan yang bercorak komunis dalam pertemuan yang diadakan  oleh Komintern.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Buku ini memang sebuah ikhtisar meskipun demikian seharusnya buku ini  dua kali lebih tebal, jika dipilih tipografi yang lebih baik misalnya  spasi dan ukuran huruf yang lebih besar. Buku ini tetap penting meskipun  membacanya akan melelahkan mata. Dalam membacanya anda mungkin akan  terasa “kagok” karena di sana sini gaya bahasa tahun 1940-an masih ada.  Mulai cetakan keduabelas tahun 1991 ejaan lama sudah diganti dengan  Ejaan Yang Disempurnakan.&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="overflow: hidden; color: rgb(0, 0, 0); background-color: transparent; text-decoration: none; border: medium none; text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;Resensi ini sebelumnya saya muat di akun saya di Shvoong: &lt;a style="color: #003399;" href="http://id.shvoong.com/books/dictionary/2179892-sejarah-pergerakan-rakyat-indonesia/#ixzz1RK1DNSYh"&gt;http://id.shvoong.com/books/dictionary/2179892-sejarah-pergerakan-rakyat-indonesia/#ixzz1RK1DNSYh&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8983338289940995135-5310600825759000186?l=akubacabuku.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://akubacabuku.blogspot.com/feeds/5310600825759000186/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://akubacabuku.blogspot.com/2011/07/sejarah-pergerakan-rakyat-indonesia.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8983338289940995135/posts/default/5310600825759000186'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8983338289940995135/posts/default/5310600825759000186'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://akubacabuku.blogspot.com/2011/07/sejarah-pergerakan-rakyat-indonesia.html' title='Sejarah Pergerakan Rakyat Indonesia'/><author><name>Asep Suryana</name><uri>http://www.blogger.com/profile/10523153530100050939</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://2.bp.blogspot.com/_BhFnIsjhfKc/Syj4fG2boRI/AAAAAAAAAdQ/qaZIYaAkDMk/S220/profil.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://3.bp.blogspot.com/-n_cefrm_IGw/ThRBLSQXAWI/AAAAAAAAAj0/Oef5WqLgYVs/s72-c/Pergerakan1.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8983338289940995135.post-198362307644583329</id><published>2011-04-26T10:35:00.004+07:00</published><updated>2011-04-26T11:32:22.963+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='braga'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='ridwan hutagalung'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='parijs van java'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='tauffany nugraha'/><title type='text'>Braga, jalan yang punya cerita</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://4.bp.blogspot.com/-AM9ORE0OUVM/TbZKWzL8IPI/AAAAAAAAAjo/qHT8ubcWaVY/s1600/Braga-2.jpg"&gt;&lt;img style="float:right; margin:0 0 10px 10px;cursor:pointer; cursor:hand;width: 207px; height: 320px;" src="http://4.bp.blogspot.com/-AM9ORE0OUVM/TbZKWzL8IPI/AAAAAAAAAjo/qHT8ubcWaVY/s320/Braga-2.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5599744942239654130" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;Judul : BRAGA, Jantung Parijs van Java&lt;br /&gt;Penulis : Ridwan Hutagalung, Tauffany Nugraha&lt;br /&gt;Penerbit : Ka Bandung, 2008&lt;br /&gt;Halaman : xvi + 168&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt; Jalan Braga adalah salah satu nama jalan di tengah kota Bandung yang  terkenal terutama pada awal abad ke-20. Jalan ini membentang dari  selatan ke utara sejauh 800 m dari Jalan Asia Afrika (dahulu Groote  Postweg) hingga Jalan Perintis Kemerdekaan. Rasanya tidak ada jalan lain  di kota Bandung bahkan mungkin di Nusantara sebuah nama jalan dan  kisahnya dibuat menjadi sebuah buku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jalan Braga berawal dari sebuah jalan pedati untuk mengangkut kopi dari  sebuah gudang kopi yang terletak dekat dengan ujung Jalan Braga sekarang  ke Jalan Raya Pos. Hingga tahun 1910 di kiri kanan jalan terdapat  rumah-rumah dengan pekarangan yang luas. Meskipun ada toko, tetap  letaknya menjorok agak ke dalam. Barulah pada tahun 1920-an dibangun  trotoar yang lebar di kiri kanan jalan kemudian toko-toko berdiri pada  sempadan trotoar tanpa menyisakan pekarangan. Toko-toko di sini menjual  keperluan orang-orang Eropa yang bermukim di Bandung. baik keperluan  sandang, restoran, dan gaya hidup umunya bercita rasa Eropa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebutlah sebuah toko mode Au Bon Marche yang dibuka tahun 1913 selalu  menyajikan mode terbaru dan mahal yang sedang 'trend' di Paris. Toko ini  sering beriklan di media berbahasa Belanda dengan istilah-istilah  Perancis sehingga berperan dalam pencitraan kota Bandung dengan sebutan  Parijs van Java. Sayang gedungnya kini terbengkalai. Awal tahun 2011  atap gedung roboh karena lapuk atau bocor pada atap yang dibiarkan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Untuk urusan perut tersebutlah Maison Bogerijen, kini masih ada bekasnya  dengan nama restoran Braga Permai. Restoran ini didirikan tahun 1918 di  sudut Jalan Braga dengan Jalan Lembong (dahulu Oude Hospitalweg)  kemudian pindah ke bagian tengah Jalan Braga pada tahun 1923 hingga  sekarang.Di sini disajikan beberapa menu khas Kerajaan Belanda.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ada sekira 35 obyek yang disebutkan di buku ini mulai dari ujung selatan  hingga utara ada berupa toko fesyen, bank, restoran, toko buku, &lt;i&gt;show room&lt;/i&gt; mobil lengkap dengan tempat &lt;i&gt;test drive&lt;/i&gt;,  perkampungan, maupun lokalisasi bisnis syahwat kelas atas. Seolah-olah  kita diajak berjalan kaki dari satu obyek ke obyek lainnya dan  diceritakan mengenai sejarahnya. Gaya itu memang yang dilakukan para  penulisnya dalam Komunitas Aleut (d.h. Klab Aleut) yaitu komunitas  apresiasi sejarah dan wisata. Sayang dalam buku ini obyek-obyek tersebut  tidak disebutkan rinci dalam daftar isi untuk memudahkan pencarian.  Mereka ada di Bab Menyusuri Serpihan Jalan Braga halaman 27 kemudian  tiba-tiba Bab Penutup halaman 149.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Buku ini dilengkapai pula dengan daftar pustaka dan indeks yang sangat  saya hargai kepada para penyusun buku. Saya sependapat dengan penulis  buku ini bahwa dengan dibuatnya buku Braga ini bukan untuk  mengagung-agungkan atau mencontoh gaya hidup Eropa-Belanda, tetapi ada  teladan bagaimana pengelolaan sebuah kota, tata kota dan peruntukannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jalan Braga kini sudah kehilangan beberapa bangunan yang tergolong cagar  budaya dan seharusnya dilindungi. Tanpa bangunan-bangunan ini jalan  Braga kehilangan ruhnya. Berbagai festival dan acara lainnya yang  diselelnggarakan bertema Braga atau dilangsungkan di jalan ini tidak  bisa mengangkat pamor Jalan Braga ke tingkat jaman keemasannya.&lt;/div&gt;&lt;div style="overflow: hidden; color: rgb(0, 0, 0); background-color: transparent; text-align: left; text-decoration: none; border: medium none;"&gt;&lt;br /&gt;Sebelumnya dimuat di:  &lt;a style="color: #003399;" href="http://id.shvoong.com/books/dictionary/2145667-braga-jantung-parijs-van-java/#ixzz1Kb7Q2Ppj"&gt;http://id.shvoong.com/books/dictionary/2145667-braga-jantung-parijs-van-java/#ixzz1Kb7Q2Ppj&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8983338289940995135-198362307644583329?l=akubacabuku.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://akubacabuku.blogspot.com/feeds/198362307644583329/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://akubacabuku.blogspot.com/2011/04/braga-jalan-yang-punya-cerita.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8983338289940995135/posts/default/198362307644583329'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8983338289940995135/posts/default/198362307644583329'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://akubacabuku.blogspot.com/2011/04/braga-jalan-yang-punya-cerita.html' title='Braga, jalan yang punya cerita'/><author><name>Asep Suryana</name><uri>http://www.blogger.com/profile/10523153530100050939</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://2.bp.blogspot.com/_BhFnIsjhfKc/Syj4fG2boRI/AAAAAAAAAdQ/qaZIYaAkDMk/S220/profil.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://4.bp.blogspot.com/-AM9ORE0OUVM/TbZKWzL8IPI/AAAAAAAAAjo/qHT8ubcWaVY/s72-c/Braga-2.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8983338289940995135.post-188723949690100081</id><published>2011-02-08T18:54:00.001+07:00</published><updated>2011-02-08T18:57:14.598+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Portugis'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Antonio Pinto da Franca'/><title type='text'>Jejak-jejak Portugis</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://2.bp.blogspot.com/_BhFnIsjhfKc/TVEvd18r2vI/AAAAAAAAAjY/HxalQZEaOig/s1600/PORTUGIS.JPG"&gt;&lt;img style="float:right; margin:0 0 10px 10px;cursor:pointer; cursor:hand;width: 225px; height: 320px;" src="http://2.bp.blogspot.com/_BhFnIsjhfKc/TVEvd18r2vI/AAAAAAAAAjY/HxalQZEaOig/s320/PORTUGIS.JPG" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5571286403778337522" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;Judul: Pengaruh Portugis di Indonesia&lt;br /&gt;Penulis : Antonio Pinto da Franca&lt;br /&gt;Penerbit: Pustaka Sinar Harapan&lt;br /&gt;Tahun : 2000&lt;br /&gt;Halaman: viii, 144&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt; Penulis buku ini adalah mantan seorang diplomat Portugis yang bertugas  di Jakarta selama enam tahun dan berakhir tahun 1970. Soekarno presiden  RI pertama tidak menghendaki hubungan diplomatik setingkat duta besar  dengan Portugis, karena negara itu masih menganut politik kolonial. Oleh  karena itu Pinto di Jakarta sebagai Konsul, tetapi Kementrian Luar  Negeri Portugis menganggapnya seorang Kuasa Usaha.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tiga puluh tahun sejak meninggalkan Indonesia, beliau baru kembali ke  Indonesia. Jadi buku ini yang aslinya diterbitkan dalam Bahasa Inggris  “Portuguese Influence in Indonesia” (Lisabon, 1985) adalah pandangan  beliau ketika bertugas di Indonesia lebih dari 40 tahun yang lalu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Buku-buku mengenai hubungan Portugis dan Indonesia baik jaman dulu  maupun sekarang sangat sedikit. Buku ini dapat dianggap rintisan  mengenai pengaruh Portugis di Indonesia. Meskipun tidak lama dibanding  Belanda yang datang kemudian, jejak pengaruh Portugis kentara sekali  dalam kosa kata Bahasa Indonesia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kontak dengan Portugis dapat disebut kontak pertama Indonesia dengan  Eropa. Pada era penjelajahan dunia baru Portugis yang telah mencapai Goa  di India  tertarik dengan rempah-rempah dan ingin berdagang dengan  langsung mengambil dari sumbernya tanpa perantara. Oleh karena itu tahun  1511 Portugis merebut Malaka yang menguasai selat sempit tempat  berlalulalangnya kapal-kapal dagang terutama mengangkut rempah-rempah  dari Kepulauan Nusantara. Peran Malaka waktu itu mirip dengan peran  negara Singapura saat ini. Dari Malaka, Portugis mengirim ekspedisi  menyusuri Sumatera, Jawa, hingga Maluku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ketika Belanda datang dengan persekutuan dagangnya VOC (didirikan tahun  1602) dan memonopoli perdagangan rempah-rempah, maka Portugis makin  terdesak hingga bertahan di bagian timur Pulau Timor (Timor Leste  sekarang). Apapaun berbau Portugis ditumpas habis oleh VOC. Tetapi hasil  interaksi Portugis-Indonesia selama 150 tahun dalam abad ke-16 dan  ke-17 tidak serta merta hilang. Kini dalam kosa kata Bahasa Indonesia  banyak serapan dari Bahasa Portugis seperti, antero, armada, bantal,  bolu, boneka, garpu, kemeja, minggu, nona, nyonya, pesiar, roda,  sekolah, serdadu, sisa, cerutu, saku, sepatu, dan banyak lagi yang  lainnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Buku ini dilengkapi dengan foto-foto yang diambil sendiri oleh penulis  buku pada saat keliling Indonesia semasa menjabat jadi konsul sayang  tercetak di buku kurang tajam. Selain itu terdapat lampiran-lampiran  yang mendekatkan pembaca  kepada bukti-bukti pengaruh Portugis di  Indonesia:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lampiran pertama mengenai kosa kata Bahasa Portugis yang diserap dalam  Bahasa Indonesia dan bahasa-bahasa daerah terutama di daerah Maluku dan  Nusa Tenggara Timur.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lampiran kedua berupa nama-nama keluarga Portugis yang ditemukan masih digunakan di Indonesia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lampiran ketiga memuat secara khusus Bahasa Portugis di Tugu (Jakarta).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lampiran keempat tentang kata-kata Portugis dalam lagu-lagu Tugu (keroncong)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lampiran kelima mengenai sandiwara Portugis di Sika (Flores).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menarik pula pendapat seorang naturalis Alfred Russel Wallace  (1823-1913) setelah mengunjungi Maluku dan kepulauan Kei tahun 1857 yang dikutip  Prof. Charles Boxer seorang peneliti dalam pengantar buku ini  menggambarkan bagaimana pengaruh Portugis di Nusantara: “Sangat menarik  untuk mengamati pengaruh perdagangan dini Portugis dengan negara-negara  ini, di dalam kata-kata bahasa mereka, yang masih dipakai di kalangan  penduduk pulau yang terpencil dan liar ini. &lt;i&gt;Lenço&lt;/i&gt; untuk saputangan dan &lt;i&gt;faca&lt;/i&gt;  untuk pisau, dan di sini digunakan sambil mengenyampingkan  istilah-istilah Melayunya. Orang-orang Portugis dan Spanyol merupakan  penakluk dan penjajah yang ajaib. Mereka mengakibatkan lebih banyak  perubahan cepat di negara-negara yang ditaklukannya dari negara lain  manapun juga di zaman modern, menyerupai orang-orang Romawi dalam kuasa  mereka mencekoki bahasa, agama, dan kebiasaan merekapada suku-suku yang  liar dan yang masih biadab.” (&lt;i&gt;The Malay Archipelago, A Narrative of Travel with Studies of Man and Nature,&lt;/i&gt; Ed. London, 1894, hal.325).&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8983338289940995135-188723949690100081?l=akubacabuku.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://akubacabuku.blogspot.com/feeds/188723949690100081/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://akubacabuku.blogspot.com/2011/02/jejak-jejak-portugis.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8983338289940995135/posts/default/188723949690100081'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8983338289940995135/posts/default/188723949690100081'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://akubacabuku.blogspot.com/2011/02/jejak-jejak-portugis.html' title='Jejak-jejak Portugis'/><author><name>Asep Suryana</name><uri>http://www.blogger.com/profile/10523153530100050939</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://2.bp.blogspot.com/_BhFnIsjhfKc/Syj4fG2boRI/AAAAAAAAAdQ/qaZIYaAkDMk/S220/profil.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://2.bp.blogspot.com/_BhFnIsjhfKc/TVEvd18r2vI/AAAAAAAAAjY/HxalQZEaOig/s72-c/PORTUGIS.JPG' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8983338289940995135.post-5626626101748390703</id><published>2011-01-27T18:36:00.007+07:00</published><updated>2011-01-29T12:02:38.534+07:00</updated><title type='text'>Dasar-dasar Pokok Marhaenisme</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://2.bp.blogspot.com/_BhFnIsjhfKc/TUFdcBDGAaI/AAAAAAAAAjM/p2xmvFTK8U4/s1600/Dasar2-Marhaen.jpg"&gt;&lt;img style="float:left; margin:0 10px 10px 0;cursor:pointer; cursor:hand;width: 214px; height: 320px;" src="http://2.bp.blogspot.com/_BhFnIsjhfKc/TUFdcBDGAaI/AAAAAAAAAjM/p2xmvFTK8U4/s320/Dasar2-Marhaen.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5566833350305776034" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;Judul            : &lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Dasar-dasar Pokok Marhaenisme&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Penulis      : Panitia Lima&lt;br /&gt;Penerbit : Garoeda Buana Indah&lt;br /&gt;Halaman : 87&lt;br /&gt;Tahun        perumusan 1961&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;!--[if gte mso 9]&gt;&lt;xml&gt;  &lt;w:worddocument&gt;   &lt;w:view&gt;Normal&lt;/w:View&gt;   &lt;w:zoom&gt;0&lt;/w:Zoom&gt;   &lt;w:punctuationkerning/&gt;   &lt;w:validateagainstschemas/&gt;   &lt;w:saveifxmlinvalid&gt;false&lt;/w:SaveIfXMLInvalid&gt;   &lt;w:ignoremixedcontent&gt;false&lt;/w:IgnoreMixedContent&gt;   &lt;w:alwaysshowplaceholdertext&gt;false&lt;/w:AlwaysShowPlaceholderText&gt;   &lt;w:compatibility&gt;    &lt;w:breakwrappedtables/&gt;    &lt;w:snaptogridincell/&gt;    &lt;w:wraptextwithpunct/&gt;    &lt;w:useasianbreakrules/&gt;    &lt;w:dontgrowautofit/&gt;   &lt;/w:Compatibility&gt;   &lt;w:browserlevel&gt;MicrosoftInternetExplorer4&lt;/w:BrowserLevel&gt;  &lt;/w:WordDocument&gt; &lt;/xml&gt;&lt;![endif]--&gt;&lt;!--[if gte mso 9]&gt;&lt;xml&gt;  &lt;w:latentstyles deflockedstate="false" latentstylecount="156"&gt;  &lt;/w:LatentStyles&gt; &lt;/xml&gt;&lt;![endif]--&gt;&lt;!--[if gte mso 10]&gt; &lt;style&gt;  /* Style Definitions */  table.MsoNormalTable  {mso-style-name:"Table Normal";  mso-tstyle-rowband-size:0;  mso-tstyle-colband-size:0;  mso-style-noshow:yes;  mso-style-parent:"";  mso-padding-alt:0cm 5.4pt 0cm 5.4pt;  mso-para-margin:0cm;  mso-para-margin-bottom:.0001pt;  mso-pagination:widow-orphan;  font-size:10.0pt;  font-family:"Times New Roman";  mso-ansi-language:#0400;  mso-fareast-language:#0400;  mso-bidi-language:#0400;} &lt;/style&gt; &lt;![endif]--&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-bottom: 12pt; text-align: justify;"&gt;Buku kecil ini merupakan rumusan Panitia Lima pada tahun 1961 yang terdir:i dari Suwirjo, Sajuti Melik, Osa Maliki, Roeslan Abdulgani, dan Ali Sastroamidjojo sebagai ketua. Adapun konsep Marhaenisme berasal dari Soekarno pada tahun 1927. Konsep ini muncul sebagai antithesa terhadap thesa kolonialisme yang membelenggu rakyat Indonesia pada waktu itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Perlu dikemukakan di sini apa yang disebut dengan marhaenisme, marhaen, dan marhaenis seperti yang terdapat dalam buku tersebut:&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="margin-bottom: 12pt; text-align: justify;"&gt; &lt;b&gt;Marhaenisme&lt;/b&gt; adalah asas yang menghendaki susunan mayarakat dan negara yang di dalam segala halnya menyelamatkan kaum Marhaen.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;Marhaen &lt;/b&gt;adalah setiap rakyat Indonesia yang melarat atau yang lebih tepat yang telah dimelaratkan oleh sistem kapitalisme dan kolonialisme. Kaum Marhaen terdiri dari tiga unsur, yaitu: kaum proletar (buruh), kaum petani melarat, dan kaum melarat Indonesia lainnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;Marhaenis&lt;/b&gt; adalah setiap pejuang dan setiap patriot bangsa yang menghimpun berjuta-juta kaum Marhaen dan bersama-sama massa Marhaen itu hendaknya menumbangkan kapitalisme, imperialisme, dan kolonialisme. Mereka bersama-sama kaum Marhaen bekerja keras membangun negara dan bangsa yang kuat, bahagia, sentosa, adil dan makmur.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kaum tertindas adalah rakyat jelata yang merupakan bagian terbesar dalam masyarakat manapun juga. Mereka menderita lahir batin selama puluhan, ratusan, bahkan ribuan tahun oleh tindakan golongan yang lebih kuat atau sedang berkuasa. Mereka menderita bukan hanya penindasan oleh golongan yang berkuasa tetapi juga karena kebodohan, kurang pengertian, dan kurang kesadaran. Karena kebodohan dan kurang kesadaran inilah penindasan berlangsung terus-menerus. Mereka menderita karena sistem feodal, imperialime, kolonialisme, atau kapitalisme.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tujuan dari perjuangan marhaenis adalah: "Masyarakat marhaenis atau masyarakat sosialis Indonesia yang adil dan makmur berdasarkan Pancasila". Oleh karenanya Marhaenisme disebut juga sosio nasionalisme.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Marhaen" diambil dari nama seorang petani yang ditemui Soekarno. Ia adalah seorang petani dari Bandung selatan. Marhaen digunakan untuk menggambarkan kelompok masyarakat Indonesia yang menderita/sengsara bukan karena kemalasan atau kebodohannya, akan tetapi sengsara atau disengsarakan oleh sistem kapitalisme-kolonialisme.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Seperti dikatakan dalam buku ini, terbentuknya masyarakat marhaenis yang  adil dan makmur berdasarkan Pancasila merupakan tujuan Marhaenisme. Cara perjuangan  Marhaenisme intinya ialah massa-aksi yang radikal revolusioner (hal. 85).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Untuk mengetahui latar belakang pemikiran Marhaenisme maka buku tipis  ini layak dibaca, meskipun dirumuskan oleh Panitia Lima, tetapi sudah  mendapat persetujuan penggagasnya, Soekarno. Untuk diterapkan pada masa  sekarang perlu dirumuskan kembali doktrin-doktrin perjuangannya sesuai  keadaaan tanpa menghilangkan tujuan akhir negara Indonesia yang adil dan  makmur berdasarkan Pancasila.&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align:right" align="right"&gt;&lt;i&gt;Nyalakan terus obor kesetiaan terhadap kaum Marhaen!&lt;br /&gt;Agar semangat Marhaenisme bernyala-nyala murni!&lt;br /&gt;Dan agar yang tidak murni terbakar mati!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Soekarno (1959)&lt;/i&gt;&lt;/p&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8983338289940995135-5626626101748390703?l=akubacabuku.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://akubacabuku.blogspot.com/feeds/5626626101748390703/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://akubacabuku.blogspot.com/2011/01/dasar-dasar-pokok-marhaenisme.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8983338289940995135/posts/default/5626626101748390703'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8983338289940995135/posts/default/5626626101748390703'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://akubacabuku.blogspot.com/2011/01/dasar-dasar-pokok-marhaenisme.html' title='Dasar-dasar Pokok Marhaenisme'/><author><name>Asep Suryana</name><uri>http://www.blogger.com/profile/10523153530100050939</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://2.bp.blogspot.com/_BhFnIsjhfKc/Syj4fG2boRI/AAAAAAAAAdQ/qaZIYaAkDMk/S220/profil.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://2.bp.blogspot.com/_BhFnIsjhfKc/TUFdcBDGAaI/AAAAAAAAAjM/p2xmvFTK8U4/s72-c/Dasar2-Marhaen.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8983338289940995135.post-2690934956400604734</id><published>2010-10-13T06:09:00.013+07:00</published><updated>2010-10-13T06:45:20.720+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Summa Oriental'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='A. Heuken S.J.'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Jakarta'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Sunda Kalapa'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Tome Pires'/><title type='text'>Dari Sunda Kalapa ke Jakarta</title><content type='html'>&lt;a href="http://4.bp.blogspot.com/_BhFnIsjhfKc/TLTuupJf8bI/AAAAAAAAAh4/3ighOevVcf0/s1600/scan0004.jpg"&gt;&lt;img style="float: left; margin: 0pt 10px 10px 0pt; cursor: pointer; width: 144px; height: 200px;" src="http://4.bp.blogspot.com/_BhFnIsjhfKc/TLTuupJf8bI/AAAAAAAAAh4/3ighOevVcf0/s200/scan0004.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5527305127777530290" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;Judul: Sumber-sumber Asli Sejarah Jakarta (Jilid I, II, dan III)&lt;br /&gt;Penulis : A. Heuken S.J.&lt;br /&gt;Penerbit: Yayasan Cipta Loka Caraka, Jakarta&lt;br /&gt;Tahun : 1999, cetakan I&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Saya sangat tertarik dengan semangat penulisan buku ini. Pertama buku ini menyajikan sumber-sumber sejarah tentang Jakarta dalam bahasa aslinya kemudian diterjemahkan. Peminat sejarah seperti saya yang tidak memiliki latar belakang disiplin Sejarah dapat meneliti dan menarik kesimpulan sendiri. Naskah-naskah itu bukan hanya milik ahli sejarah.  Banyak sumber yang saya butuhkan mengenai naskah kuno tentang Jawa Barat ada di dalamnya. Mengapa? Karena Jakarta atau Sunda Kalapa dahulunya adalah bagian dari Kerajaan Sunda. Hingga awal kemerdekaan Jakarta adalah bagian dari Provinsi Jawa Barat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kedua, mengapa buku ini dibagi menjadi tiga jilid? Karena kalau dibuat dalam satu jilid akan tebal dan mahal sehingga tidak terjangkau oleh peminat sejarah dengan anggaran terbatas. Tetapi dengan dibagi menjadi tiga jilid orang dapat membeli dengan mencicil, itu juga yang saya lakukan. Terima kasih kepada penulis dan penerbit buku ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pembagian jilid sbb.:&lt;br /&gt;Jilid I : Dokumen-dokumen sejarah Jakarta sampai dengan akhir abad ke-16&lt;br /&gt;Jilid II: Dokumen-dokumen sejarah Jakarta dari kedatangan kapal pertama Belanda (1596) sampai dengan tahun 1619&lt;br /&gt;Jilid III: Sumber-sumber sejarah pada dasawarsa pertama kota Batavia (1619-1630) dan kutipan dari karya sastra Indonesia yang menyangkut awal mula Jakarta&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Susun&lt;a href="http://3.bp.blogspot.com/_BhFnIsjhfKc/TLTuu3EZvwI/AAAAAAAAAiA/dnIMVuOkSNE/s1600/scan0005.jpg"&gt;&lt;img style="float: left; margin: 0pt 10px 10px 0pt; cursor: pointer; width: 143px; height: 200px;" src="http://3.bp.blogspot.com/_BhFnIsjhfKc/TLTuu3EZvwI/AAAAAAAAAiA/dnIMVuOkSNE/s200/scan0005.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5527305131514248962" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;an dokumen adalah naskah asli, terjemahan, kemudian komentar penulis, dan kepustakaan. Dengan demikian peminat sejarah sangat beruntung apabila dapat mengerti bahasa aslinya.  Naskah dari berbagai bahasa yang tidak dimengeti penulis diserahkan penerjemahannya kepada ahlinya. Tidak mudah memang menerjemahkan kosa-kata dan aturan bahasa yang hidup berabad-abad lampau. Kepustakaan yang disertakan sangat membantu peminat dan pemerhati sejarah Jakarta bila ingin studi lebih lanjut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya adalah peminat sejarah Sunda sangat beruntung mendapatkan salinan naskah Summa Oriental (1513-1515) catatan perjalanan Tome Pires yang di dalamnya ada catatan tentang Kerajaan Sunda. Na&lt;a href="http://3.bp.blogspot.com/_BhFnIsjhfKc/TLTwkck7rYI/AAAAAAAAAiI/axUhYzt6-4I/s1600/scan0006.jpg"&gt;&lt;img style="float: right; margin: 0pt 0pt 10px 10px; cursor: pointer; width: 144px; height: 200px;" src="http://3.bp.blogspot.com/_BhFnIsjhfKc/TLTwkck7rYI/AAAAAAAAAiI/axUhYzt6-4I/s200/scan0006.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5527307151627496834" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;skah asli yang berbahasa Portugis diterjemahkan ke dalam bahasa Inggris dan Indonesia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kemungkinan kesalahan dalam penerjemahan dan penarikan kesimpulan bisa saja terjadi. Oleh karena itu pula buku ini bersifat terbuka. Saya mengharapkan ada lagi buku-buku yang mengupas naskah-naskah kuno Nusantara seperti ini. Agar para pemilik dan ahli di bidang naskah kuno dan sejarah tidak “ngakeukeuweuk” (Sunda, menyimpan untuk kepentingannya sendiri) naskah-naskah tersebut. Sebab benda dan jiwa dari naskah tersebut merupakan warisan bangsa yang harus dikemukakan kepada pewarisnya.&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8983338289940995135-2690934956400604734?l=akubacabuku.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://akubacabuku.blogspot.com/feeds/2690934956400604734/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://akubacabuku.blogspot.com/2010/10/judul-sumber-sumber-asli-sejarah.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8983338289940995135/posts/default/2690934956400604734'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8983338289940995135/posts/default/2690934956400604734'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://akubacabuku.blogspot.com/2010/10/judul-sumber-sumber-asli-sejarah.html' title='Dari Sunda Kalapa ke Jakarta'/><author><name>Asep Suryana</name><uri>http://www.blogger.com/profile/10523153530100050939</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://2.bp.blogspot.com/_BhFnIsjhfKc/Syj4fG2boRI/AAAAAAAAAdQ/qaZIYaAkDMk/S220/profil.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://4.bp.blogspot.com/_BhFnIsjhfKc/TLTuupJf8bI/AAAAAAAAAh4/3ighOevVcf0/s72-c/scan0004.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8983338289940995135.post-4478636426269606875</id><published>2010-06-08T13:20:00.007+07:00</published><updated>2010-06-22T17:00:12.995+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='adat'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Soepomo'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='perdata'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Jawa Barat'/><title type='text'>Hukum Adat Privat Jawa Barat</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://2.bp.blogspot.com/_BhFnIsjhfKc/TA3kZhhE7wI/AAAAAAAAAhI/6ki7b5h32BE/s1600/Perdata.jpg"&gt;&lt;img style="float: right; margin: 0pt 0pt 10px 10px; cursor: pointer; width: 208px; height: 320px;" src="http://2.bp.blogspot.com/_BhFnIsjhfKc/TA3kZhhE7wI/AAAAAAAAAhI/6ki7b5h32BE/s320/Perdata.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5480287448724729602" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;!--[if gte mso 9]&gt;&lt;xml&gt;  &lt;w:worddocument&gt;   &lt;w:view&gt;Normal&lt;/w:View&gt;   &lt;w:zoom&gt;0&lt;/w:Zoom&gt;   &lt;w:punctuationkerning/&gt;   &lt;w:validateagainstschemas/&gt;   &lt;w:saveifxmlinvalid&gt;false&lt;/w:SaveIfXMLInvalid&gt;   &lt;w:ignoremixedcontent&gt;false&lt;/w:IgnoreMixedContent&gt;   &lt;w:alwaysshowplaceholdertext&gt;false&lt;/w:AlwaysShowPlaceholderText&gt;   &lt;w:compatibility&gt;    &lt;w:breakwrappedtables/&gt;    &lt;w:snaptogridincell/&gt;    &lt;w:wraptextwithpunct/&gt;    &lt;w:useasianbreakrules/&gt;    &lt;w:dontgrowautofit/&gt;   &lt;/w:Compatibility&gt;   &lt;w:browserlevel&gt;MicrosoftInternetExplorer4&lt;/w:BrowserLevel&gt;  &lt;/w:WordDocument&gt; &lt;/xml&gt;&lt;![endif]--&gt;&lt;!--[if gte mso 9]&gt;&lt;xml&gt;  &lt;w:latentstyles deflockedstate="false" latentstylecount="156"&gt;  &lt;/w:LatentStyles&gt; &lt;/xml&gt;&lt;![endif]--&gt;&lt;!--[if !mso]&gt;&lt;object classid="clsid:38481807-CA0E-42D2-BF39-B33AF135CC4D" id="ieooui"&gt;&lt;/object&gt; &lt;style&gt; st1\:*{behavior:url(#ieooui) } &lt;/style&gt; &lt;![endif]--&gt;&lt;style&gt; &lt;!--  /* Style Definitions */  p.MsoNormal, li.MsoNormal, div.MsoNormal  {mso-style-parent:"";  margin:0cm;  margin-bottom:.0001pt;  mso-pagination:widow-orphan;  font-size:12.0pt;  font-family:"Times New Roman";  mso-fareast-font-family:"Times New Roman";} span.fullpost  {mso-style-name:fullpost;} @page Section1  {size:612.0pt 792.0pt;  margin:72.0pt 90.0pt 72.0pt 90.0pt;  mso-header-margin:36.0pt;  mso-footer-margin:36.0pt;  mso-paper-source:0;} div.Section1  {page:Section1;}  /* List Definitions */  @list l0  {mso-list-id:986856569;  mso-list-type:hybrid;  mso-list-template-ids:-215579208 67698703 67698713 67698715 67698703 67698713 67698715 67698703 67698713 67698715;} @list l0:level1  {mso-level-tab-stop:36.0pt;  mso-level-number-position:left;  text-indent:-18.0pt;} ol  {margin-bottom:0cm;} ul  {margin-bottom:0cm;} --&gt; &lt;/style&gt;&lt;!--[if gte mso 10]&gt; &lt;style&gt;  /* Style Definitions */  table.MsoNormalTable  {mso-style-name:"Table Normal";  mso-tstyle-rowband-size:0;  mso-tstyle-colband-size:0;  mso-style-noshow:yes;  mso-style-parent:"";  mso-padding-alt:0cm 5.4pt 0cm 5.4pt;  mso-para-margin:0cm;  mso-para-margin-bottom:.0001pt;  mso-pagination:widow-orphan;  font-size:10.0pt;  font-family:"Times New Roman";  mso-ansi-language:#0400;  mso-fareast-language:#0400;  mso-bidi-language:#0400;} &lt;/style&gt; &lt;![endif]--&gt;Judul: Hukum Perdata Adat Jawa Barat  &lt;p class="MsoNormal"&gt;Penulis: Soepomo, &lt;st1:street st="on"&gt;&lt;st1:address st="on"&gt;Prof.   Dr. Mr. Rd.&lt;/st1:address&gt;&lt;/st1:street&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;Penerjemah:&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;Nani Soewondo, SH&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;Penerbit: Djambatan, &lt;st1:city st="on"&gt;&lt;st1:place st="on"&gt;Jakarta&lt;/st1:place&gt;&lt;/st1:city&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;Tahun terbit: 1982, cetakan kedua&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal"&gt;Halaman: 232&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;(Edisi asli dalam bahasa Belanda)&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-top: 12pt; text-align: justify;"&gt;Buku ini berisi kumpulan kasus-kasus adat perdata yang ada di masyarakat Jawa Barat pada permulaan abad ke-20 sampai tahun 1930. Wilayah cakupannya adalah provinsi Banten, &lt;st1:place st="on"&gt;&lt;st1:city st="on"&gt;Jakarta&lt;/st1:city&gt;&lt;/st1:place&gt;, dan Jawa Barat sekarang. Dahulu Jakarta masuk dalam wilayah Jawa Barat dan Propinsi Banten pun baru berpisah dari Propinsi Jawa Barat tahun 2000. Dalam buku ini tidak disebutkan judul aslinya dalam bahasa Belanda. Selain judul di atas kadang diterjemahkan dengan judul “Hukum Adat Privat Jawa Barat”. Ini adalah hasil penelitian Dr. Soepomo (1903-1958) pada tahun 1930. Dilihat dari daftar kepustakaan yang paling akhir tahun terbitnya 1931 dan menyinggung keputusan Lanraad tahun 1932, maka bisa diambil kesimpulan buku dalam bahasa Belanda terbit tahun 1932 atau setelahnya.&lt;/p&gt;&lt;br /&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;Pembahasan dibagi ke dalam enam bab sbb:&lt;/p&gt;  &lt;ol style="margin-top: 0cm;" start="1" type="1"&gt;&lt;li class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;Hukum Keluarga&lt;/li&gt;&lt;li class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;Hukum Perkawinan&lt;/li&gt;&lt;li class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;Hukum Waris&lt;/li&gt;&lt;li class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;Hukum Tanah&lt;/li&gt;&lt;li class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;Hukum Utang Piutang&lt;/li&gt;&lt;li class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;Hukum Pelanggaran&lt;/li&gt;&lt;/ol&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;Sebagaimana hukum adat pada umumnya di Nusantara jarang terdokumentasi secara tertulis, tetapi hidup dalam ingatan kolektif masyarakatnya. Sebagai contoh salah satu bagian dari hukum keluarga mengenai pengangkatan anak. Mengangkat anak disebut “mupu anak” (Banten Utara &amp;amp; Cirebon), “mulung” atau “ngukut anak” (suku Sunda umumnya) dan “mungut anak” (&lt;st1:place st="on"&gt;&lt;st1:city st="on"&gt;Jakarta&lt;/st1:city&gt;&lt;/st1:place&gt;). Orang tua angkat umumnya bertanggung jawab terhadap anak yang diangkatnya sedangkan orang tua kandung lepas tanggung jawabnya setelah pengangkatan itu. Cara pengangkatan pun sangat sederhana biasanya hanya keluarga yang menyerahkan dan yang mengangkat, tetapi tetangga akan segera mengetahuinya. Adapula yang dihadiri para kerabat dari kedua belah pihak. Pengangkatan yang menggunakan &lt;st1:place st="on"&gt;&lt;st1:city st="on"&gt;surat&lt;/st1:city&gt;&lt;/st1:place&gt; ditemukan hanya di dua tempat yaitu di Meester Cornelis (Jatinegara) yang disahkan asisten wedana dan Lengkong-Bandung yang disaksikan Kepala Desa.&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;Kesimpulan yang diperoleh “Pengangkatan anak menimbulkan hubungan hukum yang sama antara orang tua angkat dengan anak angkat seperti orang-tua dengan anak kandung”. Dalam hal perkawinan seandainya yang diangkat adalah anak perempuan, maka orang tua angkat yang akan menikahkannya dan menjadi wakil wali. Meskipun penduduknya menganut agama Islam, tidak ditemukan perkawinan antara anak angkat dengan sanak saudara keturunan lurus dari orangtua angkatnya. Dalam hal waris orangtua angkat mengusahakan hibah untuk anak angkatnya, sebab jika diurus ke Priesterraad atau Landraad, maka dipastikan anak angkat tidak akan mendapat warisan. Banyak kasus-kasus lain yang dikompilasi dalam buku ini, tidak saja berguna dalam kajian hukum perdata yang berlaku pada saat itu, tetapi juga dapat menjadi kajian di luar bidang hukum.&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;Saat itu pihak kolonial tidak dapat begitu saja menerapkan hukum-hukum positif mereka. Untuk itulah Dr. Soepomo ditugaskan oleh Direktur Justisi/Departemen Kehakiman pemerintah Kolonial Belanda&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;untuk melakukan penelitian hukum adat di Jawa Barat. Hukum perdata adat meskipun terlihat bersahaja tetapi tetap mengandung nilai keadilan dan memerhatikan hak-hak masyarakat. Berbeda dengan pengertian kita sekarang pada umunya, kalau seseorang mengatakan, “Kita selesaikan saja secara adat”, artinya diselesaikan di luar keputusan institusi hukum. Tetapi dalam buku ini saya menemukan kasus-kasus perdata yang menggunakan hukum adat diusahakan legalitasnya dalam kerangka hukum kolonial. &lt;span style=""&gt; &lt;/span&gt;Buku yang berbentuk monografi ini menjadi dokumentasi hukum yang sangat berharga. Bahkan tidak saja aspek hukum perdata adat, setelah membaca buku ini saya dapat merasakan bagaimana suasana sosial budaya Jawa Barat pada waktu itu.&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;Soepomo menyelesaikan tahapan doktornya tahun 1927 di &lt;span class="fullpost"&gt;Rijskuniversiteit &lt;st1:place st="on"&gt;&lt;st1:city st="on"&gt;Leiden&lt;/st1:city&gt;&lt;/st1:place&gt; – Belanda. &lt;/span&gt;Di kemudian hari Soepomo adalah salah satu anggota BPUPKI (&lt;em&gt;Badan Penyelidik Usaha Persiapan Kemerdekaan Indonesia&lt;/em&gt;&lt;em&gt;&lt;span style="font-style: normal;"&gt;)&lt;/span&gt;&lt;/em&gt; dan besar andilnya dalam merumuskan Undang-Undang Dasar 1945. Beliau pun menjadi Menteri Kehakiman pertama era kemerdekaan &lt;st1:place st="on"&gt;&lt;st1:country-region st="on"&gt;Indonesia&lt;/st1:country-region&gt;&lt;/st1:place&gt; (19 Agustus 1945-14 November 1945) dan Menteri Kehakiman pada kabinet Hatta (1949-1950). Atas jasa-jasanya beliau diberi gelar pahlawan nasional. &lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;script type="text/javascript"&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;  var _gaq = _gaq || [];&lt;br /&gt;  _gaq.push(['_setAccount', 'UA-4347011-3']);&lt;br /&gt;  _gaq.push(['_trackPageview']);&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;  (function() {&lt;br /&gt;    var ga = document.createElement('script'); ga.type = 'text/javascript'; ga.async = true;&lt;br /&gt;    ga.src = ('https:' == document.location.protocol ? 'https://ssl' : 'http://www') + '.google-analytics.com/ga.js';&lt;br /&gt;    var s = document.getElementsByTagName('script')[0]; s.parentNode.insertBefore(ga, s);&lt;br /&gt;  })();&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/script&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8983338289940995135-4478636426269606875?l=akubacabuku.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://akubacabuku.blogspot.com/feeds/4478636426269606875/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://akubacabuku.blogspot.com/2010/06/hukum-adat-privat-jawa-barat.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8983338289940995135/posts/default/4478636426269606875'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8983338289940995135/posts/default/4478636426269606875'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://akubacabuku.blogspot.com/2010/06/hukum-adat-privat-jawa-barat.html' title='Hukum Adat Privat Jawa Barat'/><author><name>Asep Suryana</name><uri>http://www.blogger.com/profile/10523153530100050939</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://2.bp.blogspot.com/_BhFnIsjhfKc/Syj4fG2boRI/AAAAAAAAAdQ/qaZIYaAkDMk/S220/profil.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://2.bp.blogspot.com/_BhFnIsjhfKc/TA3kZhhE7wI/AAAAAAAAAhI/6ki7b5h32BE/s72-c/Perdata.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8983338289940995135.post-5908474616166700511</id><published>2009-06-09T19:21:00.005+07:00</published><updated>2009-06-09T19:40:16.495+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='T. Bachtiar'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Budi Brahmantyo'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Geowisata'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Cekungan Bandung'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Bujangga Manik'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Tangkuban Parahu'/><title type='text'>Cara Lain Menikmati Bandung</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://2.bp.blogspot.com/_BhFnIsjhfKc/Si5WBninySI/AAAAAAAAAac/IA6c1QgI2Ak/s1600-h/Cekungan-bandung.jpg"&gt;&lt;img style="margin: 0pt 0pt 10px 10px; float: right; cursor: pointer; width: 261px; height: 400px;" src="http://2.bp.blogspot.com/_BhFnIsjhfKc/Si5WBninySI/AAAAAAAAAac/IA6c1QgI2Ak/s400/Cekungan-bandung.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5345304393529411874" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;o:smarttagtype namespaceuri="urn:schemas-microsoft-com:office:smarttags" name="City"&gt;&lt;/o:smarttagtype&gt;&lt;o:smarttagtype namespaceuri="urn:schemas-microsoft-com:office:smarttags" name="place"&gt;&lt;/o:smarttagtype&gt;&lt;!--[if gte mso 9]&gt;&lt;xml&gt;  &lt;w:worddocument&gt;   &lt;w:view&gt;Normal&lt;/w:View&gt;   &lt;w:zoom&gt;0&lt;/w:Zoom&gt;   &lt;w:punctuationkerning/&gt;   &lt;w:validateagainstschemas/&gt;   &lt;w:saveifxmlinvalid&gt;false&lt;/w:SaveIfXMLInvalid&gt;   &lt;w:ignoremixedcontent&gt;false&lt;/w:IgnoreMixedContent&gt;   &lt;w:alwaysshowplaceholdertext&gt;false&lt;/w:AlwaysShowPlaceholderText&gt;   &lt;w:compatibility&gt;    &lt;w:breakwrappedtables/&gt;    &lt;w:snaptogridincell/&gt;    &lt;w:wraptextwithpunct/&gt;    &lt;w:useasianbreakrules/&gt;    &lt;w:dontgrowautofit/&gt;   &lt;/w:Compatibility&gt;   &lt;w:browserlevel&gt;MicrosoftInternetExplorer4&lt;/w:BrowserLevel&gt;  &lt;/w:WordDocument&gt; &lt;/xml&gt;&lt;![endif]--&gt;&lt;!--[if gte mso 9]&gt;&lt;xml&gt;  &lt;w:latentstyles deflockedstate="false" latentstylecount="156"&gt;  &lt;/w:LatentStyles&gt; &lt;/xml&gt;&lt;![endif]--&gt;&lt;!--[if !mso]&gt;&lt;object classid="clsid:38481807-CA0E-42D2-BF39-B33AF135CC4D" id="ieooui"&gt;&lt;/object&gt; &lt;style&gt; st1\:*{behavior:url(#ieooui) } &lt;/style&gt; &lt;![endif]--&gt;&lt;style&gt; &lt;!--  /* Style Definitions */  p.MsoNormal, li.MsoNormal, div.MsoNormal  {mso-style-parent:"";  margin:0cm;  margin-bottom:.0001pt;  mso-pagination:widow-orphan;  font-size:12.0pt;  font-family:"Times New Roman";  mso-fareast-font-family:"Times New Roman";} @page Section1  {size:612.0pt 792.0pt;  margin:72.0pt 90.0pt 72.0pt 90.0pt;  mso-header-margin:36.0pt;  mso-footer-margin:36.0pt;  mso-paper-source:0;} div.Section1  {page:Section1;} --&gt; &lt;/style&gt;&lt;!--[if gte mso 10]&gt; &lt;style&gt;  /* Style Definitions */  table.MsoNormalTable  {mso-style-name:"Table Normal";  mso-tstyle-rowband-size:0;  mso-tstyle-colband-size:0;  mso-style-noshow:yes;  mso-style-parent:"";  mso-padding-alt:0cm 5.4pt 0cm 5.4pt;  mso-para-margin:0cm;  mso-para-margin-bottom:.0001pt;  mso-pagination:widow-orphan;  font-size:10.0pt;  font-family:"Times New Roman";  mso-ansi-language:#0400;  mso-fareast-language:#0400;  mso-bidi-language:#0400;} &lt;/style&gt; &lt;![endif]--&gt;&lt;p style="text-align: justify;" class="MsoNormal"&gt;&lt;o:smarttagtype namespaceuri="urn:schemas-microsoft-com:office:smarttags" name="City"&gt;&lt;/o:smarttagtype&gt;&lt;o:smarttagtype namespaceuri="urn:schemas-microsoft-com:office:smarttags" name="place"&gt;&lt;/o:smarttagtype&gt;&lt;!--[if gte mso 9]&gt;&lt;xml&gt;  &lt;w:worddocument&gt;   &lt;w:view&gt;Normal&lt;/w:View&gt;   &lt;w:zoom&gt;0&lt;/w:Zoom&gt;   &lt;w:punctuationkerning/&gt;   &lt;w:validateagainstschemas/&gt;   &lt;w:saveifxmlinvalid&gt;false&lt;/w:SaveIfXMLInvalid&gt;   &lt;w:ignoremixedcontent&gt;false&lt;/w:IgnoreMixedContent&gt;   &lt;w:alwaysshowplaceholdertext&gt;false&lt;/w:AlwaysShowPlaceholderText&gt;   &lt;w:compatibility&gt;    &lt;w:breakwrappedtables/&gt;    &lt;w:snaptogridincell/&gt;    &lt;w:wraptextwithpunct/&gt;    &lt;w:useasianbreakrules/&gt;    &lt;w:dontgrowautofit/&gt;   &lt;/w:Compatibility&gt;   &lt;w:browserlevel&gt;MicrosoftInternetExplorer4&lt;/w:BrowserLevel&gt;  &lt;/w:WordDocument&gt; &lt;/xml&gt;&lt;![endif]--&gt;&lt;!--[if gte mso 9]&gt;&lt;xml&gt;  &lt;w:latentstyles deflockedstate="false" latentstylecount="156"&gt;  &lt;/w:LatentStyles&gt; &lt;/xml&gt;&lt;![endif]--&gt;&lt;!--[if !mso]&gt;&lt;object classid="clsid:38481807-CA0E-42D2-BF39-B33AF135CC4D" id="ieooui"&gt;&lt;/object&gt; &lt;style&gt; st1\:*{behavior:url(#ieooui) } &lt;/style&gt; &lt;![endif]--&gt;&lt;style&gt; &lt;!--  /* Style Definitions */  p.MsoNormal, li.MsoNormal, div.MsoNormal  {mso-style-parent:"";  margin:0cm;  margin-bottom:.0001pt;  mso-pagination:widow-orphan;  font-size:12.0pt;  font-family:"Times New Roman";  mso-fareast-font-family:"Times New Roman";} @page Section1  {size:612.0pt 792.0pt;  margin:72.0pt 90.0pt 72.0pt 90.0pt;  mso-header-margin:36.0pt;  mso-footer-margin:36.0pt;  mso-paper-source:0;} div.Section1  {page:Section1;} --&gt; &lt;/style&gt;&lt;!--[if gte mso 10]&gt; &lt;style&gt;  /* Style Definitions */  table.MsoNormalTable  {mso-style-name:"Table Normal";  mso-tstyle-rowband-size:0;  mso-tstyle-colband-size:0;  mso-style-noshow:yes;  mso-style-parent:"";  mso-padding-alt:0cm 5.4pt 0cm 5.4pt;  mso-para-margin:0cm;  mso-para-margin-bottom:.0001pt;  mso-pagination:widow-orphan;  font-size:10.0pt;  font-family:"Times New Roman";  mso-ansi-language:#0400;  mso-fareast-language:#0400;  mso-bidi-language:#0400;} &lt;/style&gt; &lt;![endif]--&gt;  &lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal"&gt;Judul Buku : &lt;i&gt;Wisata Bumi Cekungan &lt;st1:city st="on"&gt;Bandung&lt;/st1:city&gt;&lt;/i&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Penulis : Budi Brahmantyo &amp;amp; T. Bachtiar&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Penerbit : Truedee Pustaka Sejati, &lt;st1:place st="on"&gt;&lt;st1:city st="on"&gt;Bandung&lt;/st1:city&gt;&lt;/st1:place&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tahun terbit : 2009, Maret&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tebal Buku : &lt;i style=""&gt;xiv, &lt;/i&gt;276 halaman&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;ISBN : 978-979-96257-5-5&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p style="text-align: justify;" class="MsoNormal"&gt;Kesadaran masyarakat &lt;st1:place st="on"&gt;&lt;st1:city st="on"&gt;Bandung&lt;/st1:city&gt;&lt;/st1:place&gt; terutama generasi mudanya pada keadaan lingkungan sekitarnya semakin meningkat. Ditandai dengan tumbuh kembangnya berbagai komunitas yang memberi perhatian pada pelestarian sejarah, budaya, maupun lingkungan tempat hidup. Saat ini mereka banyak belajar dari para pakarnya, setiap akhir pekan ada yang menelusuri gedung-gedung tua, museum, dan tempat-tempat bersejarah, komunitas lainnya mempelajari lingkungan alam sekitar &lt;st1:place st="on"&gt;&lt;st1:city st="on"&gt;Bandung&lt;/st1:city&gt;&lt;/st1:place&gt;. Mudah-mudahan kelak ketika mereka menjadi pemangku kebijakan memperlakukan Bandung Raya lebih baik lagi.&lt;/p&gt;&lt;p style="text-align: justify;" class="MsoNormal"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;" class="MsoNormal"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;" class="MsoNormal"&gt;Sudah banyak buku-buku panduan tentang &lt;st1:city st="on"&gt;Bandung&lt;/st1:city&gt; dari segi sejarah, budaya, lingkungan, bahkan panduan belanja dan kuliner &lt;st1:city st="on"&gt;kota&lt;/st1:city&gt; &lt;st1:place st="on"&gt;&lt;st1:city st="on"&gt;Bandung&lt;/st1:city&gt;&lt;/st1:place&gt;. Sebut saja misalnya Semerbak Bunga di Bandung Raya (1986) dan Jendela Bandung (2008). Pada Bulan Maret 2009 bertempat di Gedung Merdeka diluncurkan buku Wisata &lt;span style=""&gt;Bumi Cekungan Bandung. Seperti tercermin dari judul bukunya jangan harap ada panduan belanja fesyen dan kuliner di &lt;st1:place st="on"&gt;&lt;st1:city st="on"&gt;Bandung&lt;/st1:city&gt;&lt;/st1:place&gt;. Ini adalah sesuatu yang lain, geowisata atau wisata bumi.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p style="text-align: justify;" class="MsoNormal"&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style=""&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;" class="MsoNormal"&gt;&lt;span style=""&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;" class="MsoNormal"&gt;&lt;span style=""&gt;Buku ini adalah panduan geowisata bentang alam di dan seputar Cekungan Bandung. Bandung di sini berarti Bandung Raya yang meliputi wilayah administratif Kabupaten Bandung, Kota Bandung, Kota Cimahi, dan Kabupaten Bandung Barat. Keterkaitan bangun alam di daerah-daerah tersebut tidak mengenal wilayah administratif, tetapi mempunyai sejarah geologi yang panjang meskipun relatif muda dibanding umur Bumi.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p style="text-align: justify;" class="MsoNormal"&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style=""&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;" class="MsoNormal"&gt;&lt;span style=""&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;" class="MsoNormal"&gt;&lt;span style=""&gt;Dengan membaca buku ini kita dituntun membaca sejarah geologi lingkungan &lt;st1:place st="on"&gt;&lt;st1:city st="on"&gt;Bandung&lt;/st1:city&gt;&lt;/st1:place&gt; dari membaca bentang alam yang nampak sekarang. Buku diawali dengan pendahuluan sejarah singkat Cekungan Bandung, mengenai proses terbentuknya serta alam dan manusia yang mengisinya. Ketika buku ini saya perlihatkan kepada seorang sepuh Ua Bandung, beliau menangis setelah membaca fragmen Bujangga Manik menyusuri beberapa tempat di Jawa Barat dan perjalanan di kawasan Cekungan Bandung. Beliau katakan bahwa T. Bachtiar dan Budi Brahmantyo kasurupan Bujangga Manik. Dalam artian penghargaan kepada mereka berdua telah menulis fragmen Bujangga Manik. Rupanya Ua Bandung sedang meneliti Bujangga Manik apakah ada hubungannya dengan Prabu Limansenjaya yang dimakamkan di Cipancar-Limbangan. Bujangga Manik adalah tohaan (pangeran) dari Pakuan Pajajaran sekira akhir abad ke-15 atau awal abad ke-16&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;yang melakukan perjalanan keliling P. Jawa dan juga singgah di &lt;st1:place st="on"&gt;Bali&lt;/st1:place&gt;.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p style="text-align: justify;" class="MsoNormal"&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style=""&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;" class="MsoNormal"&gt;&lt;span style=""&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;" class="MsoNormal"&gt;&lt;span style=""&gt;Setelah Bagian Pendahuluan terdapat sembilan panduan jalur wisata bumi yang disebut Geotrek. Masing-masing dirancang untuk sehari perjalanan bolak-balik dari Kota Bandung (one day excursion), meliputi daerah dalam semua arah mata angin dengan berkendaraan dan juga berjalan kaki. Gambaran dari geotrek-geotrek tersebut:&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p style="text-align: justify;" class="MsoNormal"&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style=""&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;" class="MsoNormal"&gt;&lt;span style=""&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 54pt; text-indent: -54pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span style=""&gt;Geotrek 1: Perjalanan di komplek Gunung Tangkuban Parahu. Gunung yang melegenda ini merupakan anak Gunung Sunda (terbangun 300.000 tahun lalu) dan cucunya G. Jayagiri atau Gunung Pra Sunda yang terbangun antara 560.000 – 500.000 tahun yang lalu. Legenda Sangkuriang erat dengan proses terjadinya G. Tangkuban Parahu, legenda ini paling tidak sudah dikenal pada akhir abad ke-15 dari &lt;a href="http://akubacabuku.blogspot.com/2008/06/perjalanan-bujangga-manik.html"&gt;lontar Bujangga Manik&lt;/a&gt; yang tersimpan di Inggris. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 54pt; text-indent: -54pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span style=""&gt;Geotrek 2: Menyusuri Patahan Lembang dari G. Batu hingga G. Bukit Tunggul dan G. Palasari.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 54pt; text-indent: -54pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span style=""&gt;Geotrek 3: Menyusuri Sungai Ci Kapundung dari hulu di G. Bukit Tunggul hingga bermuara di Sungai Ci Tarum.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 54pt; text-indent: -54pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span style=""&gt;Geotrek 4: Perjalanan di Cekungan &lt;st1:city st="on"&gt;&lt;st1:place st="on"&gt;Bandung&lt;/st1:place&gt;&lt;/st1:city&gt; terutamma menyusuri garis pantai bekas danau sebelah utara.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 54pt; text-indent: -54pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span style=""&gt;Geotrek 5: Perjalanan ke arah selatan dari Cekungan &lt;st1:city st="on"&gt;Bandung&lt;/st1:city&gt; mulai dari G. Sadu (ada batu yang mempunyai &lt;st1:place st="on"&gt;&lt;st1:city st="on"&gt;gaya&lt;/st1:city&gt;&lt;/st1:place&gt; magnet yang kuat) hingga Situ Patengan bekas kaldera gunung api purba.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 54pt; text-indent: -54pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span style=""&gt;Geotrek 6: Menyusuri pegunungan kapur antara Padalarang – Rajamandala, sebelah barat dari Cekungan Bandung. Topik penting di antaranya penemuan kerangka manusia purba di Gua Pawon yang berumur 9.500 tahun.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 54pt; text-indent: -54pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span style=""&gt;Geotrek 7: Menyusuri daerah bekas danau &lt;st1:place st="on"&gt;&lt;st1:city st="on"&gt;Bandung&lt;/st1:city&gt;&lt;/st1:place&gt; sebelah barat (Danau Bandung kembar di timur dan barat terpisah oleh rangkaian gunung api tua) dan proses bobolnya tanggul di Pasir Kiara dan Puncak Larang.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 54pt; text-indent: -54pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span style=""&gt;Geotrek 8: Menyusuri rangkaian bekas gunung tua mulai dari Pasir Salam hingga Gunung Halu yang menjadi pematang antara kedua Danau Bandung serta proses bobolnya danau di Curug Jompong.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 54pt; text-indent: -54pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span style=""&gt;Geotrek 9: Perjalanan di bagian timur Cekungan &lt;st1:city st="on"&gt;&lt;st1:place st="on"&gt;Bandung&lt;/st1:place&gt;&lt;/st1:city&gt; mulai dari Jatinangor, Gunung Geulis, Cicalengka dan Kendan. Kemudian perjalanan dilanjutkan ke arah selatan yaitu Argasari, Ci Santi (hulu S. Citarum), Perkebunan Teh Malabar, dan G. Puntang.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 54pt; text-indent: -54pt; text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style=""&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 54pt; text-indent: -54pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span style=""&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;" class="MsoNormal"&gt;&lt;span style=""&gt;Sesungguhnya masih banyak trek-trek lain yang juga tak kalah menarik. Misalnya untuk Geotrek 9 terlalu panjang untuk dilakoni dalam sehari dan bisa dipecah menjadi dua untuk perjalanan di Cekungan Bandung sebelah timur (Geotrek 9) dan selatan (Geotrek 10). Di jalur timur kita tambahkan obyek sebelum Jatinangor misalnya &lt;a href="http://asep-bandung.blogspot.com/2009/05/curug-cilengkrang-bandung.html"&gt;Curug Ci Lengkrang&lt;/a&gt; dan Situs Batu Kuda di G. Manglayang. Kemudian di Cicalengka kita dapat mengunjungi Curug Ci Nulang.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p style="text-align: justify;" class="MsoNormal"&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style=""&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;" class="MsoNormal"&gt;&lt;span style=""&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;" class="MsoNormal"&gt;&lt;span style=""&gt;Bagi yang terlewat mengumpulkan tulisan-tulisan dari T. Bachtiar dan Budi Brahmantyo di media cetak tentang Cekungan &lt;st1:place st="on"&gt;&lt;st1:city st="on"&gt;Bandung&lt;/st1:city&gt;&lt;/st1:place&gt; mungkin bisa menemukannya dalam buku ini. Memang tidak semuanya. Dengan &lt;st1:city st="on"&gt;gaya&lt;/st1:city&gt; tulisan yang populer tidak sulit untuk dimengerti khalayak pembaca terutama pecinta &lt;st1:place st="on"&gt;&lt;st1:city st="on"&gt;Bandung&lt;/st1:city&gt;&lt;/st1:place&gt;. Buku ini dicetak dengan edili luks dan dilengkapi peta dan foto-foto berwarna menjadikan buku ini lebih hidup, warna-warni Cekungan Bandung. Saya kira dalam waktu dekat kota-kota lain akan membuat semacam buku geowisata seperti buku ini. &lt;st1:city st="on"&gt;&lt;st1:place st="on"&gt;Bandung&lt;/st1:place&gt;&lt;/st1:city&gt; tea atuh! Heueuh?&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 54pt; text-indent: -54pt;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;&lt;/p&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8983338289940995135-5908474616166700511?l=akubacabuku.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://akubacabuku.blogspot.com/feeds/5908474616166700511/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://akubacabuku.blogspot.com/2009/06/cara-lain-menikmati-bandung.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8983338289940995135/posts/default/5908474616166700511'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8983338289940995135/posts/default/5908474616166700511'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://akubacabuku.blogspot.com/2009/06/cara-lain-menikmati-bandung.html' title='Cara Lain Menikmati Bandung'/><author><name>Asep Suryana</name><uri>http://www.blogger.com/profile/10523153530100050939</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://2.bp.blogspot.com/_BhFnIsjhfKc/Syj4fG2boRI/AAAAAAAAAdQ/qaZIYaAkDMk/S220/profil.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://2.bp.blogspot.com/_BhFnIsjhfKc/Si5WBninySI/AAAAAAAAAac/IA6c1QgI2Ak/s72-c/Cekungan-bandung.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8983338289940995135.post-2549083956872222739</id><published>2009-01-28T18:59:00.011+07:00</published><updated>2009-02-16T18:16:36.110+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='gotrasawala'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Drs. Atja'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Yoseph Iskandar'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Salakanagara'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Saleh danasasmita'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Ayat Rohaedi'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Edi S. Ekadjati'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Wangsakerta'/><title type='text'>Wangsakerta Terlalu Pintar?</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://4.bp.blogspot.com/_BhFnIsjhfKc/SYBMbQysdBI/AAAAAAAAAXc/BWR1QWaoNfc/s1600-h/P_Wangsakerta.jpg"&gt;&lt;img style="margin: 0pt 0pt 10px 10px; float: right; cursor: pointer; width: 219px; height: 320px;" src="http://4.bp.blogspot.com/_BhFnIsjhfKc/SYBMbQysdBI/AAAAAAAAAXc/BWR1QWaoNfc/s320/P_Wangsakerta.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5296317193035478034" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;Judul Buku   : &lt;span style="font-style: italic;"&gt;Polemik Naskah Pangeran Wangsakerta&lt;/span&gt;&lt;em&gt;&lt;/em&gt;&lt;em&gt;&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Penyusun      :Edi S. Ekadjati&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Penerbit        : Pustaka Jaya, Jakarta&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tahun terbit : 2005, Januari&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tebal Buku   : 307 halaman&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;ISBN              : 979-419-329-1&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;o:smarttagtype namespaceuri="urn:schemas-microsoft-com:office:smarttags" name="City"&gt;&lt;/o:smarttagtype&gt;&lt;o:smarttagtype namespaceuri="urn:schemas-microsoft-com:office:smarttags" name="place"&gt;&lt;/o:smarttagtype&gt;&lt;!--[if gte mso 9]&gt;&lt;xml&gt;  &lt;w:worddocument&gt;   &lt;w:view&gt;Normal&lt;/w:View&gt;   &lt;w:zoom&gt;0&lt;/w:Zoom&gt;   &lt;w:punctuationkerning/&gt;   &lt;w:validateagainstschemas/&gt;   &lt;w:saveifxmlinvalid&gt;false&lt;/w:SaveIfXMLInvalid&gt;   &lt;w:ignoremixedcontent&gt;false&lt;/w:IgnoreMixedContent&gt;   &lt;w:alwaysshowplaceholdertext&gt;false&lt;/w:AlwaysShowPlaceholderText&gt;   &lt;w:compatibility&gt;    &lt;w:breakwrappedtables/&gt;    &lt;w:snaptogridincell/&gt;    &lt;w:wraptextwithpunct/&gt;    &lt;w:useasianbreakrules/&gt;    &lt;w:dontgrowautofit/&gt;   &lt;/w:Compatibility&gt;   &lt;w:browserlevel&gt;MicrosoftInternetExplorer4&lt;/w:BrowserLevel&gt;  &lt;/w:WordDocument&gt; &lt;/xml&gt;&lt;![endif]--&gt;&lt;!--[if gte mso 9]&gt;&lt;xml&gt;  &lt;w:latentstyles deflockedstate="false" latentstylecount="156"&gt;  &lt;/w:LatentStyles&gt; &lt;/xml&gt;&lt;![endif]--&gt;&lt;!--[if !mso]&gt;&lt;object classid="clsid:38481807-CA0E-42D2-BF39-B33AF135CC4D" id="ieooui"&gt;&lt;/object&gt; &lt;style&gt; st1\:*{behavior:url(#ieooui) } &lt;/style&gt; &lt;![endif]--&gt;&lt;style&gt; &lt;!--  /* Style Definitions */  p.MsoNormal, li.MsoNormal, div.MsoNormal  {mso-style-parent:"";  margin:0cm;  margin-bottom:.0001pt;  mso-pagination:widow-orphan;  font-size:12.0pt;  font-family:"Times New Roman";  mso-fareast-font-family:"Times New Roman";} @page Section1  {size:612.0pt 792.0pt;  margin:72.0pt 90.0pt 72.0pt 90.0pt;  mso-header-margin:36.0pt;  mso-footer-margin:36.0pt;  mso-paper-source:0;} div.Section1  {page:Section1;} --&gt; &lt;/style&gt;&lt;!--[if gte mso 10]&gt; &lt;style&gt;  /* Style Definitions */  table.MsoNormalTable  {mso-style-name:"Table Normal";  mso-tstyle-rowband-size:0;  mso-tstyle-colband-size:0;  mso-style-noshow:yes;  mso-style-parent:"";  mso-padding-alt:0cm 5.4pt 0cm 5.4pt;  mso-para-margin:0cm;  mso-para-margin-bottom:.0001pt;  mso-pagination:widow-orphan;  font-size:10.0pt;  font-family:"Times New Roman";  mso-ansi-language:#0400;  mso-fareast-language:#0400;  mso-bidi-language:#0400;} &lt;/style&gt; &lt;![endif]--&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;Kangenes:&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;i style=""&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/i&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;i style=""&gt;Sunda ngan bati nalangsa&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/i&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;i style=""&gt;Hinis nurih kana ati&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/i&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;i style=""&gt;Kangenes taya anggeusna&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/i&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;i style=""&gt;Gudawang sapapanjangna&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/i&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;i style=""&gt;Pustaka dituding palsu&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/i&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;i style=""&gt;Meureun pareum cahayana&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/i&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;i style=""&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/i&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;i style=""&gt;Sunda &lt;st1:place st="on"&gt;&lt;st1:city st="on"&gt;naha&lt;/st1:city&gt;&lt;/st1:place&gt; acan tanghi&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/i&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;i style=""&gt;Geura nyaring tina ngimpi&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/i&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;i style=""&gt;Ku naon bet kajongjonan&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/i&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;i style=""&gt;Bisina paeh nundutan&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/i&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;i style=""&gt;Pesat gobang kabuyutan&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/i&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;i style=""&gt;Tembonggkeun jatining diri&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/i&gt;&lt;/p&gt;&lt;br /&gt;&lt;o:smarttagtype namespaceuri="urn:schemas-microsoft-com:office:smarttags" name="PersonName"&gt;&lt;/o:smarttagtype&gt;&lt;o:smarttagtype namespaceuri="urn:schemas-microsoft-com:office:smarttags" name="City"&gt;&lt;/o:smarttagtype&gt;&lt;o:smarttagtype namespaceuri="urn:schemas-microsoft-com:office:smarttags" name="place"&gt;&lt;/o:smarttagtype&gt;&lt;!--[if gte mso 9]&gt;&lt;xml&gt;  &lt;w:worddocument&gt;   &lt;w:view&gt;Normal&lt;/w:View&gt;   &lt;w:zoom&gt;0&lt;/w:Zoom&gt;   &lt;w:punctuationkerning/&gt;   &lt;w:validateagainstschemas/&gt;   &lt;w:saveifxmlinvalid&gt;false&lt;/w:SaveIfXMLInvalid&gt;   &lt;w:ignoremixedcontent&gt;false&lt;/w:IgnoreMixedContent&gt;   &lt;w:alwaysshowplaceholdertext&gt;false&lt;/w:AlwaysShowPlaceholderText&gt;   &lt;w:compatibility&gt;    &lt;w:breakwrappedtables/&gt;    &lt;w:snaptogridincell/&gt;    &lt;w:wraptextwithpunct/&gt;    &lt;w:useasianbreakrules/&gt;    &lt;w:dontgrowautofit/&gt;   &lt;/w:Compatibility&gt;   &lt;w:browserlevel&gt;MicrosoftInternetExplorer4&lt;/w:BrowserLevel&gt;  &lt;/w:WordDocument&gt; &lt;/xml&gt;&lt;![endif]--&gt;&lt;!--[if gte mso 9]&gt;&lt;xml&gt;  &lt;w:latentstyles deflockedstate="false" latentstylecount="156"&gt;  &lt;/w:LatentStyles&gt; &lt;/xml&gt;&lt;![endif]--&gt;&lt;!--[if !mso]&gt;&lt;object classid="clsid:38481807-CA0E-42D2-BF39-B33AF135CC4D" id="ieooui"&gt;&lt;/object&gt; &lt;style&gt; st1\:*{behavior:url(#ieooui) } &lt;/style&gt; &lt;![endif]--&gt;&lt;style&gt; &lt;!--  /* Style Definitions */  p.MsoNormal, li.MsoNormal, div.MsoNormal  {mso-style-parent:"";  margin:0cm;  margin-bottom:.0001pt;  mso-pagination:widow-orphan;  font-size:12.0pt;  font-family:"Times New Roman";  mso-fareast-font-family:"Times New Roman";} @page Section1  {size:612.0pt 792.0pt;  margin:72.0pt 90.0pt 72.0pt 90.0pt;  mso-header-margin:36.0pt;  mso-footer-margin:36.0pt;  mso-paper-source:0;} div.Section1  {page:Section1;}  /* List Definitions */  @list l0  {mso-list-id:1514372667;  mso-list-type:hybrid;  mso-list-template-ids:-208097530 67698703 67698713 67698715 67698703 67698713 67698715 67698703 67698713 67698715;} @list l0:level1  {mso-level-tab-stop:36.0pt;  mso-level-number-position:left;  text-indent:-18.0pt;} ol  {margin-bottom:0cm;} ul  {margin-bottom:0cm;} --&gt; &lt;/style&gt;&lt;!--[if gte mso 10]&gt; &lt;style&gt;  /* Style Definitions */  table.MsoNormalTable  {mso-style-name:"Table Normal";  mso-tstyle-rowband-size:0;  mso-tstyle-colband-size:0;  mso-style-noshow:yes;  mso-style-parent:"";  mso-padding-alt:0cm 5.4pt 0cm 5.4pt;  mso-para-margin:0cm;  mso-para-margin-bottom:.0001pt;  mso-pagination:widow-orphan;  font-size:10.0pt;  font-family:"Times New Roman";  mso-ansi-language:#0400;  mso-fareast-language:#0400;  mso-bidi-language:#0400;} &lt;/style&gt; &lt;![endif]--&gt;(Karya &lt;st1:personname st="on"&gt;Yoseph&lt;/st1:personname&gt; Iskandar, hal. 220, bagian dari Tembang Cianjuran yang dipertunjukan pada waktu luang “Gotrasawala Pengkajian Naskah-naskah Kuna Jawa Barat” di Universitas Pasundan, Bandung 23 Desember 1989.&lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;Atas informasi dari gurunya Prof. Dr. Ng. Poerbatjaraka awal tahun 1960-an, Drs. Atja menelusuri keberadaan naskah-naskah &lt;st1:city st="on"&gt;&lt;st1:place st="on"&gt;Cirebon&lt;/st1:place&gt;&lt;/st1:city&gt; pada awal tahun 1970-an. Apalagi Drs. Atja sedang mempersiapkan Museum Negeri Jawa Barat (kini Museum Sri Baduga) yang kemudian dipimpinnya beliau&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;mencari bahan untuk koleksi museum. Dengan bantuan beberapa kolega dan dilakukan secara diam-diam untuk menghindari pemburu barang antik terutama dari luar negeri, maka akhirnya terkumpul naskah-naskah Pangeran Wangsakerta.&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;Siapakah Pangeran Wangsakerta? Jika dirunut dari Sunan Gunung Jati beliau adalah keturunan keenam, putra Panembahan Girilaya. Kedua kakaknya adalah Sultan Sepuh dan Sultan Anom. Nama beliau tercatat dalam perjanjian antara &lt;st1:place st="on"&gt;&lt;st1:city st="on"&gt;Cirebon&lt;/st1:city&gt;&lt;/st1:place&gt; dengan Kompeni tertanggal 7 Januari 1681. Dalam catatan harian Kompeni (&lt;i style=""&gt;Dagh Register&lt;/i&gt;) Pangeran Wangsakerta tercatat sebagai keluarga Keraton Cirebon yang lembut, cerdas dan mempunyai kemampuan memimpin.&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;Pada tahun 1677 di Keraton Kasepuhan diadakan &lt;i style=""&gt;gotrasawala&lt;/i&gt; semacam musyawarah atau seminar jaman sekarang ini. Tujuannya untuk menyusun sejarah kerajaan-kerajaan di Nusantara. Yang diundang adalah para ahli sejarah dari berbagai kerajaaan di Nusantara, bahkan ada perwakilan dari Trengganu, Malaka (&lt;st1:place st="on"&gt;&lt;st1:country-region st="on"&gt;Malaysia&lt;/st1:country-region&gt;&lt;/st1:place&gt; sekarang) dan Tumasik (Singapura). Juga dilengkapi penasihat ulama Islam dari Arab dan ulama Siwa dari &lt;st1:country-region st="on"&gt;&lt;st1:place st="on"&gt;India&lt;/st1:place&gt;&lt;/st1:country-region&gt;. Tidak hanya itu bahkan ada utusan dari negri-negri lain sebagai peninjau dan tidak mempunyai hak suara seperti dari Mesir, &lt;st1:city st="on"&gt;Arab&lt;/st1:city&gt;, &lt;st1:country-region st="on"&gt;India&lt;/st1:country-region&gt; , Srilangka, Benggala, Campa, Cina, dan Ujung Mendini (Semenanjung &lt;st1:place st="on"&gt;&lt;st1:country-region st="on"&gt;Malaysia&lt;/st1:country-region&gt;&lt;/st1:place&gt;). Penulisan sejarah ini merupakan amanat dari mendiang Panembahan Girilaya. Sebagai penanggung jawab/tuan rumah adalah Sultan Sepuh dan Sultan Anom, sedangkan ketua penulisan naskah adalah Pangeran Wangsakerta.&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;Untuk menuliskan hasil dari &lt;i style=""&gt;gotrasawala&lt;/i&gt; itu membutuhkan waktu 22 tahun (1677-&lt;span style="" lang="IN"&gt;1698&lt;/span&gt;) dan hasilnya sbb.: &lt;/p&gt;  &lt;ol style="margin-top: 0cm;" start="1" type="1"&gt;&lt;li class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;i style=""&gt;Pustaka      Rajyarajya I Bhumi Nusantara&lt;/i&gt;, dibagi ke dalam 5 &lt;i style=""&gt;parwa&lt;/i&gt; (bagian) dan berjumlah 25 &lt;i style=""&gt;sarga&lt;/i&gt; (jilid),&lt;/li&gt;&lt;li class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;i style=""&gt;Pustaka      Pararatwan&lt;/i&gt;, dibagai ke dalam 6 &lt;i style=""&gt;parwa&lt;/i&gt;      dan berjumlah 10 jilid,&lt;/li&gt;&lt;li class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;i style=""&gt;Pusataka      Nagarakretabhumi &lt;/i&gt;&lt;span style=""&gt; &lt;/span&gt;berjumlah 12      jilid.&lt;/li&gt;&lt;/ol&gt;&lt;br /&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;Tebal jilid (naskah) bervariasi antara 100 sampai 250 halaman dan tiap halaman terdapat 21 sampai 23 baris ditulis dalam &lt;i style=""&gt;aksara Jawa-Cirebon&lt;/i&gt; di atas kertas daluang. Berbeda dengan naskah-naskah sejaman dan sebelumnya naskah-naskah ini rasional tidak bersifat legenda atau berupa mitologi. Layaknya sebuah hasil penelitian pada &lt;i style=""&gt;Pustaka Rajyarajya I Bhumi Nusantara &lt;/i&gt;parwa 5 sarga 5 terdapat katalog/daftar pustaka sebanyak 1703 yang pernah ada dan atau ditulis di Keraton Cirebon (hal. 17).&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;Buku Polemik Naskah Pangeran Wangsakerta disusun dengan cermat dan berusaha menghindari pengulangan. Pemilihan makalah berjudul “Pangeran Wangsakerta Sebagai Sejarawan Abad Ke-17” oleh Drs. Saleh Danasasmita sebagai pembuka adalah tepat sekali. Makalah ini disajikan pada Seminar Kebudayaan Sunda tanggal 9-11 Maret 1989 di Lembang. Jika kita ingin mengetahui inti sari apa yang dihasilkan &lt;i style=""&gt;gotrasawala&lt;/i&gt; pada tahun 1677 terdapat dalam makalah ini (hal. 11-42). Jika kita belajar sejarah Jawa Barat di sekolah maka periode dimulai dengan Kerajaan Tarumanagara (abad ke-5 M) dan rajanya yang terkenal Purnawarman, tetapi dalam Naskah Wangsakerta dimulai dengan Kerajaan Salakanagara tahun 130 M dengan rajanya  yang pertama  Dewawarman (130-168). Selain urutan Raja-raja di Jawa Barat secara lengkap dalam makalah ini disajikan pula lampiran Daftar Raja di Jawa Tengah, Jawa Timur dan Sriwijaya menurut Naskah Pangeran Wangsakerta.&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;Bagian selanjutnya setelah makalah dari Drs. Saleh Danasasmita adalah makalah yang dikemukakan dalam Diskusi Panel Naskah Sumber Sejarah Kerajaan Tarumanagara. Penyelengggaranya Universitas Tarumanagara di Jakarta tanggal 16 September 1988. Penyaji adalah Drs. Atja dan Dr. Ayatrohaedi, sedangkan pembahas di antaranya Drs. Boechari, Prof. Dr. R. Soekmono, Prof. Dr. R.P. Soejono, Dr. J. Noorduyn, dan Drs. Uka Tjandrasasmita. Rumusan diskusi terdapat di hal. 102, tentu saja isinya normatif dan sopan, “Sampai saat ini naskah-naskah tersebut masih belum dapat dinyatakan sebagai sumber primer untuk penulisan sejarah”. Tentu di ruang diskusi kritikan dari para ahli sangat pedas.&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;Setelah Diskusi Panel di Universitas Tarumanagara di beberapa media cetak timbul polemik mengenai naskah-naskah Pangeran Wangsakerta ini. Tuduhan palsu atau skandal ilmiah merebak. &lt;st1:place st="on"&gt;&lt;st1:city st="on"&gt;Ada&lt;/st1:city&gt;&lt;/st1:place&gt; yang meragukan kertas daluang yang digunakan bukan berasal dari abad ke-17, tetapi sesudahnya. Drs. Boechari dalam tulisannya di Suara Pembaharuan 9 Desember 1988 yang juga pembahas dalam Diskusi Panel seorang arkeolog dan ahli epigrafi berpendapat naskah-naskah Pangeran Wangsakerta ditulis setelah tahun 1960 dan tidak perlu diteliti lagi. Antara yang pro dan kontra bahkan menyentuh hal-hal pribadi lawan polemiknya. &lt;st1:place st="on"&gt;&lt;st1:city st="on"&gt;Ada&lt;/st1:city&gt;&lt;/st1:place&gt; pula yang meragukan bentuk aksaranya yang sengaja dikuno-kunokan. Hal ini dibantah ahli filologi Dr. Edi S. Ekajati, sebuah naskah kuno bisa saja merupakan reproduksi dari naskah aslinya, karena naskah aslinya rusak dan ini dapat saja dilakukan puluhan tahun atau ratusan tahun kemudian.&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;Di lain pihak ada yang merasa ragu, apakah orang orang Nusantara abad ke-17 sudah mampu membuat karya tulis yang mirip metodenya dengan yang digunakan pada penelitian ilmiah sekarang ini?.. Selain itu keraguan muncul mengapa pihak Kompeni tidak mencatat pada &lt;i style=""&gt;Dagh Register&lt;/i&gt; mereka tentang berkumpulnya banyak orang dari berbagai negeri di &lt;st1:place st="on"&gt;&lt;st1:city st="on"&gt;Cirebon&lt;/st1:city&gt;&lt;/st1:place&gt;.&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;Bagi orang Jawa Barat naskah-naskah Pangeran Wangsakerta menyajikan sejarah secara lengkap, betapa tidak yang dahulunya perpindahan dari kerajaan satu ke kerajaan lainnya atau urutan raja-raja seperti terputus kini utuh. Bahkan &lt;st1:personname st="on"&gt;Yoseph&lt;/st1:personname&gt; Iskandar berani menyusun buku Sejarah Jawa Barat (1997) berdasarkan naskah-naskah ini, meskipun belum dianggap sumber primer. Drs. Atja, Drs. Saleh Danasasmita, &lt;st1:street st="on"&gt;&lt;st1:address st="on"&gt;Prof. Dr&lt;/st1:address&gt;&lt;/st1:street&gt;. Ayat Rohaedi, Prof. Dr. Edi S. Ekadjati, dan Drs. &lt;st1:personname st="on"&gt;Yoseph&lt;/st1:personname&gt; Iskandar &lt;span style=""&gt; &lt;/span&gt;&lt;span style=""&gt; &lt;/span&gt;yang telah mengangkat naskah-naskah Pangeran Wangsakerta ke forum nasional dan publik semuanya telah meninggal dunia. Apakah naskah-naskah Pangeran Wangsakerta itu Palsu? Atau benar adanya? Ataukah nasibnya akan menggantung? Siapa lagi yang akan meneruskan penelitian? &lt;span style=""&gt; &lt;/span&gt;****&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;i style=""&gt;Pun sapun para luluhur&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/i&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;i style=""&gt;Panata sa-Nusantara&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/i&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;i style=""&gt;Kula amit seja miang&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/i&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;i style=""&gt;Ngotektak naluktik bukti&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/i&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;i style=""&gt;Mustika nu masih samar&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/i&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;i style=""&gt;Nya Pusataka Wangsakerta&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/i&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;i style=""&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/i&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;(Karya &lt;st1:personname st="on"&gt;Yoseph&lt;/st1:personname&gt; Iskandar, hal. 222, bagian dari Tembang Cianjuran yang dipertunjukan pada waktu luang “Gotrasawala Pengkajian Naskah-naskah Kuna Jawa Barat” di Universitas Pasundan, Bandung 23 Desember 1989.&lt;/p&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8983338289940995135-2549083956872222739?l=akubacabuku.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://akubacabuku.blogspot.com/feeds/2549083956872222739/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://akubacabuku.blogspot.com/2009/01/wangsakerta-terlalu-pintar.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8983338289940995135/posts/default/2549083956872222739'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8983338289940995135/posts/default/2549083956872222739'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://akubacabuku.blogspot.com/2009/01/wangsakerta-terlalu-pintar.html' title='Wangsakerta Terlalu Pintar?'/><author><name>Asep Suryana</name><uri>http://www.blogger.com/profile/10523153530100050939</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://2.bp.blogspot.com/_BhFnIsjhfKc/Syj4fG2boRI/AAAAAAAAAdQ/qaZIYaAkDMk/S220/profil.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://4.bp.blogspot.com/_BhFnIsjhfKc/SYBMbQysdBI/AAAAAAAAAXc/BWR1QWaoNfc/s72-c/P_Wangsakerta.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8983338289940995135.post-932795645196205111</id><published>2008-10-22T18:35:00.017+07:00</published><updated>2010-05-25T10:36:34.999+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Resimen III TKR/TRI Sukabumi'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Bojong Kokosan'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='NICA'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Cianjur'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='TRI'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Soekabumi'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='APWI'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Eddie Soekardi'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='AFNEI'/><title type='text'>Palagan Sukabumi - Cianjur</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://1.bp.blogspot.com/_BhFnIsjhfKc/SP8TV9282lI/AAAAAAAAAN4/jmX0g1-JQro/s1600-h/bjkokosan1.jpg"&gt;&lt;img style="margin: 0pt 0pt 10px 10px; float: right; cursor: pointer;" src="http://1.bp.blogspot.com/_BhFnIsjhfKc/SP8TV9282lI/AAAAAAAAAN4/jmX0g1-JQro/s320/bjkokosan1.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5259944157895252562" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;span lang="IN"&gt;Judul Buku&lt;span style=""&gt;      &lt;/span&gt;: Pertempuran Konvoy Sukabumi-Cianjur 1945-1946&lt;i style=""&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/i&gt;&lt;/span&gt;  &lt;p class="MsoBodyText"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;Penyusun   :&lt;span style=""&gt;&lt;/span&gt; Yoseph Iskandar, Dedi Kusnadi, dan Jajang Suryani&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 200%;"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;Penerbit    &lt;span style=""&gt;          &lt;/span&gt;: Sukardi LTD, PT - Jakarta&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 200%;"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;Tahun terbit&lt;span style=""&gt;     &lt;/span&gt;: 1997, Cetakan pertam&lt;/span&gt;&lt;span lang="IN"&gt;a&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 200%;"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;Tebal Buku &lt;span style=""&gt;     &lt;/span&gt;: 418 halaman&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 200%;"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 200%;"&gt;&lt;span  lang="IN" style="font-size:100%;"&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;span style="font-style: italic; color: rgb(51, 51, 255);"&gt;Bleg bumi, bleg langit&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic; color: rgb(51, 51, 255);"&gt;Baginda pangeling-ngeling&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic; color: rgb(51, 51, 255);"&gt;Baya-baya na ku aya&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic; color: rgb(51, 51, 255);"&gt;Da jalmana ge teu aya&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic; color: rgb(51, 51, 255);"&gt;Anging Allah nu aya&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color: rgb(51, 51, 51);"&gt;(Pepatah ayahanda R. Didi Soekardi kepada Eddie Soekardi)&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 200%;"&gt;&lt;o:smarttagtype namespaceuri="urn:schemas-microsoft-com:office:smarttags" name="country-region"&gt;&lt;/o:smarttagtype&gt;&lt;o:smarttagtype namespaceuri="urn:schemas-microsoft-com:office:smarttags" name="date"&gt;&lt;/o:smarttagtype&gt;&lt;o:smarttagtype namespaceuri="urn:schemas-microsoft-com:office:smarttags" name="City"&gt;&lt;/o:smarttagtype&gt;&lt;o:smarttagtype namespaceuri="urn:schemas-microsoft-com:office:smarttags" name="place"&gt;&lt;/o:smarttagtype&gt;&lt;!--[if gte mso 9]&gt;&lt;xml&gt;  &lt;w:worddocument&gt;   &lt;w:view&gt;Normal&lt;/w:View&gt;   &lt;w:zoom&gt;0&lt;/w:Zoom&gt;   &lt;w:punctuationkerning/&gt;   &lt;w:validateagainstschemas/&gt;   &lt;w:saveifxmlinvalid&gt;false&lt;/w:SaveIfXMLInvalid&gt;   &lt;w:ignoremixedcontent&gt;false&lt;/w:IgnoreMixedContent&gt;   &lt;w:alwaysshowplaceholdertext&gt;false&lt;/w:AlwaysShowPlaceholderText&gt;   &lt;w:compatibility&gt;    &lt;w:breakwrappedtables/&gt;    &lt;w:snaptogridincell/&gt;    &lt;w:wraptextwithpunct/&gt;    &lt;w:useasianbreakrules/&gt;    &lt;w:dontgrowautofit/&gt;    &lt;w:usefelayout/&gt;   &lt;/w:Compatibility&gt;   &lt;w:browserlevel&gt;MicrosoftInternetExplorer4&lt;/w:BrowserLevel&gt;  &lt;/w:WordDocument&gt; &lt;/xml&gt;&lt;![endif]--&gt;&lt;!--[if gte mso 9]&gt;&lt;xml&gt;  &lt;w:latentstyles deflockedstate="false" latentstylecount="156"&gt;  &lt;/w:LatentStyles&gt; &lt;/xml&gt;&lt;![endif]--&gt;&lt;!--[if !mso]&gt;&lt;object classid="clsid:38481807-CA0E-42D2-BF39-B33AF135CC4D" id="ieooui"&gt;&lt;/object&gt; &lt;style&gt; st1\:*{behavior:url(#ieooui) } &lt;/style&gt; &lt;![endif]--&gt;&lt;style&gt; &lt;!--  /* Style Definitions */  p.MsoNormal, li.MsoNormal, div.MsoNormal  {mso-style-parent:"";  margin:0cm;  margin-bottom:.0001pt;  mso-pagination:widow-orphan;  font-size:12.0pt;  font-family:"Times New Roman";  mso-fareast-font-family:"Times New Roman";  mso-fareast-language:EN-US;} @page Section1  {size:612.0pt 792.0pt;  margin:72.0pt 90.0pt 72.0pt 90.0pt;  mso-header-margin:36.0pt;  mso-footer-margin:36.0pt;  mso-paper-source:0;} div.Section1  {page:Section1;} --&gt; &lt;/style&gt;&lt;!--[if gte mso 10]&gt; &lt;style&gt;  /* Style Definitions */  table.MsoNormalTable  {mso-style-name:"Table Normal";  mso-tstyle-rowband-size:0;  mso-tstyle-colband-size:0;  mso-style-noshow:yes;  mso-style-parent:"";  mso-padding-alt:0cm 5.4pt 0cm 5.4pt;  mso-para-margin:0cm;  mso-para-margin-bottom:.0001pt;  mso-pagination:widow-orphan;  font-size:10.0pt;  font-family:"Times New Roman";  mso-fareast-font-family:"Times New Roman";  mso-ansi-language:#0400;  mso-fareast-language:#0400;  mso-bidi-language:#0400;} &lt;/style&gt; &lt;![endif]--&gt;  &lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;&lt;o:smarttagtype namespaceuri="urn:schemas-microsoft-com:office:smarttags" name="country-region"&gt;&lt;/o:smarttagtype&gt;&lt;o:smarttagtype namespaceuri="urn:schemas-microsoft-com:office:smarttags" name="date"&gt;&lt;/o:smarttagtype&gt;&lt;o:smarttagtype namespaceuri="urn:schemas-microsoft-com:office:smarttags" name="City"&gt;&lt;/o:smarttagtype&gt;&lt;o:smarttagtype namespaceuri="urn:schemas-microsoft-com:office:smarttags" name="place"&gt;&lt;/o:smarttagtype&gt;&lt;o:smarttagtype namespaceuri="urn:schemas-microsoft-com:office:smarttags" name="PlaceName"&gt;&lt;/o:smarttagtype&gt;&lt;o:smarttagtype namespaceuri="urn:schemas-microsoft-com:office:smarttags" name="PlaceType"&gt;&lt;/o:smarttagtype&gt;&lt;!--[if gte mso 9]&gt;&lt;xml&gt;  &lt;w:worddocument&gt;   &lt;w:view&gt;Normal&lt;/w:View&gt;   &lt;w:zoom&gt;0&lt;/w:Zoom&gt;   &lt;w:punctuationkerning/&gt;   &lt;w:validateagainstschemas/&gt;   &lt;w:saveifxmlinvalid&gt;false&lt;/w:SaveIfXMLInvalid&gt;   &lt;w:ignoremixedcontent&gt;false&lt;/w:IgnoreMixedContent&gt;   &lt;w:alwaysshowplaceholdertext&gt;false&lt;/w:AlwaysShowPlaceholderText&gt;   &lt;w:compatibility&gt;    &lt;w:breakwrappedtables/&gt;    &lt;w:snaptogridincell/&gt;    &lt;w:wraptextwithpunct/&gt;    &lt;w:useasianbreakrules/&gt;    &lt;w:dontgrowautofit/&gt;   &lt;/w:Compatibility&gt;   &lt;w:browserlevel&gt;MicrosoftInternetExplorer4&lt;/w:BrowserLevel&gt;  &lt;/w:WordDocument&gt; &lt;/xml&gt;&lt;![endif]--&gt;&lt;!--[if gte mso 9]&gt;&lt;xml&gt;  &lt;w:latentstyles deflockedstate="false" latentstylecount="156"&gt;  &lt;/w:LatentStyles&gt; &lt;/xml&gt;&lt;![endif]--&gt;&lt;!--[if !mso]&gt;&lt;object classid="clsid:38481807-CA0E-42D2-BF39-B33AF135CC4D" id="ieooui"&gt;&lt;/object&gt; &lt;style&gt; st1\:*{behavior:url(#ieooui) } &lt;/style&gt; &lt;![endif]--&gt;&lt;style&gt; &lt;!--  /* Style Definitions */  p.MsoNormal, li.MsoNormal, div.MsoNormal  {mso-style-parent:"";  margin:0cm;  margin-bottom:.0001pt;  mso-pagination:widow-orphan;  font-size:12.0pt;  font-family:"Times New Roman";  mso-fareast-font-family:"Times New Roman";} @page Section1  {size:612.0pt 792.0pt;  margin:72.0pt 90.0pt 72.0pt 90.0pt;  mso-header-margin:36.0pt;  mso-footer-margin:36.0pt;  mso-paper-source:0;} div.Section1  {page:Section1;} --&gt; &lt;/style&gt;&lt;!--[if gte mso 10]&gt; &lt;style&gt;  /* Style Definitions */  table.MsoNormalTable  {mso-style-name:"Table Normal";  mso-tstyle-rowband-size:0;  mso-tstyle-colband-size:0;  mso-style-noshow:yes;  mso-style-parent:"";  mso-padding-alt:0cm 5.4pt 0cm 5.4pt;  mso-para-margin:0cm;  mso-para-margin-bottom:.0001pt;  mso-pagination:widow-orphan;  font-size:10.0pt;  font-family:"Times New Roman";  mso-ansi-language:#0400;  mso-fareast-language:#0400;  mso-bidi-language:#0400;} &lt;/style&gt; &lt;![endif]--&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;Seandainya Eddie Soekardi dan adiknya Harry Soekardi tidak diculik Kempetai dari rumah kediamannya di Gang Ijan Bandung untuk dijadikan tentara PETA (Pembela Tanah Air), mungkin pimpinan penyerangan konvoi di Sukabumi-Cianjur bukanlah mereka. Mereka dikirim ke &lt;st1:place st="on"&gt;&lt;st1:city st="on"&gt;Bogor&lt;/st1:city&gt;&lt;/st1:place&gt; untuk digembleng menjadi calon perwira PETA. Ide pembentukan PETA sendiri berdasarkan perundingan rahasia antara Otto Iskandar Dinata, Iyos Wiriaatmaja, dan R. Gatot Mangkupraja. Mereka berpikiran jauh ke depan bahwa bangsa &lt;st1:place st="on"&gt;&lt;st1:country-region st="on"&gt;Indonesia&lt;/st1:country-region&gt;&lt;/st1:place&gt; memerlukan kader-kader militer kelak. Pada tanggal &lt;st1:date year="1943" day="7" month="9" st="on"&gt;7  September 1943&lt;/st1:date&gt; Gatot Mangkupradja mengirim &lt;st1:city st="on"&gt;surat&lt;/st1:city&gt; kepada penguasa militer Jepang agar bangsa &lt;st1:place st="on"&gt;&lt;st1:country-region st="on"&gt;Indonesia&lt;/st1:country-region&gt;&lt;/st1:place&gt; diperkenankan membantu Jepang di garis depan. Kemudian pada tanggal 3 Oktober 1943 Letnan Jenderal Kumakici Harada memaklumkan pembentukan PETA (hal 36).&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;Peristiwa penghadangan konvoy sekutu di jalur Sukabumi-Cianjur tahun 1945-1946 ini disebut dengan berbagai sebutan. &lt;st1:place st="on"&gt;&lt;st1:city st="on"&gt;Ada&lt;/st1:city&gt;&lt;/st1:place&gt; yang menyebut Perang Bojongkokosan, Palagan Bojongkokosan, Peristiwa Bojongkokosan, atau lebih menyeluruh seperti judul buku yang dibahas. Simpang siurnya penyebutan resmi mungkin diakibatkan “terlupakannya” peristiwa besar ini dalam buku atau catatan Sejarah Indonesia berbeda misalnya dengan penyebutan resmi seperti Palagan Ambarawa, Bandung Lautan Api, atau Peristiwa 10 Nopember 1945 di Surabaya. Saya setuju dengan judul buku, karena pertempuran terjadi dua kali yaitu 9-12 Desember 1945 dan 10-14 Maret 1946 keduanya di jalur Sukabumi-Cianjur. Bojongkokosan hanyalah salah satu tempat peristiwa yang terletak di sebelah barat laut dari &lt;st1:place st="on"&gt;&lt;st1:city st="on"&gt;kota&lt;/st1:city&gt;&lt;/st1:place&gt; Sukabumi. Tidak bisa dikesampingkan peran besar Batalyon III Resimen TKR (Tentara Keamanan Rakyat) &lt;span style=""&gt; &lt;/span&gt;Sukabumi yang berkedudukan di Cianjur.&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;Buku ini disusun dengan tujuan agar sumbangan ikhlas penduduk Sukabumi dan Cianjur pada tahun 1945-1946 diketahui, dihayati serta dimanfaatkan sebagai salah satu sumber dalam melaksanakan Pembangunan Karakter Bangsa dan Negara &lt;st1:place st="on"&gt;&lt;st1:country-region st="on"&gt;Indonesia&lt;/st1:country-region&gt;&lt;/st1:place&gt;. Nara sumber utama adalah R.H. Eddie Soekardi mantan Komandan Resimen III TKR/TRI Sukabumi, R.H. Harry Soekardi mantan Komandan Batalyon II TKR/TRI Sukabumi, dan H. Anwar Padmawijaya mantan Komandan Batalyon III&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;TKR/TRI Cianjur. &lt;st1:place st="on"&gt;&lt;st1:city st="on"&gt;Nara&lt;/st1:city&gt;&lt;/st1:place&gt; sumber pendukung adalah para veteran Pejuang Angkatan 1945 Sukabumi dan Cianjur.&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;Agar bisa dipahami secara menyeluruh maka buku yang terdiri dari enam bab ini didahului dengan sepak terjang Jepang dalam Perang Dunia II (Bab I), kemudian dibahas mengenai sepak terjang Sekutu dalam PD II serta misi yang diemban sebagai pemenang perang (Bab II). Bab III berisi tentang Misi Internasional yang diemban TRI dalam pengangkutan tentara Jepang dan APWI ( Allied Prisoners of War and Internees).&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;Inti buku ini terdapat dalam Bab IV yaitu pertempuran pertama 9-12 Desember 1945 serta Bab V mengenai pertempuran kedua 10-14 Maret 1946. Bab VI merupakan epilog dan berisi rangkuman serta kesimpulan. Adapun lampiran merupakan bagian penunjang yang sangat penting di antaranya berupa foto-foto dokumentasi serta napak tilas lokasi pertempuran. Saya ingin secara khusus menyampaikan ringkasan kedua pertempuran hebat tersebut.&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;b style=""&gt;&lt;br /&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;b style=""&gt;Perang Konvoi Pertama&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;b style=""&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;Tentara Inggris salah satu negara pemenang PD II mengemban misi internasional sekutu yaitu: perlucutan dan pemulangan tentara Jepang, serta pengiriman perbekalan dan&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;pemulangan APWI. Khusus mengenai urusan di bekas Hindia Belanda mereka membentuk AFNEI (Allied Forces Netherlands East Indies). Celakanya mereka terbebani oleh Civil Affairs Agreement yang ditandatangani Belanda dan Inggris tanggal 24 Agustus 1945 yang intinya “Pemerintah Inggris akan membantu mengembalikan kekuasaan Belanda atas wilayah Hindia Belanda”. Ini bertentangan dengan Atlantic Charter (&lt;st1:date year="1941" day="14" month="8" st="on"&gt;14-08-1941&lt;/st1:date&gt;) yang ditandatangani Inggris “Bahwa setiap bangsa berhak menentukan nasib sendiri”. Pada tanggal 29 September 1945 bersamaan dengan kedatangan Panglima Skadron Penjelajah V Inggris Laksamana Muda W.R. Patterson turut pula Ch. O. van Der Plas, Wakil Kepala NICA (Netherlands Indies Civil Administration) untuk membentuk Pemerintahan Sipil Hindia Belanda.&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;Hilir mudiknya konvoi sekutu Jakarta-Bandung yang melewati Sukabumi tidak menghiraukan kesatuan-kesatuan TKR di wilayah yang dilewati. Padahal misi AFNEI sesuai kesepakatan harus melibatkan TKR. Akhirnya TKR Resimen III Sukabumi di bawah Letkol Soekardi waktu itu masih 29 tahun ingin memberi pelajaran kepada Sekutu. Dilakukanlah herdislokasi empat Batalyon. Batalyon I pimpinan Mayor Yahya B. Rangkuti bersiaga di Jalan raya Ciawi-Cigombong-Cibadak (18 km) sebagai pemukul pertama. Pemukul kedua adalah Batalyon II pimpinan Mayor Harry Soekardi bersiap mulai dari Cibadak hingga Sukabumi bagian barat (18 km). Sedangakan Batalyon IV pimpinan Mayor Abdulrachman ditempatkan di jalan raya Sukabumi bagian timur hingga Gekbrong (15 km). Adapaun Batalyon III pimpinan Kapten Anwar berjaga mulai Gekbrong hingga Ciranjang Cianjur (30km). Dengan kekuatan l.k. 3000 personil dibantu laskar perjuangan dan rakyat mereka bersiaga menunggu konvoi Sekutu yang datang dari arah &lt;st1:place st="on"&gt;&lt;st1:city st="on"&gt;Jakarta&lt;/st1:city&gt;&lt;/st1:place&gt;.&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;Konvoi perbekalan APWI yang dikawal Batalyon 5/9 Jats (Satuan tentara Inggris yang berasal dari Punjab-India) terdiri dari 150 truk yang dikawal Tank Sherman, Panser Wagon dan Brencarrier tanggal 9 Desember 1945 sore memasuki Cicurug. Kepala konvoi mendapat serangan pertama di Bojongkokosan di antara dua tebing, sedangkan ekor konvoi berada di Cicurug mendapat serangan kemudian setelah timbul kepanikan. Akibat penyergapan tersebut keesokan harinya tanggal 10 Desember pagi-pagi RAF memborbardir Cibadak untuk balas dendam. Bombardemen berlangsung hingga pukul 16.00. Dalam buku &lt;i style=""&gt;The Fighting Cock&lt;/i&gt; &lt;span style=""&gt; &lt;/span&gt;(Doulton, 1951) disebutkan bahwa ini merupakan serangan udara paling dahsyat dalam “perang” di Pulau Jawa. Adapun Batalyon Jats yang tersisa menyatukan diri dan beristirahat di tengah &lt;st1:place st="on"&gt;&lt;st1:city st="on"&gt;kota&lt;/st1:city&gt;&lt;/st1:place&gt; Sukabumi.&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;Pada tanggal 11 Desember 1945 Markas Sekutu di Cimahi mengirim balabantuan&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;Batalyon 3/3 Gurkha Rifles. Tetapi pasukan ini dihadang Batalyon III di sepanjang Jalan Raya Cianjur yang menggunakan taktik “&lt;i style=""&gt;Hit and Run&lt;/i&gt;” dengan disiplin tinggi. Meskipun Batalyon Gurkha Rifle dan Jats dapat bergabung pada malam harinya di &lt;st1:city st="on"&gt;kota&lt;/st1:city&gt; Sukabumi, mereka memohon untuk dapat melanjutkan perjalanan ke &lt;st1:place st="on"&gt;&lt;st1:city st="on"&gt;Bandung&lt;/st1:city&gt;&lt;/st1:place&gt; dan tidak diganggu. Akibat peristiwa ini Pemerintah Inggris mendapat kecaman dari berbagai pihak. Akhirnya AFNEI ingin melibatkan TKR untuk mengemban misi internasionalnya. Ini artinya pengakuan terhadap kesatuan TKR dan kedaulatan RI.&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;b style=""&gt;&lt;br /&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;b style=""&gt;Perang Konvoi Kedua&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;b style=""&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;Tidak senang dengan keberhasilan diplomasi RI dengan Sekutu, NICA membujuk AFNEI agar memindahkan pusat kekuatan militernya ke &lt;st1:place st="on"&gt;&lt;st1:city st="on"&gt;Bandung&lt;/st1:city&gt;&lt;/st1:place&gt;. Sebelum &lt;st1:country-region st="on"&gt;Indonesia&lt;/st1:country-region&gt; merdeka Belanda telah memindahkan Kementrian Peperangan (DVO) dan markas tentaranya ke &lt;st1:city st="on"&gt;Bandung&lt;/st1:city&gt;, bahkan &lt;st1:place st="on"&gt;&lt;st1:city st="on"&gt;Bandung&lt;/st1:city&gt;&lt;/st1:place&gt; telah dipersiapkan untuk Pusat Pemerintahan Hindia Belanda. Dalam pikiran mereka untuk menguasai &lt;st1:country-region st="on"&gt;Indonesia&lt;/st1:country-region&gt;, maka harus dikuasai dahulu Jawa Barat terutama &lt;st1:place st="on"&gt;&lt;st1:city st="on"&gt;Bandung&lt;/st1:city&gt;&lt;/st1:place&gt;. AFNEI terbujuk bahkan membiarkan pendaratan besar-besaran tentara Belanda di Tanjung Priuk.&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;Resimen III TRI Sukabumi kembali ditugaskan menggagalkan rencana AFNEI. Sekutu kembali menggunakan jalur Sukabumi-Bandung, mereka menduga atau mungkin&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;menganggap remeh jalur ini sudah “bersih dan aman”. Tetapi tanggal 10 Maret 1946 Konvoy Tentara Sekutu dari Batalyon Patiala (tentara sewaan berasal dari suku &lt;st1:city st="on"&gt;Patiala&lt;/st1:city&gt;&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;&lt;st1:place st="on"&gt;&lt;st1:country-region st="on"&gt;India&lt;/st1:country-region&gt;&lt;/st1:place&gt;) sore hari tepat di jalan raya Cipelang mereka mendapat serangan dari Batalyon II Resimen III TRI Sukabumi. Bagian ekor konvoi dihajar oleh Batalyon I. Ketika memasuki &lt;st1:place st="on"&gt;&lt;st1:city st="on"&gt;kota&lt;/st1:city&gt;&lt;/st1:place&gt; Sukabumi mereka mendapat serangan batalyon IV. Kejadian ini mirip dengan Perang Konvoi Pertama tiga bulan sebelumnya. Sekutu tidak mengambil pelajaran. Tanggal 11 Maret malam kembali gabungan pasukan Batalyon I , II, dan IV mengadakan serangan kepada Batalyon Patiala yang terisolasi di tengah &lt;st1:place st="on"&gt;&lt;st1:city st="on"&gt;kota&lt;/st1:city&gt;&lt;/st1:place&gt; Sukabumi. Mereka memadukan taktik &lt;i style=""&gt;“hit and run” dan “kirikumi”&lt;/i&gt; &lt;span style=""&gt; &lt;/span&gt;yaitu serangan yang dilakukan secara mendadak kemudian menghilang dan dilakukan secara rotasi oleh berbagai kompi yang dibantu laskar perjuangan dan rakyat. Pada waktu subuh serangan berakhir.&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;Tanggal 12 Maret 1946 Markas Tentara Sekutu di Bogor mengirimkan balabantuan pasukan tank Squadron 13 Lancer yang dikawal Pasukan Grenadier. Mereka tiba di Cikukulu Sukabumi sore hari dan mendapat serangan dari Batalyon I dan II. Akhirnya pasukan penolong ini minta tolong kepada pasukan yang ditolong. Sebagian pasukan &lt;st1:place st="on"&gt;&lt;st1:city st="on"&gt;Patiala&lt;/st1:city&gt;&lt;/st1:place&gt; dikirim untuk menolong Pasukan Grenadier, tetapi di tengah jalan mereka mendapat serangan lagi dari TRI. Bersamaan itu pula dari Markas Tentara Sekutu di Bandung&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;mengirim Pasukan Rajputana Rifles. Batalyon III yang berkedudukan di Cianjur tidak membiarkan mereka melenggang percuma. Mereka dapat memasuki &lt;st1:place st="on"&gt;&lt;st1:city st="on"&gt;kota&lt;/st1:city&gt;&lt;/st1:place&gt; Sukabumi setelah melalui pertempuran berat dan babak belur yang juga diserang oleh kompi-kompi dari Batalyon IV. Setelah 4 satuan tidak berdaya Inggris mengirimkan kembali pasukan Brigade I dari markasnya di &lt;st1:place st="on"&gt;&lt;st1:city st="on"&gt;Bandung&lt;/st1:city&gt;&lt;/st1:place&gt; yang dipimpin Brigadier N.D. Wingrove tanggal 13 Maret 1946. Pasukan ini terdiri dari 400 kendaraan termasuk lapis baja dan artileri berat serta 2500 personil yang terdiri dari tentara Inggris dan tentara sewaan dari India). Brigade I tertahan di Ciranjang dan harus bermalam karena mendapat serangan hebat dari Batalyon III pimpinan Kapten Anwar di jembatan Cisokan.&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;Tanggal 13 Maret 1946 pukul 20.00 empat kesatuan Tentara Sekutu yang sudah berkonsolidasi di tengah kota Sukabumi kembali mendapat serangan &lt;i style=""&gt;kirikumi&lt;/i&gt;. Mereka dalam keadaan terjepit dan terkepung sulit melakukan balasan. Malam itu dirasakan sebagai malam penebar maut. Dr. Hasan sadikin yang menjadi kepala rumah sakit di Sukabumi melaporkan tidak ada pihak TRI maupun rakyat pejuang yang gugur. Hanya 12 orang saja yang terluka ringan pada serangan itu. Dini hari tanggal 14 Maret 1946 pasukan Brigade I Inggris melanjutkan perjalanan untuk membantu konvoi yang terkepung. Sepanjang perjalanan mereka mendapat serangan dari Batalyon III dan IV. Setelah 5 kesatuan itu dapat berkumpul kemudian meninggalkan &lt;st1:city st="on"&gt;kota&lt;/st1:city&gt; Sukabumi menuju &lt;st1:place st="on"&gt;&lt;st1:city st="on"&gt;Bandung&lt;/st1:city&gt;&lt;/st1:place&gt;. Sepanjang perjalanan&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;mereka mendapat gangguan dari penembak jitu Batalyon IV dan III Resimen III TRI. Empat hari empat malam sekutu menderita kekalahan beruntun, walaupun ditopang dengan persenjataan lengkap, kendaraan lapis baja, artileri berat, dan pengintai udara RAF. Dan jangan lupa mereka adalah tentara yang berpengalaman di berbagai &lt;st1:place st="on"&gt;&lt;st1:city st="on"&gt;medan&lt;/st1:city&gt;&lt;/st1:place&gt; tempur Perang Dunia II. &lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: center;" align="center"&gt;----------*----------&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: center;" align="center"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;Buku ini disampaikan bukan dengan &lt;st1:place st="on"&gt;&lt;st1:city st="on"&gt;gaya&lt;/st1:city&gt;&lt;/st1:place&gt; buku teks sejarah, tetapi seperti sebuah rekaman kejadian, dialog-dialog yang terjadi disajikan sehingga suasana batin saat itu dapat tertangkap. Dalam buku ini tidak diungkap bagaimana hubungan antara Resimen yang berdekatan dengan Resimen III TKR/TRI Sukabumi pada saat peristiwa seperti Resimen II Bogor dan Resimen IX Padalarang. Buku &lt;i style=""&gt;“The Fighting Cock; The Story of The 23&lt;sup&gt;rd&lt;/sup&gt; Indian Division”&lt;/i&gt; (1951) yang ditulis Kolonel Doulton sebagai sumber pembanding dari pihak sekutu dianggap oleh narasumber buku Pertempuran Konvoi Sukabumi-Cianjur&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;ini tidak jujur dalam hal jumlah korban yang dialami tentara sekutu. Sebelum peristiwa Pertempuran Konvoi Sukabumi-Cianjur P:ertama 9-12 Desember 1945 terjadi pertempuran besar pada tanggal 10 Nopember 1945 di Surabaya sehingga tanggal tersebut diperingati sebagai Hari Pahlawan. Sesudah Pertempuran Konvoi Sukabumi-Cianjur Kedua 10-14 Maret 1946 di Bandung terjadi Peristiwa Bandung Lautan Api tanggal 24 Maret 1946. Tetapi mengapa Pertempuran Konvoi Sukabumi-Cianjur ini seperti tenggelam dalam catatan sejarah. Ketika belajar sejarah dari SD sampai SMA saya tidak menjumpai peristiwa heroik ini, padahal sekutu mengakui bahwa serangan udara yang dilancarkan saat itu adalah yang terhebat. Kini tanggal 9 Desember diperingati sebagai Hari Juang Siliwangi sejak tahun 2004. Resimen III TKR/TRI Sukabumi termasuk ke dalam Divisi II yang meliputi Karesidenan Priangan. Bersama Divisi I Banten &amp;amp; Bogor dan Divisi II Jakarta &amp;amp; Cirebon digabung menjadi Divisi Siliwangi pada tanggal 20 Mei 1946.&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;Ada yang lebih mengenaskan dalam bagian akhir buku ini “Napak Tilas”, Tank Sherman bekas sekutu yang berhasil dilumpuhkan dan dijadikan monumen dekat Monumen Palagan Bojongkokosan&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;habis dipreteli maling sedikit demi sedikit. “Mereka dijual ke Cibatu, dibikin cangklul, golok, belincong, dan perabotan lainnya”, ujar Kopral Purnawirawan Satibi (hal. 386). Di dalam perpustakaan Museum Palagan Bojongkokosan terdapat potret “Tujuh Pahlawan Revolusi” dan di bagian depan Museum terdapat dua potret lama para pejuang dengan pigura besar. “Itu tentara dari Jawa. Kalau tentara Sukabumi, saya kenal semua,” ujar Kopral Purnawirawan Satibi mantan anak buah Mayor Harry Soekardi yang menjadi &lt;st1:place st="on"&gt;&lt;st1:placename st="on"&gt;penjaga&lt;/st1:placename&gt; &lt;st1:placetype st="on"&gt;Museum&lt;/st1:placetype&gt;&lt;/st1:place&gt;. Bahkan potret Eddie Soekardi pun Sang Mantan Komandan tidak ada di museum itu. “Yahh …begitulah!” jawab R.H. Eddie Soekardi (hal. 387). Napak Tilas ini terjadi pada tahun 1997 tahun diterbitkannya buku ini di mana Orde Baru masih berkuasa. Mungkin kini isi Museum Palagan Bojongkokosan sudah berubah, saya harus melihat ke &lt;st1:place st="on"&gt;&lt;st1:city st="on"&gt;sana&lt;/st1:city&gt;&lt;/st1:place&gt;.&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;Perjalanan napak tilas yang paling mengharukan adalah ketika mencari Kapten Odi Dasuki salah satu mantan Komandan Kompi dari Batalyon II yang tinggal di sebuah rumah kecil di sebuah gang 3 kilometer dari batas kota Sukabumi. Dari pertemuan para pejuang itu tetangga Pak Odi Dasuki baru mengetahui kalau laki-laki pensiunan PJKA dan suka membuat mainan anak itu pelaku sejarah Pertempuran Konvoi. Inilah potret ketulusan seorang pejuang. Adakah sineas yang mau membuat film perjuangan Pertempuran Konvoi ini?&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 200%;"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8983338289940995135-932795645196205111?l=akubacabuku.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://akubacabuku.blogspot.com/feeds/932795645196205111/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://akubacabuku.blogspot.com/2008/10/palagan-sukabumi-cianjur.html#comment-form' title='5 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8983338289940995135/posts/default/932795645196205111'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8983338289940995135/posts/default/932795645196205111'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://akubacabuku.blogspot.com/2008/10/palagan-sukabumi-cianjur.html' title='Palagan Sukabumi - Cianjur'/><author><name>Asep Suryana</name><uri>http://www.blogger.com/profile/10523153530100050939</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://2.bp.blogspot.com/_BhFnIsjhfKc/Syj4fG2boRI/AAAAAAAAAdQ/qaZIYaAkDMk/S220/profil.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://1.bp.blogspot.com/_BhFnIsjhfKc/SP8TV9282lI/AAAAAAAAAN4/jmX0g1-JQro/s72-c/bjkokosan1.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>5</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8983338289940995135.post-8194538190704412524</id><published>2008-09-18T16:42:00.006+07:00</published><updated>2008-09-18T17:20:57.039+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Mesjid Agung'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Garut'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Priangan'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Haryoto Kunto'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Cibatu'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Bandung'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='ngabuburit'/><title type='text'>NGABUBURIT</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://3.bp.blogspot.com/_BhFnIsjhfKc/SNIlt0rzu_I/AAAAAAAAAKs/HCN_c3_B9-U/s1600-h/Ramadhan1.jpg"&gt;&lt;img style="margin: 0pt 0pt 10px 10px; float: right; cursor: pointer;" src="http://3.bp.blogspot.com/_BhFnIsjhfKc/SNIlt0rzu_I/AAAAAAAAAKs/HCN_c3_B9-U/s200/Ramadhan1.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5247297985006779378" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;!--[if gte mso 9]&gt;&lt;xml&gt;  &lt;w:worddocument&gt;   &lt;w:view&gt;Normal&lt;/w:View&gt;   &lt;w:zoom&gt;0&lt;/w:Zoom&gt;   &lt;w:punctuationkerning/&gt;   &lt;w:validateagainstschemas/&gt;   &lt;w:saveifxmlinvalid&gt;false&lt;/w:SaveIfXMLInvalid&gt;   &lt;w:ignoremixedcontent&gt;false&lt;/w:IgnoreMixedContent&gt;   &lt;w:alwaysshowplaceholdertext&gt;false&lt;/w:AlwaysShowPlaceholderText&gt;   &lt;w:compatibility&gt;    &lt;w:breakwrappedtables/&gt;    &lt;w:snaptogridincell/&gt;    &lt;w:wraptextwithpunct/&gt;    &lt;w:useasianbreakrules/&gt;    &lt;w:dontgrowautofit/&gt;    &lt;w:usefelayout/&gt;   &lt;/w:Compatibility&gt;   &lt;w:browserlevel&gt;MicrosoftInternetExplorer4&lt;/w:BrowserLevel&gt;  &lt;/w:WordDocument&gt; &lt;/xml&gt;&lt;![endif]--&gt;&lt;!--[if gte mso 9]&gt;&lt;xml&gt;  &lt;w:latentstyles deflockedstate="false" latentstylecount="156"&gt;  &lt;/w:LatentStyles&gt; &lt;/xml&gt;&lt;![endif]--&gt;&lt;style&gt; &lt;!--  /* Font Definitions */  @font-face  {font-family:Batang;  panose-1:2 3 6 0 0 1 1 1 1 1;  mso-font-alt:"Arial Unicode MS";  mso-font-charset:129;  mso-generic-font-family:auto;  mso-font-format:other;  mso-font-pitch:fixed;  mso-font-signature:1 151388160 16 0 524288 0;} @font-face  {font-family:"\@Batang";  panose-1:0 0 0 0 0 0 0 0 0 0;  mso-font-charset:129;  mso-generic-font-family:auto;  mso-font-format:other;  mso-font-pitch:fixed;  mso-font-signature:1 151388160 16 0 524288 0;}  /* Style Definitions */  p.MsoNormal, li.MsoNormal, div.MsoNormal  {mso-style-parent:"";  margin:0cm;  margin-bottom:.0001pt;  mso-pagination:widow-orphan;  font-size:12.0pt;  font-family:"Times New Roman";  mso-fareast-font-family:"Times New Roman";  mso-ansi-language:IN;  mso-fareast-language:EN-US;} p.MsoBodyText, li.MsoBodyText, div.MsoBodyText  {margin:0cm;  margin-bottom:.0001pt;  text-align:justify;  text-justify:inter-ideograph;  line-height:200%;  mso-pagination:widow-orphan;  font-size:12.0pt;  font-family:"Times New Roman";  mso-fareast-font-family:"Times New Roman";  mso-ansi-language:IN;  mso-fareast-language:EN-US;} @page Section1  {size:612.0pt 792.0pt;  margin:72.0pt 90.0pt 72.0pt 90.0pt;  mso-header-margin:36.0pt;  mso-footer-margin:36.0pt;  mso-paper-source:0;} div.Section1  {page:Section1;} --&gt; &lt;/style&gt;&lt;!--[if gte mso 10]&gt; &lt;style&gt;  /* Style Definitions */  table.MsoNormalTable  {mso-style-name:"Table Normal";  mso-tstyle-rowband-size:0;  mso-tstyle-colband-size:0;  mso-style-noshow:yes;  mso-style-parent:"";  mso-padding-alt:0cm 5.4pt 0cm 5.4pt;  mso-para-margin:0cm;  mso-para-margin-bottom:.0001pt;  mso-pagination:widow-orphan;  font-size:10.0pt;  font-family:"Times New Roman";  mso-ansi-language:#0400;  mso-fareast-language:#0400;  mso-bidi-language:#0400;} &lt;/style&gt; &lt;![endif]--&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 200%;"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;Judul Buku&lt;span style=""&gt;      &lt;/span&gt;: Ramadhan di Priangan (Tempo Doeloe)&lt;i style=""&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/i&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoBodyText"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;Penulis&lt;span style=""&gt;             &lt;/span&gt;: Haryoto Kunto&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 200%;"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;Penerbit &lt;span style=""&gt;          &lt;/span&gt;: Granesia, Bandung&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 200%;"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;Tahun terbit&lt;span style=""&gt;     &lt;/span&gt;: 1996, Cetakan pertama&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 200%;"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;Tebal Buku &lt;span style=""&gt;     &lt;/span&gt;: &lt;i style=""&gt;viii&lt;/i&gt;, 114&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 200%;"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;Buku “Ramadhan di Priangan” ini sesungguhnya merupakan kumpulan beberapa artikel yang ditulis alm. Haryoto Kunto (Kuncen Bandung) di harian Pikiran Rakyat. Saya sendiri membuat &lt;i style=""&gt;klipping&lt;/i&gt; dari tulisan tulisan beliau, namun karena sudah diterbitkan dalam bentuk buku akhirnya membeli buku karena mudah dalam penyimpanan dan perawatannya. Ketika Haryoto Kunto masih hidup banyak orang menunggu tulisan beliau walau terkadang ada pengulangan mengenai suatu hal. Sebagian ingin mengenang masa lalu, sebagian lagi yang masih muda ingin mengetahui bagaimana Bandung atau Priangan masa lalu.&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;Meskipun buku diberi judul “Ramadhan di Priangan”, tetapi yang dikisahkan hampir seluruhnya peristiwa atau kebiasaan yang dilakukan muslimin di bulan Ramadhan dan di hari Lebaran di kedua kota Bandung dan Cibatu-Garut. Bandung sebagai kota kelahiran Haryoto Kunto (lahir tahun 1940) dan Cibatu tempat ayahnya pernah bertugas (1937-1942). Jadi selain peristiwa-peristiwa yang dialami penulisnya juga ditambah dari beberapa literatur lainnya mengenai kejadian tempo &lt;i style=""&gt;doeloe&lt;/i&gt;. Secara administratif&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;wilayah Priangan sekarang adalah kota Bandung, Garut, Sumedang, Tasikmalaya, Ciamis, dan Banjar, tetapi abad ke-19 Cianjur pernah menjadi ibukota Karesidenan Priangan.&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;Beberapa hari menjelang Ramadhan biasanya warga kampung selain mengecat rumah dan pagar juga bergotong royong membersihkan kampung. Kemudian membersihkan kuburan kerabatnya yang telah meninggal. Sedangkan “&lt;i style=""&gt;nadran”&lt;/i&gt; atau berziarah dilakukan pada hari lebaran atau sesudahnya. Hari menjelang Ramadhan ini juga disebut &lt;i style=""&gt;“munggah”&lt;/i&gt; asal kata unggah yang artinya “naik” atau “meningkat” jadi Ramadhan saatnya meningkatkan keimanan dan ketaqwaan kepada Allah SWT. Pada saat munggah umumnya keluarga memasak makanan yang enak melebihi hari-hari biasa karena dalam sebulan akan berpuasa tidak boleh makan dan minum di siang hari. Biasanya masakan enak ini masih dapat dinikmati hingga sahur hari pertama puasa. Seringkali pada saat-saat seperti ini ada pertanyaan&lt;i style=""&gt;, “Geus boga naon jang munggah?”&lt;/i&gt;&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;(“Sudah punya apa untuk &lt;i style=""&gt;munggah&lt;/i&gt;?)&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;Menjelang bulan Puasa seringkali diadakan makan bersama. Makan bersama ini dikenal dengan istilah &lt;i style=""&gt;“botram”. &lt;/i&gt;Bagi keluarga yang tidak mau repot memasak, maka tinggal mengajak keluarga makan di restoran. Misalnya keluarga penulis buku ini diajak &lt;i style=""&gt;botram&lt;/i&gt; ke Pasar Baru Bandung yang terletak di &lt;i style=""&gt;Pangeran Sumedangweg&lt;/i&gt; atau sekarang Jl. Oto Iskandardinata. Di sana dijual berbagai jenis kebutuhan termasuk aneka masakan dan jajanan. Sekitar tahun 1935 Pasar Baru Bandung dinyatakan pasar paling bersih dan teratur di seluruh Pulau Jawa. Selain di rumah makan ada juga yang melakukan &lt;i style=""&gt;botram &lt;/i&gt;di tengah sawah, taman kota, atau tempat-tempat lainnya yang indah. Di halaman 29 ada sebuah potret yang mengisahkan &lt;i style=""&gt;botram&lt;/i&gt; di sebuah taman kota, mungkin bagi kita sekarang aneh melihatnya, mereka ada yang mengenakan sarung dan baju semacam jas tutupan dengan memakai ikat kepala atau peci dan yang kegerahan menggantungkan bajunya di batang pohon.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;Pada malam di bulan Ramadhan dilakukan salat tarawih di mesjid-mesjid. Setelah salat selesai biasanya bedug dan kohkol ditabuh bertalu-talu dan berirama. Saya pun mengalaminya hingga akhir tahun tujuh puluhan. Tradisi ini di kota berangsur-angsur hilang seiring dengan mesjid-mesjid sudah tidak memiliki atau tidak memerlukan lagi bedug dan kohkol. Kadang-kadang ada saja anak-anak nakal menyembunyikan pemukul bedug atau ada yang meletakan di kaki temannya yang sedang sujud sehingga sewaktu duduk setelah sujud terganjal pemukul bedug.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;Yang khas di bulan Ramadhan adalah &lt;i style=""&gt;ngabuburit&lt;/i&gt; atau menunggu waktu buka puasa. Di kota Bandung misalnya ada yang main ke Alun-alun atau taman lainnya yang tersebar di berbagai tempat. Pernah menjadi mode ngabuburit diisi dengan acara mandi sore di sumur bor yang dibangun pada dasa warsa pertama abad ke-20. Adapun lokasinya di depan Kantor Pos (Alun-alun, di belakang Gubernuran, Ciroyom, di simpang Jln. Merdeka-Riau, dan di depan Sakola Menak, Tegalega. Di sana disediakan pula tempat pemandian umum yang terpisah untuk pria dan wanita. Sampai akhir tahun 1950-an &lt;i style=""&gt;ngabuburit&lt;/i&gt; bisa juga diisi dengan paparahuan di Situ Aksan yang kini sudah menjadi pemukiman. Bosan dengan acara di atas boleh juga merintang-rintang waktu dengan nonton di bioskop. Bunyi petasan mewarnai bulan Puasa, hingga akhir 1970-an masih terdengar bunyi petasa di mana-mana. Alhamdulillah setelah dilarang menjalankan puasa jadi lebih khusyu.&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;Mesjid Agung di sebuah kabupaten umumnya berada di sebelah barat Alun-alun (lapangan terbuka) sebagai pusat spiritual, sedangkan pendopo kabupaten berada di sebelah selatan atau utara melambangkan pusat kebudayaan dan sosial kemasyarakatan. Ketika kekuasaan penjajah telah masuk maka di seberang pendopo didirikan Loji atau Benteng Kompeni. Di Bandung Loji kemudian berubah menjadi kediaman Asisten Residen yang melambangkan kekuasaan, sedangkan pasar sebagai pusat ekonomi. Pasar pertama di kota Bandung setelah pindah dari Dayeuh Kolot &lt;span style=""&gt; &lt;/span&gt;tahun 1811 adalah Pasar Ciguriang yang terletak di antara Jalan Kepatihan dan Jalan Kautamaan Istri sekarang. Pasar ini habis terbakar tahun 1842.&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;Atap Mesjid Agung Bandung pada pertengahan abad ke19 memiliki atap tumpang tiga model &lt;i style=""&gt;nyungcung&lt;/i&gt; sehingga disebut Bale Nyungcung. Di sini Haji Hasan Mustapa pernah duduk sebagai &lt;i style=""&gt;Hoofd Panghulu&lt;/i&gt; (Pemimpin Umat islam) sekira awal abad ke-20. &lt;i style=""&gt;Hoofd Panghulu&lt;/i&gt; setara dengan bupati hanya saja berbeda urusan. &lt;i style=""&gt;Hoofd Panghulu &lt;/i&gt;lain dan terkenal adalah Raden Mohamad Moesa sebagai &lt;i style=""&gt;Hoofd Panghulu &lt;/i&gt;Limbangan (1822-1886). Keduanya juga dikenal sebagai sastrawan. Pada abad ke-19 Mesjid Agung mencapai masa kemakmuran. Pembayaran zakat fitrah dan &lt;i style=""&gt;maal&lt;/i&gt; (harta) disetor ke mesjid ini dari berbagai distrik dibawah “&lt;i style=""&gt;Negorij Bandoeng”&lt;/i&gt;. Konon halaman dan serambi mesjid digunakan untuk menyimpan hasil bumi seperti padi, ketela, kopi bahkan Alun-alun pun dijadikan “tempat parkir” ternak sebagai pembayaran zakat. Dengan demikian setiap hari diadakan buka bersama terutama untuk para fakir dan miskin serta mualaf yang diambil dari pembayaran zakat yang tidak habis disalurkan kepada yang berhak dalam setahun. Hal ini pernah mendapat teguran dari Asisten Residen yang menyangka &lt;i style=""&gt;baitul maal&lt;/i&gt; digunakan untuk pesta makan-makan.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;Buku kecil ini memang tidak berisi semua kebiasaan di bulan Ramadhan di tatar Priangan tempo dulu sesuai judulnya, karena ini merupakan kumpulan tulisan-tulisan di koran. Bukan buku tentang antrofologi tetapi mengenai kenangan masa lalu. Bahkan seingat saya ada tulisan Haryonto Kunto seputar Ramadhan tidak masuk dalam buku ini. Misalnya kisah lucu berikut: Sebagai penanda buka puasa tiba dibunyikan meriam di halaman pendopo kabupaten Bandung (kini tempat kediaman walikota) anak-anak suka menonton dengan melongokan&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;kepala lewat lubang tembok pagar yang berupa ornamen sisik ikan. Pada waktu meriam berbunyi mereka kaget dan secara refleks menarik kepalanya, tentu saja kepalanya kena tembok pagar. Benjol deh. Namun dengan ditambahkan potret-potret masa lalu membaca buku ini semakin nikmat saja.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;Kebiasaan ekstensif di bulan Ramadhan yang tidak diceritakan buku ini adalah kegiatan saling mengirim makanan kepada tetangga dan keluarga pada 10 hari terakhir. Menurut pengamatan saya setelah ulama secara persuasif menganjurkan untuk tidak memaksakan kebiasaan ini, maka di perkotaan sudah&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;tidak dilakukan lagi, tetapi di desa masih ada yang melakukannya, kepada yang dekat dikirim dengan nampan atau baki, kalau yang jauh makanan dibawa menggunakan rantang. Di desa pula dulu kalau bulan Puasa pada malam hari orang sering membunyikan &lt;i style=""&gt;lodong&lt;/i&gt; bahkan “perang” antar kampung. Lodong yaitu meriam yang terbuat dari satu ruas bambu besar yang salah satu ujungnya dilubangi untuk memasukkan karbit dan air. Jika campuran air dan karbit sudah menghasilkan uap maka uapnya disulut pakai api, buuuuuummm!&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8983338289940995135-8194538190704412524?l=akubacabuku.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://akubacabuku.blogspot.com/feeds/8194538190704412524/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://akubacabuku.blogspot.com/2008/09/ngabuburit.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8983338289940995135/posts/default/8194538190704412524'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8983338289940995135/posts/default/8194538190704412524'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://akubacabuku.blogspot.com/2008/09/ngabuburit.html' title='NGABUBURIT'/><author><name>Asep Suryana</name><uri>http://www.blogger.com/profile/10523153530100050939</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://2.bp.blogspot.com/_BhFnIsjhfKc/Syj4fG2boRI/AAAAAAAAAdQ/qaZIYaAkDMk/S220/profil.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://3.bp.blogspot.com/_BhFnIsjhfKc/SNIlt0rzu_I/AAAAAAAAAKs/HCN_c3_B9-U/s72-c/Ramadhan1.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8983338289940995135.post-1085081655626300803</id><published>2008-09-01T13:46:00.007+07:00</published><updated>2008-09-08T16:48:45.858+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Rusman Sutiasumarga'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Sastra Sunda'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Kandjutkundang'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Jus Rusamsi'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Ajip Rosidi'/><title type='text'>KANDJUTKUNDANG SEBUAH ANTOLOGI</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://3.bp.blogspot.com/_BhFnIsjhfKc/SL-jcTvMgSI/AAAAAAAAAKc/e1ARA7nIwZM/s1600-h/Kanjut1.jpg"&gt;&lt;img style="margin: 0pt 0pt 10px 10px; float: right; cursor: pointer;" src="http://3.bp.blogspot.com/_BhFnIsjhfKc/SL-jcTvMgSI/AAAAAAAAAKc/e1ARA7nIwZM/s200/Kanjut1.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5242088198012436770" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;!--[if gte mso 9]&gt;&lt;xml&gt;  &lt;w:worddocument&gt;   &lt;w:view&gt;Normal&lt;/w:View&gt;   &lt;w:zoom&gt;0&lt;/w:Zoom&gt;   &lt;w:punctuationkerning/&gt;   &lt;w:validateagainstschemas/&gt;   &lt;w:saveifxmlinvalid&gt;false&lt;/w:SaveIfXMLInvalid&gt;   &lt;w:ignoremixedcontent&gt;false&lt;/w:IgnoreMixedContent&gt;   &lt;w:alwaysshowplaceholdertext&gt;false&lt;/w:AlwaysShowPlaceholderText&gt;   &lt;w:compatibility&gt;    &lt;w:breakwrappedtables/&gt;    &lt;w:snaptogridincell/&gt;    &lt;w:wraptextwithpunct/&gt;    &lt;w:useasianbreakrules/&gt;    &lt;w:dontgrowautofit/&gt;    &lt;w:usefelayout/&gt;   &lt;/w:Compatibility&gt;   &lt;w:browserlevel&gt;MicrosoftInternetExplorer4&lt;/w:BrowserLevel&gt;  &lt;/w:WordDocument&gt; &lt;/xml&gt;&lt;![endif]--&gt;&lt;!--[if gte mso 9]&gt;&lt;xml&gt;  &lt;w:latentstyles deflockedstate="false" latentstylecount="156"&gt;  &lt;/w:LatentStyles&gt; &lt;/xml&gt;&lt;![endif]--&gt;&lt;style&gt; &lt;!--  /* Style Definitions */  p.MsoNormal, li.MsoNormal, div.MsoNormal  {mso-style-parent:"";  margin:0cm;  margin-bottom:.0001pt;  mso-pagination:widow-orphan;  font-size:12.0pt;  font-family:"Times New Roman";  mso-fareast-font-family:"Times New Roman";  mso-ansi-language:IN;  mso-fareast-language:EN-US;} p.MsoBodyText, li.MsoBodyText, div.MsoBodyText  {margin:0cm;  margin-bottom:.0001pt;  text-align:justify;  text-justify:inter-ideograph;  line-height:200%;  mso-pagination:widow-orphan;  font-size:12.0pt;  font-family:"Times New Roman";  mso-fareast-font-family:"Times New Roman";  mso-ansi-language:IN;  mso-fareast-language:EN-US;} @page Section1  {size:612.0pt 792.0pt;  margin:72.0pt 90.0pt 72.0pt 90.0pt;  mso-header-margin:36.0pt;  mso-footer-margin:36.0pt;  mso-paper-source:0;} div.Section1  {page:Section1;} --&gt; &lt;/style&gt;&lt;!--[if gte mso 10]&gt; &lt;style&gt;  /* Style Definitions */  table.MsoNormalTable  {mso-style-name:"Table Normal";  mso-tstyle-rowband-size:0;  mso-tstyle-colband-size:0;  mso-style-noshow:yes;  mso-style-parent:"";  mso-padding-alt:0cm 5.4pt 0cm 5.4pt;  mso-para-margin:0cm;  mso-para-margin-bottom:.0001pt;  mso-pagination:widow-orphan;  font-size:10.0pt;  font-family:"Times New Roman";  mso-fareast-font-family:"Times New Roman";  mso-ansi-language:#0400;  mso-fareast-language:#0400;  mso-bidi-language:#0400;} &lt;/style&gt; &lt;![endif]--&gt;&lt;span lang="IN"&gt;Judul Buku&lt;span style=""&gt;      &lt;/span&gt;: &lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Kandjutkundang, &lt;/span&gt;&lt;i style=""&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Prosa djeung Puisi Sunda sabada Perang&lt;/span&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/i&gt;&lt;/span&gt;  &lt;p class="MsoBodyText"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;Editor&lt;span style=""&gt;              &lt;/span&gt;: &lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Ajip Rosidi dan Rusman Sutiasumarga&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 200%;"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;Penerbit &lt;span style=""&gt;          &lt;/span&gt;: &lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Dinas Penerbitan Balai Pustaka&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 200%;"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;Tahun terbit&lt;span style=""&gt;     &lt;/span&gt;: &lt;span style="font-weight: bold;"&gt;1963&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 200%;"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;Tebal Buku &lt;span style=""&gt;     &lt;/span&gt;: &lt;span style="font-weight: bold;"&gt;483 halaman&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 200%;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 200%;"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoBodyText" style="line-height: 150%;"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;&lt;span style=""&gt;            &lt;/span&gt;Ajip Rosidi sangat jeli melihat perkembangan sastra Sunda terutama dalam bidang prosa dan puisi yang berkembang setelah perang atau setelah pengakuan kedaulatan Indonesia oleh Belanda tahun 1949. Pada saat itu ada dua pendapat, pertama bahwa sastra Sunda dalam masa senja, pendapat kedua adalah sastra Sunda yang baru seperti fajar menyingsing. Sejak era penjajahan Jepang sastra Sunda yang tadinya sudah mekar kemudian mengalami kemunduran. Hampir segalanya dikendalikan penjajah. Setelah merdeka Indonesia masuk ke era revolusi fisik. Akibat perang sulit mencari penerbit dan percetakan yang dapat menghasilkan sebuah buku.&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoBodyText" style="line-height: 150%;"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoBodyText" style="line-height: 150%;"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;&lt;span style=""&gt;            &lt;/span&gt;Pada waktu revolusi kata “Persatuan Indonesia” adalah kata-kata sakti yang jika digunakan orang yang kurang wawasan dapat mematikan kedaerahan. Banyak pengarang yang takut menulis dalam bahasa daerah termasuk dalam bahasa Sunda. Bisa-bisa dituduh kaki tangan Van Mook, sukuistis, atau penghambat persatuan. Mereka lupa arti sebenarnya dari ucapan Mpu Tantular: “&lt;i style=""&gt;Bhinneka Tunggal Ika&lt;/i&gt;” yang dijadiukan semboyan dalam lambang kebangsaan Burung Garuda.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoBodyText" style="line-height: 150%;"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoBodyText" style="line-height: 150%;"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;&lt;span style=""&gt;            &lt;/span&gt;Meskipun tidak seperti masa sebelum perang ketika banyak dibuat buku-buku berbahasa Sunda terutama dalam bentuk roman, para pengarang dari kalangan muda Sunda banyak menulis di berbagai majalah dan surat kabar. Karena kekosongan buku-buku sastra Sunda, tetapi bukan berarti tidak ada sama sekali Ajip Rosidi dan Rusman Sutiasumarga menyusun sebuah antologi prosa dan puisi setelah perang, sekira tahun 1949-1959. Mereka mengumpulkan karya-karya berupa cerita pendek, &lt;i style=""&gt;panineungan &lt;/i&gt;(kenangan), prosa lirik, cuplikan drama, dan sajak yang mempunyai nilai sastra dari berbagai majalah dan koran yang terbit pada kurun waktu tersebut. Media-media yang jadi sumber a.l.: &lt;i style=""&gt;Kiwari, Warga, Sunda, Panghegar, Sipatahoenan, Tjandra, Mangle, Siliwangi, Panglajang, &lt;/i&gt;dan&lt;i style=""&gt; Kalawarta Lembaga Basa djeung Sastra Sunda &lt;/i&gt;(hal. 11).&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoBodyText" style="line-height: 150%;"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoBodyText" style="line-height: 150%;"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;&lt;span style=""&gt;            &lt;/span&gt;Hasil karya sastra disusun berdasarkan pengarang dari yang lebih tua hingga yang lebih muda. Bahkan diupayakan riwayat hidup singkat dari pengarang. Dengan demikian kita bisa lebih memahami kehidupan pengarang dan karyanya. Alhasil isi buku dimulai dengan karya Tjaraka yang bernama asli Wiranta kelahiran Conggeang Sumedang tahun 1902 dan diakhiri karya Ajatrohaedi yang dilahirkan di Jatiwangi tahun 1939. Dari segi kota kelahiran pengarang cukup mewakili berbagai tempat di Provinsi Jawa Barat dan Banten sekarang. Bagi saya dengan membaca karya &lt;i style=""&gt;panineungan&lt;/i&gt;, cerpen, dan beberapa sajak dapat meraba kondisi sosio-kultural masa itu dan sebelumnya. &lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoBodyText" style="line-height: 150%;"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;&lt;span style=""&gt;            &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoBodyText" style="line-height: 150%;"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;Beruntunglah ada Ajip Rosidi dan Rusman Sutiasumarga yang mengumpulkan karya-karya sastra Sunda setelah perang dalam sebuah buku sehingga menjadikannya lebih bertahan lama dan bisa disampaikan ke generasi berikutnya. Bayangkan jika hanya diupayakan sebagai “&lt;i style=""&gt;klipping&lt;/i&gt;” dari surat kabar yang umurnya sehari atau seminggu dan majalah yang umurnya hanya bulanan. Bahkan dalam bentuk buku pun mungkin hanya tersimpan di beberapa kolektor yang mencintai sastra Sunda dan perpustakaan. Buku ini pun dihiasi dengan gambar hasil coretan Jus Rusamsi. Buku yang sudah berumur 45 tahun dan lembaran kertasnya dari jenis stensil harus diperlakukan hati-hati karena mudah robek.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoBodyText" style="line-height: 150%;"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;&lt;span style=""&gt;            &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoBodyText" style="line-height: 150%;"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;Adapun judul buku diberi nama “Kandjutkundang” adalah seperti kebiasaan para leluhur jika ada bayi yang baru lahir dibekali semacam rajut dengan diisi berbagai kiasan agar &lt;span style=""&gt; &lt;/span&gt;dijauhkan dari mara bahaya dan menempuh hidup dengan penuh kerahayuan. Bukankah sastra Sunda pada masa itu seperti seorang bayi yang baru lahir yang jelas berbeda dengan sastra Sunda sebelum perang. ***&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoBodyText" style="line-height: 150%;"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoBodyText" style="line-height: 150%;"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;&lt;span style=""&gt;            &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoBodyText" style="text-align: center; line-height: normal;" align="center"&gt;&lt;i style=""&gt;&lt;span lang="IN"&gt;Doa&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoBodyText" style="text-align: center; line-height: normal;" align="center"&gt;&lt;i style=""&gt;&lt;span lang="IN"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoBodyText" style="text-align: right; line-height: normal;" align="right"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;haturan pa oto iskandar dinata&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoBodyText" style="text-align: left; line-height: normal;" align="left"&gt;&lt;i style=""&gt;&lt;span lang="IN"&gt;jungjunan &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoBodyText" style="text-align: left; line-height: normal;" align="left"&gt;&lt;i style=""&gt;&lt;span lang="IN"&gt;pangnangkeupkeun eta nyawa&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoBodyText" style="text-align: left; line-height: normal;" align="left"&gt;&lt;i style=""&gt;&lt;span lang="IN"&gt;nu indit taya nu nanya&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoBodyText" style="text-align: left; line-height: normal;" align="left"&gt;&lt;i style=""&gt;&lt;span lang="IN"&gt;taya tapakna di dunya&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoBodyText" style="text-align: left; line-height: normal;" align="left"&gt;&lt;i style=""&gt;&lt;span lang="IN"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoBodyText" style="text-align: left; line-height: normal;" align="left"&gt;&lt;i style=""&gt;&lt;span lang="IN"&gt;angin&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoBodyText" style="text-align: left; line-height: normal;" align="left"&gt;&lt;i style=""&gt;&lt;span lang="IN"&gt;pangngusikkeun sapangeusi buana&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoBodyText" style="text-align: left; line-height: normal;" align="left"&gt;&lt;i style=""&gt;&lt;span lang="IN"&gt;yen aya sinatria nu perlaya&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoBodyText" style="text-align: left; line-height: normal;" align="left"&gt;&lt;i style=""&gt;&lt;span lang="IN"&gt;di wewengkon langit sunda&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoBodyText" style="text-align: left; line-height: normal;" align="left"&gt;&lt;i style=""&gt;&lt;span lang="IN"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoBodyText" style="text-align: left; line-height: normal;" align="left"&gt;&lt;i style=""&gt;&lt;span lang="IN"&gt;bulan &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoBodyText" style="text-align: left; line-height: normal;" align="left"&gt;&lt;i style=""&gt;&lt;span lang="IN"&gt;baturan eta nyawa nu ditundung &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoBodyText" style="text-align: left; line-height: normal;" align="left"&gt;&lt;i style=""&gt;&lt;span lang="IN"&gt;di tempat baktina taya nu daek ngajungjung&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoBodyText" style="text-align: left; line-height: normal;" align="left"&gt;&lt;i style=""&gt;&lt;span lang="IN"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoBodyText" style="text-align: left; line-height: normal;" align="left"&gt;&lt;i style=""&gt;&lt;span lang="IN"&gt;he panonpoe&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoBodyText" style="text-align: left; line-height: normal;" align="left"&gt;&lt;i style=""&gt;&lt;span lang="IN"&gt;geura awurkeun panas anu ngaduruk sagala &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoBodyText" style="text-align: left; line-height: normal;" align="left"&gt;&lt;i style=""&gt;&lt;span lang="IN"&gt;sangkan ieu dada &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoBodyText" style="text-align: left; line-height: normal;" align="left"&gt;&lt;i style=""&gt;&lt;span lang="IN"&gt;sakumna nyawa sunda&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoBodyText" style="text-align: left; line-height: normal;" align="left"&gt;&lt;i style=""&gt;&lt;span lang="IN"&gt;nyaho boga pahlawan digjaya&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoBodyText" style="text-align: left; line-height: normal;" align="left"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoBodyText" style="text-align: right; line-height: normal;" align="right"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;tutugan gunung agung 21 juni 1958&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoBodyText" style="text-align: right; line-height: normal;" align="right"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoBodyText" style="text-align: left; line-height: normal;" align="left"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;Karya Apip Mustopa&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoBodyText" style="text-align: left; line-height: normal;" align="left"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;Dari &lt;i style=""&gt;Kalawarta L.B.S.S &lt;/i&gt;no. 11&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoBodyText" style="text-align: left; line-height: normal;" align="left"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;Agustus/September 1958.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoBodyText" style="text-align: left; line-height: normal;" align="left"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;(&lt;i style=""&gt;Kandjutkundang&lt;/i&gt; hal. 454)&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8983338289940995135-1085081655626300803?l=akubacabuku.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://akubacabuku.blogspot.com/feeds/1085081655626300803/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://akubacabuku.blogspot.com/2008/09/masih-dalam-proses_01.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8983338289940995135/posts/default/1085081655626300803'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8983338289940995135/posts/default/1085081655626300803'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://akubacabuku.blogspot.com/2008/09/masih-dalam-proses_01.html' title='KANDJUTKUNDANG SEBUAH ANTOLOGI'/><author><name>Asep Suryana</name><uri>http://www.blogger.com/profile/10523153530100050939</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://2.bp.blogspot.com/_BhFnIsjhfKc/Syj4fG2boRI/AAAAAAAAAdQ/qaZIYaAkDMk/S220/profil.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://3.bp.blogspot.com/_BhFnIsjhfKc/SL-jcTvMgSI/AAAAAAAAAKc/e1ARA7nIwZM/s72-c/Kanjut1.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8983338289940995135.post-7818112938924638279</id><published>2008-08-14T14:24:00.014+07:00</published><updated>2008-09-08T16:50:43.472+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Moehamad Moesa'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Bahasa Sunda'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Muhamad Musa'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Mikihiro Moriyama'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Kesastraan Sunda'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Edi S. Ekadjati'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='K.F. Holle'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Jonathan Rigg'/><title type='text'>Pembaharuan Sunda Abad ke-19</title><content type='html'>&lt;span lang="IN"&gt;Judul Buku&lt;span style=""&gt;       &lt;/span&gt;:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;font-size:130%;" &gt;Semangat Baru: &lt;span style="font-style: italic;"&gt;Kolonialisme, Budaya Cetak, dan Kesastraan Sunda Abad ke-19&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 74.8pt; text-align: justify; text-indent: -74.8pt; line-height: 150%;"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;Judul Asli : &lt;span style="font-weight: bold;"&gt;A New Spirit&lt;/span&gt;: &lt;span style="font-style: italic;"&gt;Sundanese Publishing and the Changing Configuration&lt;/span&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt; of Writing in Nineteenth Century West Java&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://2.bp.blogspot.com/_BhFnIsjhfKc/SKPsvgrKmxI/AAAAAAAAAJc/MWPQOdZNbLY/s1600-h/Semangat+baru.jpg"&gt;&lt;img style="margin: 0pt 0pt 10px 10px; float: right; cursor: pointer;" src="http://2.bp.blogspot.com/_BhFnIsjhfKc/SKPsvgrKmxI/AAAAAAAAAJc/MWPQOdZNbLY/s400/Semangat+baru.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5234287492903639826" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoBodyText" style="line-height: 150%;"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;Penulis&lt;span style=""&gt;                              &lt;/span&gt;: Mikihiro Moriyama&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoBodyText" style="line-height: 150%;"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;Penerjemah&lt;span style=""&gt;   &lt;/span&gt;: Suryadi, MA&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;Penerbit           &lt;span style=""&gt;          &lt;/span&gt;: Kepustakaan Populer Gramedia&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;Tahun terbit&lt;span style=""&gt;      &lt;/span&gt;: 2005, Januari, Cetakan Pertama&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;Tebal Buku    &lt;span style=""&gt;     &lt;/span&gt;: xxvi, 338 halaman, 14 cm x 21 cm&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;ISBN&lt;span style=""&gt;                             &lt;/span&gt;: 979-91-0023-2&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;    &lt;p class="MsoBodyText" style="line-height: normal;"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;i style=""&gt;&lt;span lang="IN"&gt;“Basa teh anoe djadi loeloengoe, pangtetelana djeung pangdjembarna tina sagala tanda-tanda noe ngabedakeun bangsa pada bangsa. Lamoen sipatna roepa-roepa basa tea leungit, bedana bakat-bakat kabangsaan oge moesna. Lamoen ras kabangsaanana soewoeng, basana eta bangsa tea oge lila-lila leungit.” &lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;span lang="IN"&gt;&lt;span style=""&gt; &lt;/span&gt;(A. Meillet seorang linguis Perancis, dari artikel yang ditulis Memed Sastrahadiprawira dalam majalah &lt;i style=""&gt;Poesaka Sunda&lt;/i&gt;, 1929)&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoBodyText" style="line-height: normal;"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;    &lt;p class="MsoBodyText" style="line-height: 150%;"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;Semangat Baru adalah buku pertama yang membahas secara mendalam kehidupan bahasa dan sastra Sunda abad ke-19. Ditulis oleh seorang sarjana Jepang. Buku ini merupakan terjemahan dari disertasi Mikihiro Moriyama di Universitas Leiden Belanda tahun 2003. Royalti terjemahan inipun beliau sumbangkan untuk korban bencana tsunami di Aceh.&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoBodyText" style="line-height: 150%;"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;    &lt;p class="MsoBodyText" style="line-height: 150%;"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;Karena kebutuhannya akan pegawai bumiputra yang semakin besar dan komunikasi dengan penduduk pribumi terutama era Tanam Paksa abad ke-19, di kalangan pemerintah maupun orang Belanda timbul kesadaran memahami budaya dan bahasa yang digunakan oleh bumiputra. Sekitar 1830-an keberadaan etnis tersendiri di Jawa Barat belum diakui oleh Belanda, mereka masih berpendapat bahasa yang digunakan di Jawa Barat adalah varian dari bahasa Jawa. Karena bahasa mencirikan bangsa, maka pengakuan etnis Sunda pun oleh Belanda masih samar-samar. Tulisan Andreas de Wilde seorang Belanda Pengusaha Perkebunan di Sukabumi tahun 1829 melukiskan suasana kebahasaan penduduk di Jawa Barat waktu itu. Mereka bertutur dalam bahasa Sunda yang berbeda dengan bahasa Melayu dan Jawa, tetapi banyak kosa kata dari kedua bahasa itu. Aksara yang digunakan ulama adalah aksara Arab. Jika tidak menggunakan aksara Arab penduduk umumnya menggunakan aksara Jawa.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;    &lt;p class="MsoBodyText" style="line-height: 150%;"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoBodyText" style="line-height: 150%;"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;Tonggak-tonggak peristiwa pada abad ke-19 a.l.:&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoBodyText" style="margin-left: 36pt; text-indent: -18pt; line-height: 150%;"&gt;&lt;!--[if !supportLists]--&gt;&lt;span lang="IN"&gt;&lt;span style=""&gt;1.&lt;span style=""&gt;      &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;span lang="IN"&gt;Tahun 1841 terbit Kamus Bahasa Belanda-Melayu dan Sunda oleh Roorda di Amsterdam. Senarai kosa kata dikumpulkan oleh De Wilde. Secara resmi bahasa Sunda mendapat pengakuan sebagai bahasa yang mandiri.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoBodyText" style="margin-left: 36pt; text-indent: -18pt; line-height: 150%;"&gt;&lt;!--[if !supportLists]--&gt;&lt;span lang="IN"&gt;&lt;span style=""&gt;2.&lt;span style=""&gt;      &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;span lang="IN"&gt;Tahun 1842 Wolter Robert van Hoevell pendeta yang bertugas di Batavia menulis dalam sebuah jurnal istilah-istilah etnografi perbedaan &lt;i style=""&gt;Djalma Soenda &lt;/i&gt;dan &lt;i style=""&gt;Wong Djawa.&lt;/i&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoBodyText" style="margin-left: 36pt; text-indent: -18pt; line-height: 150%;"&gt;&lt;!--[if !supportLists]--&gt;&lt;span lang="IN"&gt;&lt;span style=""&gt;3.&lt;span style=""&gt;      &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;span lang="IN"&gt;Tahun 1843 Pieter Mijer sekretaris Perhimpunan Batavia untuk Seni dan Ilmu Pengetahuan mengumumkan hadiah 1000 Gulden dan medali emas untuk siapa saja yang menyusun sebuah Kamus Bahasa Sunda yang baru. Dampaknya merangsang orang Eropa untuk mempelajari bahasa Sunda.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoBodyText" style="margin-left: 36pt; text-indent: -18pt; line-height: 150%;"&gt;&lt;!--[if !supportLists]--&gt;&lt;span lang="IN"&gt;&lt;span style=""&gt;4.&lt;span style=""&gt;      &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;span lang="IN"&gt;Tahun 1862 terbit kamus Sunda dalam bahasa Inggris yang pertama oleh Jonathan Rigg seorang Inggris pengusaha perkebunan di Bogor Selatan. “Ini membuat saya sedih karena penyusunnya bukan orang Belanda”, kata Koorders (1863). Koorders adalah seorang doktor teologia dan hukum yang ditugaskan ke Hindia-Belanda tahun 1862 untuk mendirikan sekolah guru (&lt;i style=""&gt;Kweekschool&lt;/i&gt;).&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoBodyText" style="margin-left: 36pt; text-indent: -18pt; line-height: 150%;"&gt;&lt;!--[if !supportLists]--&gt;&lt;span lang="IN"&gt;&lt;span style=""&gt;5.&lt;span style=""&gt;      &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;span lang="IN"&gt;Tahun 1872 pemerintah kolonial mengumumkan bahwa bahasa Sunda paling murni dituturkan di Bandung. Hal ini berkaitan dengan para sarjana dan penginjil dalam menyusun kamus dan tata bahasa Sunda yang mereka pelajari. Mereka berpendapat bahwa setiap bahasa memiliki satu bentuk yang murni. Tahun 1912 ditegaskan kembali bahwa dialek Bandung sebagai bahasa Sunda baku. Buntut dari penetapan tersebut berpengaruh hingga kini. &lt;/span&gt;&lt;/p&gt;    &lt;p class="MsoBodyText" style="line-height: 150%;"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoBodyText" style="line-height: 150%;"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;Teknologi cetak litografi dan tipografi pada abad ke-19 membantu penyebaran buku-buku ajar berbahasa Sunda di sekolah. Berangsur-angsur aksara Jawa tidak digunakan lagi di Jawa Barat, tetapi beralih ke aksara latin yang alfabet dan ejaannya telah dibakukan Belanda. Jadi bahasa Sunda yang benar sesungguhnya ciptaan Belanda (hal. 33). Penggunaan aksara Arab dan pembuatan manuskrip&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;dengan tulis tangan masih berlangsung hingga abad berikutnya. &lt;/span&gt;&lt;/p&gt;    &lt;p class="MsoBodyText" style="line-height: 150%;"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoBodyText" style="line-height: 150%;"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;Di kalangan orang Sunda ide tentang bahasa murni lain lagi, misalnya Moehamad Moesa (1823-1886) &lt;span style=""&gt; &lt;/span&gt;seorang &lt;i style=""&gt;hoofdpanghulu&lt;/i&gt; di Limbangan yang juga seorang penulis. Bagi beliau bahasa Sunda yang murni adalah bahasa yang tidak bercampur dengan bahasa Jawa dan Melayu. Buku-bukunya sejak tahun 1862 masih berupa wawacan dalam aksara Jawa. Pandangannya yang positif mengenai arti pendidikan Eropa dan kedekatannya dengan K.F. Holle (seorang Belanda yang menaruh perhatian pada bahasa dan kebudayaan Sunda) gaya tulisannya kemudian mulai merambah dalam bentuk prosa dan huruf latin. Beliau penulis lokal pertama yang hasil karyanya dibuat dalam buku cetakan, tak berlebihan kalau Moriyama memberi judul Bab 3 “Moehamad Moesa Sang Peloppor”. Sebelumnya orang Eropa berpendapat tidak ada kesastraan Sunda contoh pendapat dua orang Inggris Crawfurd (menjabat Residen Yogyakarta 1811-1816) menulis tahun 1820, “Tidak ada buku-buku dalam bahasa Sunda, karena itulah Sunda tidak memiliki kesastraan nasional”. dan Rigg (1862), “Orang Sunda tidak punya kesastraan yang bisa dijadikan rujukan, dan ini sudah menjadi konsekuensi bahasa lisan yang miskin yang dituturkan oleh tidak lebih dari dua juta orang” (hal. 44)&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;    &lt;p class="MsoBodyText" style="line-height: 150%;"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoBodyText" style="line-height: 150%;"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;Mereka lupa bahwa kesastraan bukan hanya yang tertulis tetapi juga dalam bentuk lisan. Sebelumnya orang Sunda terbiasa dengan manuskrip (tulisan tangan) meskipun wawacan dan dangding Sunda ditulis dalam aksara Jawa, tidak berarti yang ditulis adalah berbahasa Jawa. Ini pengaruh ditaklukannya Jawa Barat oleh Mataram pada abad ke-17. Akibatnya kesenian, gaya hidup, pemerintahan, dan&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;bahasa terkena dampaknya. Kesastraan Sunda juga berkembang menurut estetika Jawa. Padahal jauh sebelum abad ke-17 etnis ini sudah mempunyai aksara Sunda Kuno seperti dalam naskah Bujangga Manik dan Carita Parahiyangan. Bagaimanapun usaha-usaha Belanda merumuskan Bahasa Sunda pada abad ke-19 mendorong orang Sunda untuk merumuskan kembali jati dirinya yang sudah dua ratus tahun berada di bawah bayang-bayang Jawa. Dengan berkembangnya teknik cetak saat itu mempercepat proses perubahan. &lt;/span&gt;&lt;/p&gt;    &lt;p class="MsoBodyText" style="line-height: 150%;"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoBodyText" style="line-height: 150%;"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;Buku ini adalah karya ilmiah, bisa saja ada yang keliru dan koreksi ilmiah cukup terbuka. Menurut Edi S. Ekadjati yang dianggap guru dan orang tua oleh Moriyama berpendapat karya ini bertitik tolak dari pandangan kaum kolonial dan berakhir pada kreativitas dan kebijkan kaum kolonial pula, sedangkan bumiputra hanya sebagai objek saja (hal. xvi). Namun demikian menurut pendapat saya studi ini membuka cakrawala baru tentang sastra Sunda abad ke-19 perkembangan dan dampaknya. Salah satu bagian penting tentang kesadaran etnis ini memasuki era selanjutnya. Kita tunggu kajian lainnya apalagi kesastraan Sunda sebelum abad ke-19 pun masih banyak yang belum tergali. ***&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoBodyText" style="line-height: 150%;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;span lang="IN"&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;(Terima kasih kepada Sdr. Herwin Bharata yang telah menghadiahkan buku ini kepada saya)&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8983338289940995135-7818112938924638279?l=akubacabuku.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://akubacabuku.blogspot.com/feeds/7818112938924638279/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://akubacabuku.blogspot.com/2008/08/pembaharuan-sunda-abad-ke-19.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8983338289940995135/posts/default/7818112938924638279'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8983338289940995135/posts/default/7818112938924638279'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://akubacabuku.blogspot.com/2008/08/pembaharuan-sunda-abad-ke-19.html' title='Pembaharuan Sunda Abad ke-19'/><author><name>Asep Suryana</name><uri>http://www.blogger.com/profile/10523153530100050939</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://2.bp.blogspot.com/_BhFnIsjhfKc/Syj4fG2boRI/AAAAAAAAAdQ/qaZIYaAkDMk/S220/profil.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://2.bp.blogspot.com/_BhFnIsjhfKc/SKPsvgrKmxI/AAAAAAAAAJc/MWPQOdZNbLY/s72-c/Semangat+baru.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8983338289940995135.post-2575055178373334544</id><published>2008-08-07T13:03:00.004+07:00</published><updated>2008-08-07T16:30:51.021+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Cagar Budaya'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Haryoto Kunto'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Bandung'/><title type='text'>Nasib .......nasib!</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://3.bp.blogspot.com/_BhFnIsjhfKc/SJrAs4sH_VI/AAAAAAAAAJE/4ndJnHH9Uww/s1600-h/Bangunan.jpg"&gt;&lt;img style="margin: 0pt 0pt 10px 10px; float: right; cursor: pointer;" src="http://3.bp.blogspot.com/_BhFnIsjhfKc/SJrAs4sH_VI/AAAAAAAAAJE/4ndJnHH9Uww/s320/Bangunan.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5231705794508488018" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 200%;"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;Judul Buku&lt;span style=""&gt;      &lt;/span&gt;: Nasib Bangunan Bersejarah di Kota Bandung&lt;i style=""&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/i&gt;&lt;br /&gt;Penulis&lt;span style=""&gt;             &lt;/span&gt;: Haryoto Kunto&lt;br /&gt;Penerbit &lt;span style=""&gt;          &lt;/span&gt;: Granesia, Bandung&lt;br /&gt;Tahun terbit&lt;span style=""&gt;     &lt;/span&gt;: 2008, Januari, cetakan II.&lt;br /&gt;Tebal Buku &lt;span style=""&gt;     &lt;/span&gt;: viii, 64 halaman&lt;br /&gt;ISBN&lt;span style=""&gt;               &lt;/span&gt;: 978-979-8110-01-6&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;    &lt;p class="MsoBodyText" style="text-align: right; line-height: 150%;"&gt;&lt;i style=""&gt;&lt;span lang="IN"&gt;“City without old buildings is like a man without memory”&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;br /&gt;&lt;span lang="IN"&gt;(Konrad Smiglisky)&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;        &lt;p class="MsoBodyText" style="line-height: 150%; text-align: justify;"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;Buku kedua ini diterbitkan kembali setelah delapan tahun dari edisi perdananya. Harapan diterbitkannya buku ini adalah pelestarian dan penyelamatan bangunan lama dan monumen bersejarah sukses dilaksanakan. Oleh karena itu pada bagian akhir buku tipis ini dilampirkan Undang-Undang No. 5 Tahun 1992 Tentang Benda Cagar Budaya. Dari 64 halaman, 26 halaman adalah isi buku, 20 halaman lampiran foto, dan 12 halaman lampiran Undang-Undang.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoBodyText" style="line-height: 150%; text-align: justify;"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;Dalam buku ini diungkap mengenai pelestarian alam dan lingkungan, serta cagar budaya sejak sebelum kemerdekaan. P.A.J. Moojen seorang arsitek Belanda yang datang ke Bandung tahun 1904 mendirikan &lt;i style=""&gt;Gebouw Nederlandsch Indische Kunstkring&lt;/i&gt; (Perkumpulan Seni dan Bangunan Hindia Belanda) tahun 1912 yang aktif dalam pelestarian dan penyelamatan bangunan, monumen bersejarah, dan inventarisasi benda-benda cagar budaya. Atas rekomendasi dari perkumpulan ini menjadikan pemerintah kolonial lebih serius dalam pelestarian cagar budaya, sehingga lahirlah produk hukum &lt;i style=""&gt;Monumenten Ordonantie Staatsblad&lt;/i&gt; No. 238 Tahun 1931. Baru pada tahun 1992 ordonansi tersebut diganti Undang-Undang RI No. 5 Tahun 1992 Tentang Benda Cagar Budaya. Dalam pelestarian lingkungan hidup dipelopori oleh para pemuka masyarakat Belanda dengan didirikannya &lt;i style=""&gt;Bandoengsche Committee tot Natuurbescherming&lt;/i&gt; (Komite bagi Perlindungan Alam Bandung) tahun 1917. Artinya setelah seratus tahun kepindahan Bandung dari Dayeuh Kolot ke lokasinya sekarang sudah mendesak adanya perlindungan dan pelestarian cagar budaya dan lingkungan hidup. Apalagi sekarang?&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;    &lt;/div&gt;&lt;p class="MsoBodyText" style="line-height: 150%; text-align: justify;"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;Sangat menarik mencermati statistik gedung-gedung yang seharusnya dilindungi dalam upaya inventarisasi, pelestarian, dan penyelamatan malah jumlahnya terus menyusut. Pada waktu penyerahan kedaulatan dari Belanda ke Pemerintah RI tahun 1949 kota Bandung&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;dalam keadaaan utuh dan baik. Tidak tampak lagi puing-puing bekas peristiwa &lt;i style=""&gt;Bandung Lautan Api&lt;/i&gt;. Sampai 1970,&lt;span style=""&gt;            &lt;/span&gt;taksiran ada 2500 bangunan arsitektur kolonial yang tergolong cagar budaya, tetapi memasuki tahun 1990-an, tinggal 495 bangunan lama dan hanya 206 yang masih utuh.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;    &lt;/div&gt;&lt;p class="MsoBodyText" style="line-height: 150%; text-align: justify;"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;Sebuah Tim Pelestarian Bangunan Bersejarah yang dibentuk pada masa Walikota Husen Wangsaatmadja (1978-1983) telah membuat daftar 150 bangunan lama bersejarah yang harus dilindungi dan diselamatkan. Dari jumlah tersebut menurut penulis buku paling sedikit sudah 60 bangunan yang tergusur a.l.: Rumah pelukis Payen di Jln. Stasiun Timur, Gedung Singer karya F.W. Brinkman (1930), Gedung Perkebunan simpang Jln. Aceh/Sumatra karya P.A.J. Moojen (1912), Markas KAPI Jln. Lembong, bekas Kosekta Lengkong di Jln. Asia Afrika, T.B. Ganaco, 9 rumah karya arsitektur Bung Karno, beberapa gedung bioskop, dan Toko Buku Sumur Bandung di Jln. Asia Afrika. Ketika saya SMP tahun (1978-1981) hingga kuliah tahun 1980-an masih suka beli di toko buku besar Sumur Bandung dan Karya Nusantara depan Gedung Merdeka. Kita bisa melihat-lihat buku dengan leluasa sebelum membeli jauh sebelum Toko Buku Gramedia dan Gunung Agung dengan konsep sama berada di kota Bandung. &lt;span style=""&gt; &lt;/span&gt;Saat ini bekas T.B.Sumur Bandung berupa kebun alang-alang di pusat kota.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;    &lt;/div&gt;&lt;p class="MsoBodyText" style="line-height: 150%; text-align: justify;"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;Akankah gedung-gedung cagar budaya lainnya akan bertumbangan? Ini akan terjadi bukan karena ketiadaan peraturan, tetapi lemahnya penegakan peraturan, ketidakpedulian pebisnis  dan kekurangpedulian masyarakat Bandung sendiri. Sudah banyak usaha-usaha almarhum Haryoto Kunto mengenai pentingnya pelestarian dan penyelamatan cagar budaya kota Bandung. Masih belum sadarkah kita?&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoBodyText" style="line-height: 150%; text-align: right;"&gt;&lt;i style=""&gt;&lt;span lang="IN"&gt;“The use of monuments is something that belongs to its owner, its beauty belongs to everyone”&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: right;"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;p class="MsoBodyText" style="line-height: 150%; text-align: right;"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;(Victor Hugo)&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;    &lt;p class="MsoBodyText" style="line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;&lt;i style=""&gt;&lt;span lang="IN"&gt;Pasal 1 UU No. 5 Tahun 1992 tentang Benda Cagar Budaya&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;&lt;i style=""&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;1. Benda cagar budaya adalah: &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 28.05pt; text-indent: -18.7pt;"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;&lt;i style=""&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;a. &lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;benda buatan manusia, bergerak atau tidak bergerak yang berupa kesatuan atau kelompok, atau bagian-bagian atau sisa-sisanya, yang berumur sekurang-kurangnya 50 (lima puluh) tahun, atau mewakili masa gaya yang khas dan mewakili masa gaya sekurang-kurangnya 50 (lima &lt;span style=""&gt; &lt;/span&gt;puluh) tahun, serta dianggap mempunyai nilai penting bagi sejarah, ilmu pengetahuan, dan kebudayaan; &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 28.05pt; text-indent: -28.05pt;"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;&lt;i style=""&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;&lt;span style=""&gt;    &lt;/span&gt;b. &lt;span style=""&gt; &lt;/span&gt;benda alam yang dianggap mempunyai nilai penting bagi sejarah, ilmu pengetahuan, dan kebudayaan. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 18.7pt; text-indent: -18.7pt;"&gt;&lt;i style=""&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;2. &lt;span style=""&gt; &lt;/span&gt;Situs adalah lokasi yang mengandung atau diduga mengandung benda cagar budaya termasuk lingkungannya yang diperlukan bagi pengamanannya.&lt;/span&gt; &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;/p&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8983338289940995135-2575055178373334544?l=akubacabuku.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://akubacabuku.blogspot.com/feeds/2575055178373334544/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://akubacabuku.blogspot.com/2008/08/nasib-nasib.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8983338289940995135/posts/default/2575055178373334544'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8983338289940995135/posts/default/2575055178373334544'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://akubacabuku.blogspot.com/2008/08/nasib-nasib.html' title='Nasib .......nasib!'/><author><name>Asep Suryana</name><uri>http://www.blogger.com/profile/10523153530100050939</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://2.bp.blogspot.com/_BhFnIsjhfKc/Syj4fG2boRI/AAAAAAAAAdQ/qaZIYaAkDMk/S220/profil.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://3.bp.blogspot.com/_BhFnIsjhfKc/SJrAs4sH_VI/AAAAAAAAAJE/4ndJnHH9Uww/s72-c/Bangunan.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8983338289940995135.post-3454986462403834380</id><published>2008-07-30T10:44:00.004+07:00</published><updated>2008-12-11T23:19:05.647+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Batavia'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='trem'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Masup'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Tio Tek Hong'/><title type='text'>Kenangan Jakarta Tempo Doeloe</title><content type='html'>Judul Buku&lt;span style=""&gt;       &lt;/span&gt;: Keadaan Jakarta Tempo Doeloe: Sebuah Kenangan&lt;span lang="IN"&gt; 1882-1959&lt;i style=""&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/i&gt;&lt;/span&gt;  &lt;p class="MsoBodyText" style="margin-left: 74.8pt; text-indent: -74.8pt;"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;Judul Asli&lt;span style=""&gt;              &lt;/span&gt;: &lt;i style=""&gt;Kenang-kenangan: Riwajat-hidup Saja dan Keadaan di Djakarta dari Tahun&lt;span style=""&gt; &lt;/span&gt;1882 sampai Sekarang. &lt;/i&gt;Djakarta, 1959&lt;i style=""&gt; &lt;/i&gt;&lt;span style=""&gt;                  &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoBodyText"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;Penulis&lt;span style=""&gt;              &lt;/span&gt;        : Tio Tek Hong&lt;/span&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://1.bp.blogspot.com/_BhFnIsjhfKc/SI_nyUaqbRI/AAAAAAAAAI8/anW9ky5KXOU/s1600-h/TioTekHong-Jakarta.jpg"&gt;&lt;img style="margin: 0pt 0pt 10px 10px; float: right; cursor: pointer;" src="http://1.bp.blogspot.com/_BhFnIsjhfKc/SI_nyUaqbRI/AAAAAAAAAI8/anW9ky5KXOU/s200/TioTekHong-Jakarta.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5228652544060452114" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 200%;"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;Penerbit       &lt;span style=""&gt;           &lt;/span&gt;: Masup Jakarta&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 200%;"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;Tahun terbit&lt;span style=""&gt;      &lt;/span&gt;: 2007, Desember, cetakan ke-2&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 200%;"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;Tebal Buku  &lt;span style=""&gt;      &lt;/span&gt;: xx, 132 halaman&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 200%;"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;ISBN&lt;span style=""&gt;               &lt;/span&gt;            : 979-25-7291-0&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoBodyText" style="line-height: normal;"&gt;&lt;i style=""&gt;&lt;span lang="IN"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoBodyText" style="text-align: left; line-height: 150%;" align="left"&gt;&lt;i style=""&gt;&lt;span lang="IN"&gt;Potong thauchang resmi tidak diijinkan, tetapi tidak terlarang.&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;br /&gt;&lt;span lang="IN"&gt;(hal. 58)&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoBodyText" style="text-align: left; line-height: 150%;" align="left"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoBodyText" style="text-indent: 36pt; line-height: 150%;"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;Buku ini dapat dikatakan otobiografi. Disusun dengan mengandalkan ingatan yang masih terpatri di usia tua bukan dari buku catatan harian. Jadi pembaca dibawa dari satu peristiwa ke peristiwa lain yang mungkin tidak berhubungan, meskipun berusaha tampil kronologis.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoBodyText" style="text-indent: 36pt; line-height: 150%;"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;Pada terbitan di era abad ke-21 ini selain judul diganti begitu pula ejaan, tetapi gaya bahasa masih tetap dipertahankan dalam dialek Melayu-Betawi yang biasa digunakan penulis. Contoh, “Daun kangkung baik sekali, sebab mengandung waja dan bikin gampang dan enak tidur.&lt;i style=""&gt;Oom&lt;/i&gt; kalau malam mendusin susah pulas kembali, &lt;i style=""&gt;Oom&lt;/i&gt; bersuit lagu-lagu yang sudah hampir lupa, dan menghitung atau mengingat peristiwa yang menyenangkan pun bisa bikin lekas pulas”. &lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoBodyText" style="text-indent: 36pt; line-height: 150%;"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;Dari buku semacam ini kita dapat mengetahui situasi masa lalu lebih lengkap. Bandingkan dengan sejarah yang disajikan dalam buku ajar sekolah yang berkutat pada tokoh-tokoh sejarah dan tahun peristiwa. Dari buku Oom Tio (lahir 1877) ini saya dapat mengetahui akibat dari letusan Gunung Krakatau yang letaknya di Selat Sunda dan meletus pada 26-28 Agustus 1883 terhadap kota Batavia (Jakarta). Misalnya orang-orang memperkuat bantaran kali di depan Pasar Baru&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;karena air meluap akibat tsunami. &lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoBodyText" style="text-indent: 36pt; line-height: 150%;"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;Pada masa kolonial penduduk Tionghoa digolongkan sebagai orang asing oleh Belanda. Karena cukup banyak maka harus diatur serta diangkatlah pengurus dari kalangan Tionghoa dengan jabatan Mayor, Kapten, dan Letnan. Sebelum abad ke-20 laki-laki Tionghoa harus menggunakan kuncir (rambut yang dijalin panjang) yang disebut &lt;i style=""&gt;thaucang&lt;/i&gt; karena perintah dari Dinasti Qing dari Manchuria yang menguasai Tiongkok. Karena sudah menuju era modern perkumpulan Tiong Hoa Hwee Koan (didirikan tahun 1900) mengirim telegram kepada pemerintah Tjeng Tiau di Peking (Beijing) bila mereka diperbolehkan memotong &lt;i style=""&gt;thaucang.&lt;/i&gt; Jawaban yang diperoleh seperti tertera di permulaan resensi ini. &lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoBodyText" style="text-indent: 36pt; line-height: 150%;"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;Sebagai orang asing perjalanan dari suatu daerah ke daerah lain pun dibatasi dan diharuskan mempunyai surat jalan dari kantor karesidenan (&lt;i style=""&gt;passenstelsel)&lt;/i&gt;. Bukan hanya itu di setiap karesidenan yang dilalui dan dituju pun harus lapor. Jaman sekarang pun kadang masih ada kebijakan seperti ini untuk warga negara sekalipun. &lt;i style=""&gt;Passenstelsel&lt;/i&gt; berlaku hingga 1920. &lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoBodyText" style="text-indent: 36pt; line-height: 150%;"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;Peristiwa-peristiwa yang mirip kadang berulang. Kalau di Jakarta sekarang sering terjadi wabah demam berdarah, maka dahulu di Batavia terjadi wabah kolera yang banyak membawa kematian. Bahkan karena untuk mengubur tidak cukup waktu dan tenaga, maka peti-peti mati dibiarkan di sawah dekat jalan untuk dikuburkan esok harinya. Keluarga penulis buku ini pun mengungsi ke Bogor, Sukabumi, dan Bandung begitu berpindah-pindah karena penyakit ini menyebar seiring pergerakan penduduk. Tidak disebutkan pada tahun berapa peristiwa ini dialaminya. &lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoBodyText" style="text-indent: 36pt; line-height: 150%;"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;Kita bandingkan lagi Jakarta sekarang dan Batavia dulu. Sekarang Jakarta sedang sibuk-sibuknya membuat &lt;i style=""&gt;busway&lt;/i&gt; sebagai angkutan masal setelah Kereta Rel Listrik Jabodetabek tidak lagi memadai. Di Batavia tahun 1869 dibangun &lt;i style=""&gt;tramway&lt;/i&gt; (trem kuda) yaitu kereta panjang yang berjalan di atas rel dan ditarik tiga sampai empat ekor kuda, dapat memuat sampai 40 orang. Sebagai tanda kusir membunyikan terompet. Trem ini mulai beroperasi dari pukul lima pagi hingga pukul delapan malam dan tiap lima menit lewat satu trem. Hanya tidak diketahui apakah jadwal ini selalu tepat atau tidak. Jurusannya adalah Kota Intan-Harmoni-Tanah Abang dan Kota Intan-Harmoni-Jatinegara. Kemudian Jalur Kota Intan-Jatinegara diadakan trem uap dan awal abad ke-20 ada jalaur lain yang menggunakan trem listrik. Trem ini berakhir pada awal 1960-an. Sayang! Di beberapa kota tua di Eropa trem listrik masih dipertahankan.&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoBodyText" style="text-indent: 36pt; line-height: 150%;"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;Dari buku ini selain bernostalgia bagi yang mengalami masa-masa tersebut, bagi generasi sekarang dapat diambil pelajaran. Penerbit Masup dengan semboyan “Kenali Jakartamu” banyak menerbitkan buku-buku tentang Jakarta tempo dulu. Diharapkan dari usaha-usaha seperti ini &lt;span style=""&gt; &lt;/span&gt;penduduknya mencintai, menjaga, memelihara dan melestarikan dengan semestinya dan menjadikan Jakarta lebih baik. Tak akan ada sekarang kalau tidak ada dahulu. Sekarang ini hampir setiap hari ada demonstrasi di Jakarta, beberapa mengakibatkan rusaknya fasilitas umum yang dibangun dengan uang rakyat. Sadarlah!&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoBodyText" style="text-indent: 36pt; line-height: 150%;"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8983338289940995135-3454986462403834380?l=akubacabuku.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://akubacabuku.blogspot.com/feeds/3454986462403834380/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://akubacabuku.blogspot.com/2008/07/kenangan-jakarta-tempo-doeloe.html#comment-form' title='2 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8983338289940995135/posts/default/3454986462403834380'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8983338289940995135/posts/default/3454986462403834380'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://akubacabuku.blogspot.com/2008/07/kenangan-jakarta-tempo-doeloe.html' title='Kenangan Jakarta Tempo Doeloe'/><author><name>Asep Suryana</name><uri>http://www.blogger.com/profile/10523153530100050939</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://2.bp.blogspot.com/_BhFnIsjhfKc/Syj4fG2boRI/AAAAAAAAAdQ/qaZIYaAkDMk/S220/profil.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://1.bp.blogspot.com/_BhFnIsjhfKc/SI_nyUaqbRI/AAAAAAAAAI8/anW9ky5KXOU/s72-c/TioTekHong-Jakarta.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>2</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8983338289940995135.post-2419572612505579023</id><published>2008-07-18T09:42:00.003+07:00</published><updated>2008-12-11T23:19:05.805+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Gedung Pakuan'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='J. Gerber'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Gedong Sate'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Gedong Pakuan'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Bandung'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Gedung Sate'/><title type='text'>GEDUNG KOLONIAL DI KOTA BANDUNG</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://3.bp.blogspot.com/_BhFnIsjhfKc/SIAHLtsCBwI/AAAAAAAAAHw/D528VP9lqNg/s1600-h/Balai+Agun.jpg"&gt;&lt;img style="margin: 0pt 0pt 10px 10px; float: right; cursor: pointer;" src="http://3.bp.blogspot.com/_BhFnIsjhfKc/SIAHLtsCBwI/AAAAAAAAAHw/D528VP9lqNg/s320/Balai+Agun.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5224183465574008578" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;           &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 200%;"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;Judul Buku&lt;span style=""&gt;      &lt;/span&gt;: Balai Agung di Kota Bandung&lt;i style=""&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/i&gt;&lt;br /&gt;Penulis&lt;span style=""&gt;             &lt;/span&gt;: Haryoto Kunto&lt;br /&gt;Penerbit &lt;span style=""&gt;          &lt;/span&gt;: Granesia&lt;br /&gt;Tahun terbit&lt;span style=""&gt;     &lt;/span&gt;: 1996, April, cetakan ke-I&lt;br /&gt;Tebal Buku &lt;span style=""&gt;     &lt;/span&gt;: ix, 151 halaman&lt;br /&gt;ISBN&lt;span style=""&gt;               &lt;/span&gt;: 9.798.110&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;        &lt;p class="MsoBodyText" style="line-height: 150%;"&gt;&lt;i style=""&gt;&lt;span lang="IN"&gt;“Zorg, dat als ik terug kom hier een stad in gebowd”&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;span lang="IN"&gt;(Coba usahakan, bila aku datang kembali ke tempat ini, sebuah kota telah rampung dibangun).&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;b style=""&gt;&lt;span lang="IN"&gt;H.W. Daendels, 1810&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;&lt;span lang="IN"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;br /&gt;Buku ini disusun oleh alm. Haryoto Kunto dan diterbitkan oleh penerbit yang sama dengan buku “Semerbak Bunga di Bandung Raya” yang diterbitkan sepuluh tahun sebelumnya dengan kualitas kertas yang lebih baik, mengkilap, sehingga foto-foto yang ditampilkan bagus pula. Buku ini bercerita tentang gedung-gedung peninggalan kolonial di kota Bandung, terutama Gedung Sate dan Gedung Pakuan. Saya yakin buku-buku beliau mempunyai andil dalam pemberian gelar kepada kota Bandung sebagai salah satu “10 World Cities of Art Deco”. Buku-bukunya memberi informasi kepada penduduk Bandung dan dunia bahwa di kota Bandung terdapat warisan masa lalu yang nilainya sangat tinggi dan harus dilestarikan.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;    &lt;p class="MsoBodyText" style="line-height: 150%;"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;Bandung hingga pertengahan abad ke-19 masih merupakan desa yang sunyi dan masuk wilayah Karesidenan Priangan. Karesidenan Priangan berdasarkan penetapan Gubernur Jenderal G.A. Baron van der Capellen tahun 1821 merupakan daerah tertutup bagi orang asing, kecuali yang telah mendapat izin dari Residen Priangan yang berkedudukan di Cianjur (hal. 3). Selama &lt;i style=""&gt;Cultuurstelsel&lt;/i&gt; (Tanam Paksa) Bandung merupakan tempat penimbunan dan pengangkutan hasil bumi dari Priangan. Kemudian tahun 1864 ibukota Karesidenan Priangan beralih dari Cianjur ke Bandung. Hingga abad ke-20 Bandung berkembang menjadi kota perkebunan. Komoditi teh, karet, kopi, dan kina dari Priangan salah satu pengisi pundi-pundi utama kolonial Belanda. &lt;/span&gt;&lt;/p&gt;    &lt;p class="MsoBodyText" style="line-height: 150%;"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;Yang menarik selain ibukota Karesidenan Priangan, Bandung juga sebuah kabupaten, tetapi tanggal 1 April 1906 di bagian tengah kota didirikan Gemeente yang berhak menyelenggarakan pemerintahan sendiri, tentu saja untuk melayani dan mengatur orang Eropa. Gemeente ini menjadi cikal bakal Kotamadya atau Pemerintah Kota. Tentu saja ini seperti duri ikan di tenggorokan Bupati. Anehnya pola pengembangan kota secara konsentrik ini masih diikuti oleh kita hingga sekarang. Akhirnya ibukota kabupaten yang melahirkan dan membesarkan kota harus pindah ke pinggiran. Pembagian yang tak adil.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;    &lt;p class="MsoBodyText" style="line-height: 150%;"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;Sejak tahun 1916 &lt;span style=""&gt; &lt;/span&gt;Bandung dipersiapkan menjadi ibukota Hindia Belanda dimulai dengan pemindahan beberapa jawatan seperti Jawatan Kereta Api, PTT (Pos, Telefon dan Telegraf), Pekerjaan umum, Geologi, dan Kantor Keuangan dari Batavia. Di dalam buku ini Anda dapat melihat bagaimana Hindia Belanda merancang dan menata gedung-gedung pemerintahan. Lokasi utama adalah Gedong Sate ke utara. Anda dapat melihatnya pada beberapa denah yang disisipkan di bagian tengah buku. Yang terlaksana hanya sedikit, akibat keuangan yang tidak mencukupi. Meskipun demikian gedung-gedung yang didirikan pada akhir abad ke-19 dan awal abad ke-20 menjadi pusaka (heritage) saat ini dan masih tetap digunakan, karena perawatan yang baik.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;                            &lt;p class="MsoBodyText" style="line-height: 150%;"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;Dalam buku ini disinggung beberapa gedung kolonial seperti:&lt;br /&gt;Gedung Merdeka (Concordia, C.P. Wolff Schoemaker, 1920)&lt;br /&gt;Hotel Savoy Homann (direnovasi A.F. Aalbers, 1939)&lt;br /&gt;Gedong Sirap ITB (TH, Maclaine Pont, 1920)&lt;br /&gt;SMAN 3 dan 5 (HBS, C.P. Wolff Schoemaker, 1927)&lt;br /&gt;Bank Indonesia Cab. Bandung (Javashe Bank, E.H.G.H Cuypers, 1917)&lt;br /&gt;Bekas Markas Polda Jabar (Olie Fabriek Insulinde, R.L.A Schoemaker, 1917)&lt;br /&gt;Pabrik Kina Kimia Farma (BKF, 1896)&lt;br /&gt;Mapolwiltabes Bandung (Kweekschool, diresmikan 1866)&lt;br /&gt;Mesjid Agung Bandung&lt;br /&gt;Kantor Pusat PT KA (Grand National Hotel, 1910)&lt;br /&gt;Balaikota Bandung (Gedong Papak, E.H.de Roo, 1929)&lt;br /&gt;Beberapa rumah tinggal karya arsitek Soekarno&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoBodyText" style="line-height: 150%;"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;dan masih banyak lagi yang lainnya. Tetapi yang dibahas secara mendalam adalah Gedong Pakuan dan Gedong Sate. Termasuk denah yang cukup rinci dan penelusuran siapa arsiteknya. &lt;/span&gt;&lt;/p&gt;        &lt;p class="MsoBodyText" style="line-height: 150%;"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;Gedong Pakuan mulai dibangun tahun 1864 untuk kediaman Residen Priangan yang seharusnya sudah pindah dari tahun 1856 dari Cianjur. Dalam buku ini tidak diketahui nama arsiteknya, hanya disebutkan Insinyur Kepala, staf dari Residen der Moore, itupun diketahui dari tulisan M.A.J. Kelling (1935). Setelah kemerdekaan gedung ini menjadi kediaman resmi Gubernur Jawa Barat. Gedung yang anggun berwibawa dengan gaya &lt;i style=""&gt;Indische Empire &lt;/i&gt;ini pernah disinggahi tokoh-tokoh dunia seperti Raja Siam (1901), PM Perancis (1920-an), Charlie Chaplin (1927), beberapa kepala negara pada waktu Konferensi Asia Afrika,dll. Namun keanggunan tempat kediaman resmi orang nomor satu di Jabar ini sekarang terganggu dengan berdirinya salah satu hotel di sebelah kiri depan yang melanggar batas tinggi gedung. Meskipun tanggung jawab Pemerintah Kota Bandung aneh gubernur tidak menyadari kejadian di depan matanya. Peristiwa itu menjadi ramai ketika Presiden Susilo Bambang Yudoyono yang sedang menuju Gedong Pakuan tahun 2005 pada peringatan KAA ke-50 menanyakan keberadaan pembangunan hotel tersebut. Sebutan “Gedong Pakuan” sebagai tempat kediaman resmi gubernur ini diberikan oleh istri R.A.A. Wiranatakusumah V atau Dalem Haji yang menempati gedung itu sebagai Wali Negara Pasundan.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoBodyText" style="line-height: 150%;"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;Banyak orang menduga Gedong Sate (disebut demikian karena bagain atasnya ada penangkal petir berbentuk tusuk sate) adalah kediaman Gubernur Jenderal Hindia Belanda. Gedung Sate dibangun untuk &lt;i style=""&gt;Departement V en W&lt;/i&gt; (Departemen Pekerjaan Umum). Sedangkan rencana gedung pemerintah pusat berada di hadapan Gedong Sate (perkiraan saya kini Monumen Perjuangan Rakyat Jawa Barat). Di antara keduanya ada sebuah lapangan/taman dan di kiri kanan lapangan teletak rencana berbagai gedung pemerintahan lainnya. Dari Gedong Sate ke arah utara kita bisa memandang Gunung Tangkuban Parahu, sayang pandangan ke arah sana bagi saya ada yang tidak pas yaitu Gedung Pusat PT Telekomunikasi Indonesia.&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;Gedong Sate seperti juga Gedong Sirap merupakan perpaduan langgam Barat dan Timur. Setelah melalui penelusuran mendalam Haryoto Kunto berpendapat arsitek Gedong Sate adalah Ir. J. Gerber. Gedong Sate yang digunakan Departemen PU pada tahun 1980-an beralih fungsi menjadi Kantor Gubernur Jawa Barat.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;    &lt;p class="MsoBodyText" style="line-height: 150%;"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;Mari kita pelihara peninggalan-peninggalan sejarah kota Badung ini. Jangan sampai kehilangan lagi seperti Gedung Singer tahun 1992. Karya arsitektur Bung Karno mendiang&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;presiden pertama RI hanya ada di Bandung. Dari l.k. 35 bangunan, sudah banyak yang dirombak, dirobohkan, bahkan salin rupa (hal. 40). Jangan terjadi lagi.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;          &lt;p class="MsoBodyText" style="line-height: 150%;"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;i style=""&gt;&lt;span lang="IN"&gt;Tak ada sebuah kota pun di negeri ini seperti Kota Bandung, &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;br /&gt;yang memberi kesempatan kepada arsitek, &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;br /&gt;sehingga karsa seninya dapat terwujud menjadi kenyataan.&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;br /&gt;&lt;span lang="IN"&gt;(hal. 42, Dr. D.M.G. Koch, 1952)&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8983338289940995135-2419572612505579023?l=akubacabuku.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://akubacabuku.blogspot.com/feeds/2419572612505579023/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://akubacabuku.blogspot.com/2008/07/gedung-kolonial-di-kota-bandung.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8983338289940995135/posts/default/2419572612505579023'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8983338289940995135/posts/default/2419572612505579023'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://akubacabuku.blogspot.com/2008/07/gedung-kolonial-di-kota-bandung.html' title='GEDUNG KOLONIAL DI KOTA BANDUNG'/><author><name>Asep Suryana</name><uri>http://www.blogger.com/profile/10523153530100050939</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://2.bp.blogspot.com/_BhFnIsjhfKc/Syj4fG2boRI/AAAAAAAAAdQ/qaZIYaAkDMk/S220/profil.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://3.bp.blogspot.com/_BhFnIsjhfKc/SIAHLtsCBwI/AAAAAAAAAHw/D528VP9lqNg/s72-c/Balai+Agun.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8983338289940995135.post-4781127241049482342</id><published>2008-07-04T13:42:00.007+07:00</published><updated>2008-12-11T23:19:05.999+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Semerbak Bunga di Bandung Raya'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Haryoto Kunto'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Bandung'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Kota Kembang'/><title type='text'>BUKU HIJAU TENTANG BANDUNG</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://1.bp.blogspot.com/_BhFnIsjhfKc/SG3J_ixvGrI/AAAAAAAAAHo/NbmpIeFo7sc/s1600-h/SBR1.jpg"&gt;&lt;img style="margin: 0pt 0pt 10px 10px; float: right; cursor: pointer;" src="http://1.bp.blogspot.com/_BhFnIsjhfKc/SG3J_ixvGrI/AAAAAAAAAHo/NbmpIeFo7sc/s320/SBR1.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5219049636696627890" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;              &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 200%;"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;Judul Buku&lt;span style=""&gt;       &lt;/span&gt;: Semerbak Bunga di Bandung Raya&lt;i style=""&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/i&gt;&lt;br /&gt;Penulis&lt;span style=""&gt;              &lt;/span&gt;: Haryoto Kunto&lt;br /&gt;Penerbit &lt;span style=""&gt;           &lt;/span&gt;: Granesia&lt;br /&gt;Tahun terbit&lt;span style=""&gt;      &lt;/span&gt;: 1986, April, cetakan ke-I&lt;br /&gt;Tebal Buku &lt;span style=""&gt;      &lt;/span&gt;: x, 1116 halaman&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;              &lt;p class="MsoBodyText" style="line-height: normal;"&gt;&lt;i style=""&gt;&lt;span lang="IN"&gt;“Hana nguni hana mangke&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;br /&gt;tan hana nguni tan hana mangke&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;br /&gt;aya ma baheula aya tu ayeuna&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;br /&gt;hanteu ma baheula hanteu tu ayeuna&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;br /&gt;hana tunggak hana watang&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;br /&gt;tan hana tunggak tan hana watang&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;br /&gt;hana ma tunggulna aya tu catangna.”&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoBodyText" style="line-height: normal;"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;(Kropak 632 dari Kabuyutan Ciburuy, SBBR hal.&lt;i style=""&gt;v&lt;/i&gt;)&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;    &lt;p class="MsoBodyText" style="line-height: 150%;"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;font-size:180%;" &gt;B&lt;/span&gt;uku dengan judul di atas diterbitkan setelah karya besar lainnya dari almarhum Haryoto Kunto “Wajah Bandoeng Tempo Doeloe”. Ketika saya membeli buku "Semerbak Bungan di Bandung Raya" pada suatu pameran buku di bekas Toko De Zon di Jl. Asia Afrika Bandung tahun 1990-an awal, harganya Rp 20.000. Kini di toko buku antik harganya mencapai Rp 680.000,- &lt;/span&gt;&lt;/p&gt;    &lt;p class="MsoBodyText" style="line-height: 150%;"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;Saya sendiri kesulitan mencari buku “Wajah Bandoeng Tempo Doeloe”, karena lama tidak dicetak ulang. Buku kepunyaan orang tua saya dipiinjam seseorang dan tak pernah kembali. Ada pemeo “adalah bodoh orang yang meminjamkan buku, lebih bodoh lagi orang yang mengembalikan buku”. Saya sendiri mengalami, buku berjudul “Bandung Baheula” dua jilid terbitan tahun 1960-an oleh peminjam dikatakan ada yang meminjam dan dipinjamkan lagi dan .....tak kembali lagi.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;    &lt;p class="MsoBodyText" style="line-height: 150%;"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;Namun buku pusaka “Wajah Bandoeng Tempo Doeloe” dan “Semerbak Bunga di Bandung Raya” (SBBR) Maret 2008 diterbitkan lagi oleh PT Granesia dan harganya ratusan ribu. Jadi kita tak akan kesulitan lagi mencarinya asal ada ......&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoBodyText" style="line-height: 150%;"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoBodyText" style="line-height: 150%;"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;Buku SBBR bukan hanya berisi nostalgia masa lalu, tetapi juga berisi tentang perencanaan kota Bandung. Para pengambil keputusan sangat berkepentingan dengan hal ini. Begitu pula penduduk yang cerdas semestinya memahami asal-usul, seluk-beluk kotanya, dengan demikian dapat hidup selaras dengan lingkungan hidupnya. Dataran tinggi Bandung 30 – 25 juta tahun lampau masih berada di bawah permukaan laut, bukan hanya Bandung bahkan seluruh Pulau Jawa (awal Miosen). Salah satu buktinya adalah pegunungan kapur Tagog Apu di Padalarang. Pada masa Miosen akhir (25 -14 juta tyl.) pantai utara P. Jawa sudah terbentuk di Pangalengan, dataran tinggi Bandung masih di bawah laut. Sekitar 6000 tahun yang lalu dataran tinggi bandung menjadi sebuah danau. Peristiwa itu kemungkinan disaksikan oleh penduduk purba Bandung, karena di daerah yang diperkirakan pinggiran danau ditemukan bekas-bekas peninggalan mereka. Sayang beberapa artefak tidak dapat diselamatkan.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;    &lt;p class="MsoBodyText" style="line-height: 150%;"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;Secara resmi nama Bandung sebagai Ibukota Kabupaten tertulis dalam peraturan tertanggal 18 Maret 1811, setahun setelah perintah Daendels tanggal 25 Mei 1810 yang memerintahkan Bupati Bandung memindahkan ibukotanya dari Dayeuh Kolot mendekati Jalan Raya Pos. Bandung sebagai sebuah kota dengan konsep moderen tumbuh pesat setelah didirikan Gemeente Bandung cikal-bakal kotamadya Bandung pada awal abad 20.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;      &lt;p class="MsoBodyText" style="line-height: 150%;"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;Buku&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;ini bukanlah sejarah dengan kronologisnya, tetapi ramuan antara kondisi tempo dulu dan kondisi saat buku itu dibuat. Tentu Anda juga bisa membandingkan dengan kondisi saat ini setelah 22 tahun buku SBBR ini terbit pertama kalinya. Maaf saya belum sempat melihat edisi 2008, apakah ada revisi oleh orang lain atau tidak. Seandainya Kuncen Bandung masih hidup saya kira tentu akan melakukannya.&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoBodyText" style="line-height: 150%;"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;Bandung sebagai kota jajanan ternyata sudah dari jaman dulu. Bahkan sekarang sudah menjadi “Kota Fatory Outlet”. Makanan tradisional seperti peuyeum, dawet, cendol, oncom, soto dari Bandung sudah lama dikenal. Bahkan di Jakarta dan beberapa kota lainnya sekarang banyak dijual dengan merek Bandung seperti Siomay Bandung, Cendol Bandung, Martabak Bandung, meskipun orang yang dagang maupun resepnya tidak berbau Bandung sama sekali, tetapi kata “Bandung” dapat lebih menjual. Berbagai julukan kota bandung yang positif tidak terlepas dari kreativitas warganya. Mengenai sandang toko-toko di Jalan Braga merupakan trend setter fesyen jaman baheula. Tetapi kemasyhuran jalan itu sulit dibangkitkan kembali. Sudah beberapa kali dicoba. Begitu pula Pekan Dagang Tahunan yang dimulai tahun 1920 serupa Pekan Raya Jakarta sekarang hanya meninggalkan Gedung Jaarbeurs yang sempat digunakan dalam &lt;i style=""&gt;trade fair&lt;/i&gt; tersebut. &lt;/span&gt;&lt;/p&gt;      &lt;p class="MsoBodyText" style="line-height: 150%;"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;Tetapi bagaimana kota Bandung mendapat julukan Kota Kembang? Ini banyak versi mungkin salah satu benar, mungkin juga beberapa benar. Apakah dahulu penduduk kota Bandung benar-benar gemar menanam bunga? Yang jelas ada masanya setiap pagi dari Bandung dikirim bungan untuk kantor Gubernur Jenderal di Batavia melalui kereta api. Ataukah sebutan kembang personifikasi untuk mojang-mojang Bandung? Bagi orang luar Bandung buktikan saja “Come and stay in Bandung”. &lt;span style=""&gt; &lt;/span&gt;Yang berkonotasi negatif juga ada yaitu sebutan bagi noni-noni yang menghibur para Raja Gula yang sedang pusing dalam suatu konferensi di jaman kolonial. Entahlah.&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoBodyText" style="line-height: 150%;"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;Buku-buku Haryoto Kunto begitu pula tulisan-tulisannya di koran Pikiran Rakyat menjadi inspirasi dan meningkatkan partisipasi warga kota untuk berperan dalam pelestarian dan pembangunan kota Bandung. Banyak orang menjadi tahu perjalanan kota ini dan bagaimana seharusnya ke depan. Sekarang dapat ditemukan berbagai perkumpulan pecinta pelestarian kota Bandung (heritage society) yang dimotori anak anak muda, seperti Bandung Trails, Mahanagari, Aleut, dll. mendampingi yang sudah ada dan sangat serius seperti Bandung Heritage dan Kelompok Riset Cekungan Bandung.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;    &lt;p class="MsoBodyText" style="line-height: 150%;"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;Seperti disebutkan di atas di dalam buku ini ada Rencana Induk Kota Bandung 1985 yang disajikan secara sederhana, tentu saja &lt;i style=""&gt;masterplan&lt;/i&gt; ini akan mengalami perubahan di kemudian hari. Ini terdapat dalam Bab XXI berjudul “Bandung Menjelang Tahun 2005”&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;sebelum Epilog. Sekarang sudah tahun 2008 apakah rencana induk itu berjalan dengan baik? Anda warga kota dapat menilainya. Pengamatan saya yang lain Aktivitas Haryoto Kunto juga memicu penulis-penulis lain menulis sejarah kotanya. Begitu pula untuk kota Bandung, masih banyak yang belum diceritakan dan tetap saja akan menarik untuk diungkapkan.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8983338289940995135-4781127241049482342?l=akubacabuku.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://akubacabuku.blogspot.com/feeds/4781127241049482342/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://akubacabuku.blogspot.com/2008/07/buku-hijau-tentang-bandung.html#comment-form' title='4 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8983338289940995135/posts/default/4781127241049482342'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8983338289940995135/posts/default/4781127241049482342'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://akubacabuku.blogspot.com/2008/07/buku-hijau-tentang-bandung.html' title='BUKU HIJAU TENTANG BANDUNG'/><author><name>Asep Suryana</name><uri>http://www.blogger.com/profile/10523153530100050939</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://2.bp.blogspot.com/_BhFnIsjhfKc/Syj4fG2boRI/AAAAAAAAAdQ/qaZIYaAkDMk/S220/profil.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://1.bp.blogspot.com/_BhFnIsjhfKc/SG3J_ixvGrI/AAAAAAAAAHo/NbmpIeFo7sc/s72-c/SBR1.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>4</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8983338289940995135.post-3172903807884767591</id><published>2008-06-01T09:19:00.008+07:00</published><updated>2009-03-31T19:29:47.496+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Sunda'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='J. Noorduyn'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Bujangga Manik'/><title type='text'>PERJALANAN BUJANGGA MANIK</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://1.bp.blogspot.com/_BhFnIsjhfKc/SEVCxVtcxzI/AAAAAAAAAHc/VTCF2VPOzjk/s1600-h/manic1.jpg"&gt;&lt;img style="margin: 0pt 0pt 10px 10px; float: right; cursor: pointer;" src="http://1.bp.blogspot.com/_BhFnIsjhfKc/SEVCxVtcxzI/AAAAAAAAAHc/VTCF2VPOzjk/s320/manic1.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5207641959532644146" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;span lang="IN"&gt;Judul Buku&lt;span style=""&gt;       &lt;/span&gt;: &lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Perjalanan Bujangga Manik Menyusuri Tanah &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;                     Jawa:&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span lang="IN"&gt;&lt;i style=""&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt; Data Topografis dari Sumber Sunda Kuno&lt;/span&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/i&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Penulis&lt;span style=""&gt;                     &lt;/span&gt;: J.&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;Noorduyn&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Penerjemah&lt;span style=""&gt;      &lt;/span&gt;: Iskandarwassid&lt;br /&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 200%;"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;Penerbit  : KITLV (Netherland) dan LIPI (Indonesia, Jakarta)&lt;br /&gt;Tahun terbit&lt;span style=""&gt;      &lt;/span&gt;: 1984&lt;br /&gt;Tebal Buku &lt;span style=""&gt;      &lt;/span&gt;: ii, 51 halaman (Ukuran kertas A4)&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;            &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;i style=""&gt;&lt;span lang="IN"&gt;ngalalar aing ka Bubat,&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;br /&gt;cunduk aing ka manguntur,&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;br /&gt;ka buruan Majapahit,&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;br /&gt;ngalalar ka Darma Anyar,&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;br /&gt;na karang Kajramanan,&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;br /&gt;&lt;span lang="IN"&gt;(brs. 800-804)&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;Entah bagaimana naskah kuno berisi perjalanan Bujangga Manik ini jadi koleksi Perpustakaan Bodleian di Oxford Inggris sejak tahun 1627 atau 1629. Hingga tahun 1950 baru disadari bahwa naskah di atas 29 lembar daun palem itu merupakan naskah kuno dari Jawa Barat Indonesia. Bagi orang Sunda dan Indonesia tentu penemuan ini besar sekali artinya.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;Sesuai dengan judulnya penulis membatasi pada data topografis dari kedua kisah perjalanan Bujangga Manik. Perjalanan pertama dari Pakuan hingga Brebes di Jawa Tengah sekarang (125 baris). Sedangkan perjalanan kedua dari Pakuan hingga ke Jawa Timur dan Bali (550 baris) jadi total 675 baris. Jumlah baris seluruhnya 1641 inipun dianggap tidak lengkap. Jika benar di mana sebagian lagi?&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;Penekanan penelitian sastra kuno ini pada nama-nama tempat, sungai, gunung, pelabuhan pada jalur atau dekat jalur yang dilewati. Ada sekira 450 nama yang bertautan dengan Pulau Jawa. Penulis lontar adalah pelaku utama dalam puisi Sunda buhun ini. Beliau sangat teliti dalam menuliskan nama-nama tempat. Nama-nama itu dibagi dalam tiga kelompok yaitu nama-nama yang masih dipakai sampai sekarang, kedua nama-nama yang sudah tidak diketahui lagi, dan ketiga nama-nama toponim zaman dahulu yang juga ada disebutkan dari sumber-sumber lain.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;Jumlah baris dalam pantun yang menceritakan tentang kedua perjalanan adalah 675, sedangkan 966 baris lainnya tidak menjadi titik perhatian tulisan ini. Jadi bagian lain seperti peristiw-peristiwa di istana Pakuan, seluk beluk Bujangga Manik sebagai pertapa dan perjalanan Bujangga manik ke Kahiyangan tidak dibahas. &lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;Penyebutan nama-nama tempat dalam naskah Bujangga Manik sangat membantu dalam memetakan kondisi Pulau jawa saat perjalanan atau naskah ini dibuat. Kapan? Dalam naskah ini disebut-sebut Majapahit, Demak, dan Malaka. Perjalanannya hampir seperti menyusuri bagian utara dan tengah Pulau Jawa kembali ke Pakuan (Bogor sekarang) menyusuri bagian selatan.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;Diperkirakan naskah ini dibuat akhir abad ke-15 dalam bahasa Sunda kuno. Tak ada unsur serapan dari bahasa Arab sedikitpun, jadi kemungkina dibuat sebelum mulai berkembangnya agama Islam di Jawa Barat. Noorduyn membatasi perkiraan pembuatan cerita ini dari perempat kedua abad ke-15 hingga tahun 1511. Sedangkan Bujangga Manik sendiri diduga seorang &lt;i style=""&gt;tohaan&lt;/i&gt; (pangeran) Kerajaan Sunda (Pajajaran). Putra Prabu Siliwangi yang mengembara dan menjadi pertapa terkenal. Banyak versi mengenai hal ini. &lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;Selain Noorduyn, beberapa pihak juga mencoba meneliti naskah Bujangga Manik dengan meminta salinan manuskrip langsung ke Perpustakaan Bodleian (No. katalog MS.Jav.b.3 (R)), terutama yang tidak diteliti Noorduyn. Saya belum membaca buku Noorduyn mengenai Bujangga Manik yang sepeninggalnya diselesaikan oleh A . Teeuw berjudul &lt;i style=""&gt;“Three Old Sundanese Poems”&lt;/i&gt; (KITLV, 2006) salah satu dari ketiga pantun adalah Bujangga Manik. Barangkali dalam buku ini ada kajian lain selain topografi Jawa. Para ahli lainnya yang dapat membaca dan mengerti huruf dan bahasa Sunda kuno diharapkan dapat mengkaji kembali naskah berharga ini. Selama ini tentang Bujangga Manik masih mengandalkan karya-karya Noorduyn. Seperti kita ketahui beberapa ahli yang mempunyai kapasitas di bidang itu seperti Bapak Atja, Saleh Danasasmita, Edi S. Ekadjati, dan Ayat Rohaedi telah meninggal. Kini tinggal beberapa orang saja ahli filologi khususnya bahasa Sunda kuno. &lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;            &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;i style=""&gt;&lt;span lang="IN"&gt;nanjak ka Lembu Hambalang,&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;br /&gt;sadatang ka Bukit Ageung,&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;br /&gt;eta hulu Cihaliwung,&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;br /&gt;Kabuyutan ti Pakuan,&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;br /&gt;Sanghiang Talaga Warna,&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;br /&gt;&lt;span lang="IN"&gt;(brs. 1350-1354)&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8983338289940995135-3172903807884767591?l=akubacabuku.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://akubacabuku.blogspot.com/feeds/3172903807884767591/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://akubacabuku.blogspot.com/2008/06/perjalanan-bujangga-manik.html#comment-form' title='7 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8983338289940995135/posts/default/3172903807884767591'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8983338289940995135/posts/default/3172903807884767591'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://akubacabuku.blogspot.com/2008/06/perjalanan-bujangga-manik.html' title='PERJALANAN BUJANGGA MANIK'/><author><name>Asep Suryana</name><uri>http://www.blogger.com/profile/10523153530100050939</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://2.bp.blogspot.com/_BhFnIsjhfKc/Syj4fG2boRI/AAAAAAAAAdQ/qaZIYaAkDMk/S220/profil.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://1.bp.blogspot.com/_BhFnIsjhfKc/SEVCxVtcxzI/AAAAAAAAAHc/VTCF2VPOzjk/s72-c/manic1.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>7</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8983338289940995135.post-8702118070463707126</id><published>2008-05-14T19:57:00.004+07:00</published><updated>2008-12-11T23:19:06.621+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Artefak'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Sunda'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Pantun'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Ajip Rosidi'/><title type='text'>MEMBACA BUDAYA PRIMORDIAL SUNDA</title><content type='html'>&lt;a href="http://2.bp.blogspot.com/_BhFnIsjhfKc/SCrinse_u1I/AAAAAAAAAGg/dR88DlGiUp8/s1600-h/Artefak-Sunda.jpg"&gt;&lt;img id="BLOGGER_PHOTO_ID_5200217891336600402" style="FLOAT: right; MARGIN: 0px 0px 10px 10px; CURSOR: hand" alt="" src="http://2.bp.blogspot.com/_BhFnIsjhfKc/SCrinse_u1I/AAAAAAAAAGg/dR88DlGiUp8/s200/Artefak-Sunda.jpg" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;div align="justify"&gt;Judul Buku : Simbol-simbol Artefak Budaya Sunda: &lt;em&gt;Tafsir-tafsir pantun &lt;/em&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;em&gt;Sunda&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;Penulis : Jakob Sumardjo&lt;br /&gt;Penerbit : Kelir, Bandung&lt;br /&gt;Tahun terbit : 2003, Juli&lt;br /&gt;Tebal Buku : xxvii, 364 halaman&lt;br /&gt;ISBN : 979-97717-0-6&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jakob Sumardjo seorang Jawa menafsirkan pantun Sunda? Sebenarnya tidak harus menjadi aneh, karena ada juga peneliti berkebangsaan Belanda, Jepang, atau Amerika yang meneliti kebudayaan Sunda. Dengan demikian kita akan mengetahui bagaimana orang luar memandang kebudayaan Sunda tanpa pretensi apa-apa. Beliau telah lebih dari 40 tahun hidup di tatar Sunda, latar belakangnya sebagai seorang Jawa dan khazanah keilmuannya terutama kebudayaan sangat berguna ketika menerangkan gejala budaya Sunda ketika berada pada tataran yang sama dengan kebudayaan lain.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Penulis buku menggunakan pendekatan hermeneutik dalam mengkaji pantun. Sementara melepaskan diri dari nilai-nilai kini dan memasuki dunia pantun dengan tata nilai masyarakat yang menghasilkannya. Penulis mengaku belum pernah menonton pertunjukan pantun. Beliau hanya membaca cerita pantun dan transkripsi pantun terutama yang telah dikerjakan oleh Ajip Rosidi (1970). Diakuinya vokal juru pantun dan petikan kecapi pengiringnya akan membantu memperoleh makna pantun. Meskipun telaah hanya pada struktur pantun tetapi tidak mengurangi bobot buku ini. Dengan rendah hati Jakob menyebutkan bukunya lebih merupakan esai dari pada kajian ilmiah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pantun merupakan seni pertunjukan teater tutur. Teater tutur di Indonesia tersebar seperti kentrung di Jawa Timur, jemblung di Banyumas, warahan di Lampung, dingdong di Gayo, sinrili di Sulawesi Selatan, bakaba di Minangkabau dan lain-lain. Pantun dipertunjukan oleh seorang pencerita dan diiringi oleh instrumen musik tradisional suku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di Jawa Barat dan Banten juru pantun melantunkan sebuah kisah dengan diiringi instrumen musik kecapi. Umumnya pertunjukan pantun pada malam hari “di luar waktu” manusia (kegiatan manusia sehari-hari), yaitu “waktu suci”. Pertunjukan pantun terutama ditujukan untuk ruatan (upacara keselamatan). Hingga tahun 1950-an pantun masih sering dipertunjukan. Tetapi menjelang tahun 1970-an sudah jarang dipentaskan, sehingga banyak budayawan yang berusaha merekam dan mentranskripsi pantun-pantun. Juru pantun sudah sangat langka, karena generasi berikutnya sudah tidak tertarik.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menurut arkeolog alm. Ayat Rohaedi, dalam naskah Sanghyang Siksa: Kanda ng Karesyan (1518) terdapat empat buah cerita pantun yaitu Siliwangi, Haturwangi, Banyakcitra, dan Langga-larang. Jadi sekitar tahun 1400 pantun ini sudah dikenal masyarakat Sunda. Dalam perjalanannya pantun mendapat pengaruh Hindu-Budha, dan Islam. Dalam rajah (doa atau mantra) misalnya terdapat alamat-alamat dunia atas seperti dewata dan pohaci (pantun Lutung Kasarung), batara-batari, dewa, dan Batara Guru (naskah Mundinglaya), nama-nama Allah, Nabi Muhammad, Rasul (naskah Sulanjana-Sri Sadana). Pengucapan ahung (aslinya aum) bisa sampai 40 kali, kadang diganti dengan astagfirullah aladzim empat kali. Ini menunjukan bagaimana pengaruh-pengaruh agama dalam seni pantun.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Buku ini meskipun sebagian isinya adalah esai-esai yang pernah dipublikasikan di media cetak, namun diramu kembali cukup apik. Tentunya tidak dapat dihindarkan adanya pengulangan. Buku ini dimulai dengan tulisan mengenai Pertunjukan Pantun dan Latar Belakang Sejarah Budaya Pantun. Layaknya sebuah kajian ilmiah Bab Empat disajikan Pandangan Dasar. Bab Lima menyajikan Tafsir Kosmologi Pantun yang ditarik dari beberapa pantun seperti Mundinglaya Di Kusumah, Ciung wanara, Nyai Sumur Bandung, Panggung Karaton, Lutung leutik, Kuda Wangi, Kidang Panandri, Gajah Lumantung, Lutung Kasarung, dan Sri Sadana.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bab Enam berupa Tafsir Budaya Pantun. Penulis menarik maksud-maksud dari siloka pantun dengan piawai, apalagi beliau adalah dosen mata kuliah kebudayaan. Saya sering pula menemukan tulisan beliau mengenai sastra dan teater. Apa saja yang dijelaskan? Antara lain Sang Hyang Tunggal, Guriang Tunggal, Sunan Ambu, Pohaci, Lengser, Asas Tritangtu, Asas Dalam-Luar Budaya Sunda, Arketip kepemimpinan Sunda, kosmologi rumah Sunda, keraton Sunda dalam pantun, perempuan dalam masyarakat Sunda lama, dan kuburan kosong di Pasundan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jika Anda sama seperti saya yang orang Sunda, tetapi tidak tahu apa arti dan bagaimana menjadi orang Sunda namun ingin tahu kesundaan pasti akan tertarik dengan bab-bab di atas. Bagaimana kalau Anda meneruskan bacaannya ke Bab Tujuh? Judul bab ini adalah Membaca Budaya Primordial Sunda. Bab ini dibagi ke dalam bahasan mengenai topografi Sunda, habitat dan budaya, pola kampung dan rumah, religiositas Sunda, Sunda dan Islam, humor Sunda, akar budaya, dan alam pikiran mistis-spiritual.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam pantun ditemukan pola tetap yang merupakan asas primordial Sunda yaitu tritangtu. Segala sesuatu terdiri dari dua kutub yang berlawanan dan berpotensi konflik, tetapi juga komplementer, saling melengkapi dan saling membutuhkan. Yang ketiga merupakan hasil perkawinan kedua kutub. Contoh “lelaki” dan “perempuan” perkawinannya menghasilkan “anak”. Perkawinan Dunia Atas (Buana Nyungcung) dan Dunia Bawah (Buana Larang) menghasilkan Dunia Tengah (Buana Panca Tengah). Asas yang sama juga ditemukan dalam masyarakat Batak dalihan na tolu, dan di Minang tigo sajarangan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Artefak berupa peninggalan arkeologi secara fisik di Jawa bagian barat sangat minim sekali. Maka pantun Sunda dapat menjadi artefak budaya Sunda. Melalui dekonstruksi pantun kita berusaha menggali dan memahami akar budaya. Nilai-nilai mana yang harus ditinggalkan dan nilai-nilai mana yang patut dipertahankan kemudian ditransformasikan. Masyarakat di Nusantara mempunyai akar budaya yang berbeda di wilayahnya masing-masing dan semua ini harus bersatu. Dan persatuan itu adalah perkawinan nilai-nilai. Sama saja seperti pada Kebudayaan Barat apabila sudah berbicara falsafah hidup mereka akan meghadirkan kembali pemikiran-pemikiran Aristoteles, Socrates, Plato, dll yang hidup Sebelum Masehi. “Kita tidak dapat membangun masa depan tanpa mempertimbangkan akar. Karena akar itulah kekuatan kita. Hidup tanpa akar akan tumbang”. Demikian Jakob Sumardjo menutup bukunya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bagi saya buku ini adalah menggali kembali akar budaya Sunda melalui struktur pantun dan memberitahukan kepada generasi saya nilai-nilai apa yang terkandung di dalamnya. Agar transformasi nilai-nilai terjadi harus diupayakan penerbitan buku-buku semacam ini. Naskah-naskah yang tersimpan dalam lontar, janganlah hanya menjadi obyek kajian ilmiah semata bagi peneliti dan menyimpannya dalam rak-rak penelitian tanpa seluas-luasnya ditransformasikan kepada masyarakat pemilik kebudayaan. Sayang buku setebal ini tidak dilengkapi indeks. &lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8983338289940995135-8702118070463707126?l=akubacabuku.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://akubacabuku.blogspot.com/feeds/8702118070463707126/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://akubacabuku.blogspot.com/2008/05/membaca-budaya-primordial-sunda.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8983338289940995135/posts/default/8702118070463707126'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8983338289940995135/posts/default/8702118070463707126'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://akubacabuku.blogspot.com/2008/05/membaca-budaya-primordial-sunda.html' title='MEMBACA BUDAYA PRIMORDIAL SUNDA'/><author><name>Asep Suryana</name><uri>http://www.blogger.com/profile/10523153530100050939</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://2.bp.blogspot.com/_BhFnIsjhfKc/Syj4fG2boRI/AAAAAAAAAdQ/qaZIYaAkDMk/S220/profil.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://2.bp.blogspot.com/_BhFnIsjhfKc/SCrinse_u1I/AAAAAAAAAGg/dR88DlGiUp8/s72-c/Artefak-Sunda.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8983338289940995135.post-5194709449758816065</id><published>2008-04-25T10:21:00.011+07:00</published><updated>2008-12-11T23:19:06.836+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Bosscha'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Savoy Homann'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Danau Bandung'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Jawa Barat'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Gua Pawon'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Bandung'/><title type='text'>BUKU PANDUAN BANDUNG</title><content type='html'>&lt;a href="http://1.bp.blogspot.com/_BhFnIsjhfKc/SBFPzi2jUHI/AAAAAAAAAGA/N7K5y6YKO24/s1600-h/Jendela-bandung-Kecil.jpg"&gt;&lt;img id="BLOGGER_PHOTO_ID_5193019592282427506" style="FLOAT: right; MARGIN: 0px 0px 10px 10px" alt="" src="http://1.bp.blogspot.com/_BhFnIsjhfKc/SBFPzi2jUHI/AAAAAAAAAGA/N7K5y6YKO24/s200/Jendela-bandung-Kecil.jpg" border="0" /&gt;&lt;/a&gt; Judul Buku : Jendela Bandung: &lt;em&gt;Pengalaman bersama Kompas&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;Penulis : Her Suganda&lt;br /&gt;Penerbit : PT Kompas Media Nusantara, Jakarta&lt;br /&gt;Tahun terbit : 2007, November&lt;br /&gt;Tebal Buku : xiv, 498 halaman&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kota Bandung jauh lebih muda dari Jakarta, Yogyakarta, Surabaya, bahkan lebih muda dari beberapa kota lainnya di Jawa Barat. Namun perjalanan hidupnya sebagai sebuah organisma sangat menarik. Tahun 2010 kota ini akan genap berumur 200 tahun. Meskipun alm. Haryoto Kunto sudah banyak bercerita tentang Bandung dengan menulis buku maupun artikel yang tersebar di berbagai media, tetap saja masih mengasyikan membaca buku lain tentang Bandung.&lt;br /&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div align="justify"&gt;Buku Jendela Bandung dibagi dalam tiga bagian. Bab pertama menceritakan sejarah geologi Bandung yang berawal dari sebuah dasar samudera yang dalam, kemudian sebuah danau, dan tidak lupa disajikan bukti-bukti kini yang masih dapat dijumpai untuk mendukung pendapat tersebut. Bukankah sangat menarik menceritakan sebuah kota yang sibuk dihuni oleh jutaan orang, tetapi dahulunya adalah dasar samudera yang dalam? &lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;Bukit-bukit batu gamping di Padalarang menjadi bukti bahwa daerah ini dahulunya merupakan terumbu karang di pinggiran pantai. Sudah lama bukit-bukit ini digerus mesin industri kapur. Di sana terdapat Gua Pawon yang terkenal sebagai peninggalan manusia purba Bandung. Kerangka manusia purba tersebut belum lama ditemukan. Akankah monumen alam tersebut hilang oleh kepentingan ekonomi? &lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;Kisah Bandung yang sangat dikenal umum adalah ketika dataran tinggi ini berupa danau. Panjang danau ini sekira 50 km dari timur ke barat (Nagreg-Padalarang) dan lebarnya 30 km dari utara ke selatan (Dago-Soreang). Banyak temuan purbakala yang diperoleh sepanjang pinggiran danau purba. Tentu saja danau ini sangat erat dengan legenda Sangkuriang. Legenda ini hidup di masyarakat Sunda yang hidup di Pulau Jawa bagian barat dan terus diceritakan dari generasi ke generasi. Inilah kearifan jaman dulu menceritakan keadaannya ketika belum ada perguruan tinggi jurusan geologi dan sejarah. Saya mendengar dari seorang sepuh konon katanya seorang geolog Belanda sampai menangis mendengar Cerita Rakyat Sangkuriang. Bahkan almarhum dua geolog terkemuka Prof H. Th. Klompe dan Prof. Adrian George de Neve sebelumnya mewasiatkan agar abu jenazahnya ditaburkan di Kawah ratu salah satu kawah Gunung Tangkubanparahu yang sangat erat kaitannya dengan cerita Sangkuriang. &lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;Bab kedua mengisahkan Bandung tempo dulu dari sebuah dusun sunyi dan perintah dipindahkannya bandung dari Dayeuhkolot mendekati Jalan Raya Pos (Grote Postweg). Surat perintah pemindahan dikeluarkan oleh Gubernur Jenderal H.W. Daendels tertanggal 25 September 1810 kepada Bupati Wiranatakusumah II. Kini tanggal tersebut diperingati sebagai hari jadi kota Bandung. &lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;Bab kedua terdiri dari beberapa bagian yang berkisah tentang gedung-gedung tua dan bersejarah serta orang-orang terkenal. Tempat-tempat seputar Bandung yang mempunya kaitan dengan tumbuhnya kota Bandung juga disajikan. Benar-benar kita diajak ke masa lampau. &lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;Kota Bandung terus tumbuh seperti sebuah organisma hidup setelah di seputarnya didirikan perkebunan teh, kopi, kina, dan karet. Hotel Preanger bukti kejayaan para Preanger Planters, tempat menginap pengusaha perkebunan dari Priangan berkebangsaan Belanda. Mulai pertengahan abad 19 banyak dibangun gedung-gedung yang mempunyai langgam khas seperti langgam &lt;em&gt;Ghotic, Empirestijl, dan Art Deco&lt;/em&gt;. Tahun 2001 dianugerahi predikat salah satu dari “10 World Cities of Art Deco”. &lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;Bab ketiga memandu kita ke keadaan Bandung masa kini. Bandung selain pusat pendidikan, juga terkenal dengan aneka jenis makanan serta fesyen. Toko-toko yang menjual makanan khas sejak puluhan tahun silam masih banyak yang bertahan. Namun orang Bandung juga kreatif menciptakan olahan makanan baru. Saya pernah baca di internet seorang eksekutif muda sengaja nyetir sendiri ke kota Bandung untuk makan batagor (baso-tahu goreng). Pada lampiran disuguhkan secara lengkap alamat resto-kafe, tempat jajan, toko kue, FO (factory outlet), hotel, transportasi, tempat-tempat wisata seputar Bandung, dan diakhiri dengan daftar banguna kolonial di kota Bandung. &lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;Sebagai sebuah buku panduan, buku dengan judul Jendela Bandung ini sudah memadai pada saat ini. Bersama buku ini disertakan pula peta jalan kota Bandung terutama arus searah yang sering dikeluhkan oleh para pendatang. Buku ini juga mempunyai Indeks yang jarang saya jumpai pada buku-buku berbahasa Indonesia. &lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;Hanya saja di halaman 285 pada edisi buku yang saya peroleh terdapat keterangan gambar yang tertukar. Pada bagian atas terdapat foto Hotel Savoy Homann tetapi keterangannya Hotel Preanger dan di bawahnya foto Hotel Preanger keterangannya ditulis Hotel Savoy Homann. Kemudian ada penggunaan kata yang tidak tepat sebanyak tiga kali yaitu "reflaktor" seharusnya "refraktor" untuk menyebut teleskop refraktor ganda Zeiss yang ada di Observatorium Bosscha (hal. 291, 292, dan 295). Selain teleskop refraktor (teleskop bias) ada pula teleskop reflektor (teleskop pantul). Kesalahan cetak juga ada di halaman 34 mengenai goa Belanda di Dago Pakar yang dibangun tahun 1812 seharusnya 1912. Kesalahan-kesalahan ini mudah-mudahan dapat diperbaiki pada edisi selanjutnya. Namun semua itu tidak mengurangi buku ini sebagai panduan.&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;Bagi Anda yang ingin tahu seluk-beluk kota Bandung lebih jauh, mengapa tidak baca buku karya Her Suganda ini? Buku ini adalah buah kegiatannya selama menjadi koresponden Kompas.&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8983338289940995135-5194709449758816065?l=akubacabuku.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://akubacabuku.blogspot.com/feeds/5194709449758816065/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://akubacabuku.blogspot.com/2008/04/buku-panduan-bandung.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8983338289940995135/posts/default/5194709449758816065'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8983338289940995135/posts/default/5194709449758816065'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://akubacabuku.blogspot.com/2008/04/buku-panduan-bandung.html' title='BUKU PANDUAN BANDUNG'/><author><name>Asep Suryana</name><uri>http://www.blogger.com/profile/10523153530100050939</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://2.bp.blogspot.com/_BhFnIsjhfKc/Syj4fG2boRI/AAAAAAAAAdQ/qaZIYaAkDMk/S220/profil.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://1.bp.blogspot.com/_BhFnIsjhfKc/SBFPzi2jUHI/AAAAAAAAAGA/N7K5y6YKO24/s72-c/Jendela-bandung-Kecil.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8983338289940995135.post-2293394331927598111</id><published>2007-08-09T18:57:00.000+07:00</published><updated>2008-12-11T23:19:07.162+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Pajajaran'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Sunda'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Siliwangi'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Pakuan'/><title type='text'>Menggali Sejarah Kerajaan Sunda</title><content type='html'>&lt;a href="http://3.bp.blogspot.com/_BhFnIsjhfKc/RrsBpNetk7I/AAAAAAAAAEI/nvgCtgFlCMY/s1600-h/Saleh6kb.jpg"&gt;&lt;img id="BLOGGER_PHOTO_ID_5096669210804589490" style="FLOAT: right; MARGIN: 0px 0px 10px 10px; CURSOR: hand" alt="" src="http://3.bp.blogspot.com/_BhFnIsjhfKc/RrsBpNetk7I/AAAAAAAAAEI/nvgCtgFlCMY/s400/Saleh6kb.jpg" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div&gt;Judul : &lt;em&gt;&lt;strong&gt;Nyukcruk Sajarah Pakuan Pajajaran jeung Prabu Siliwangi&lt;/strong&gt;&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;Penulis : Saleh Danasasmita&lt;br /&gt;Penerbit : Kiblat Buku Utama&lt;br /&gt;Tahun Terbit : 2003, Nopember - Cetakan I&lt;br /&gt;Tebal Buku : 148 halaman&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Buku ini merupakan kumpulan tulisan Saleh Danasasmita (alm.) yang dimuat di berbagai majalah Sunda dalam kurun waktu 1960-1970-an. Isi buku ini juga dalam bahasa Sunda, tidak diterjemahkan ke bahasa Indonesia. Bapak Saleh sangat menaruh perhatian pada sejarah dan kebudayaan Sunda, terutama segmen atau era kerajaan Sunda. Apalagi beliau tinggal lama di Bogor tempat banyak peninggalan kerajaan Sunda.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mungkin juga yang menjadi dorongan lainnya untuk menulis segmen ini, karena dalam bunga rampai sejarah Indonesia sejarah Sund ditulis sangat singkat. Apalagi yang diajarkan di sekolah-sekolah, misalnya tiba-tiba saja disebutkan Pajajaran dikalahkan sewaktu direbutnya Sunda Kalapa oleh Fadhillah. Raja Wastu Kancana dan Sri Baduga yang jelas-jelas ada prasastinya tidak mendapat paparan yang memadai disbanding Ken Arok yang bahannya dari lontar Pararaton.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pak Saleh berseloroh, “Jangan-jangan nanti sejarah Sunda (di Sekolah) sangat berubah, dari jaman Tarumanagara langsung ke jaman VOC. Bukan berubah mungkin, tetapi asal tertera saja oleh penulisnya yang tidak punya perhatian. Dari pada tidak sama sekali. Takut disebut tidak adil” (hal. 146). &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bab Pertama membahas arti Pakuan Pajajaran. Berbagai pendapat dari peneliti Belanda dan Indonesia disajikan terakhir ditutup dengnan hasil kajian Saleh sendiri. Dalam Bab Empat dirinci raja-raja setelah Pasunda-Bubat dan yang menarik adalah siapa raja Pajajaran yang gugur di Bubat. Ini akan menjadi mata rantai ke Bab Delapan yang membahas Siliwangi-Susuhunan Pajajaran.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Banyak orang yang menyangka raja yang gugur di Bubat adalah Siliwangi. Tetapi banyak pula yang menyangkal tak mungkin Siliwangi yang menjadi legenda Sunda adalah raja yang gugur di Bubat. Saleh berpendapat bahwa yang disebut Siliwangi adalah Sri Baduga atau Ratu Jayadewata yang menjadi Susuhunan Pajajaran tahun 1482-1521 M. Jauh setelah Peristiwa Bubat tahun 1357 M.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bagi orang Sunda penting membaca buku ini meskipun berupa tulisan-tulisan lepas di berbagai Majalah. Memang tidak akan seperti membaca buku &lt;em&gt;Sejarah Jawa Barat&lt;/em&gt;. Penerbit telah berusaha menghimpun dan menyusun sedemikian rupa. Terima kasih atas usaha-usaha menggali khasanan sejarah dan kebudayaan seperti ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;Asep Suryana&lt;/em&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div&gt;&lt;em&gt;&lt;/em&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;a href="http://klubpulsa.com/?id=pulsaonline"&gt;&lt;/a&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8983338289940995135-2293394331927598111?l=akubacabuku.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://akubacabuku.blogspot.com/feeds/2293394331927598111/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://akubacabuku.blogspot.com/2007/08/judul-nyukcruk-sajarah-pakuan-pajajaran.html#comment-form' title='2 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8983338289940995135/posts/default/2293394331927598111'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8983338289940995135/posts/default/2293394331927598111'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://akubacabuku.blogspot.com/2007/08/judul-nyukcruk-sajarah-pakuan-pajajaran.html' title='Menggali Sejarah Kerajaan Sunda'/><author><name>Asep Suryana</name><uri>http://www.blogger.com/profile/10523153530100050939</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://2.bp.blogspot.com/_BhFnIsjhfKc/Syj4fG2boRI/AAAAAAAAAdQ/qaZIYaAkDMk/S220/profil.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://3.bp.blogspot.com/_BhFnIsjhfKc/RrsBpNetk7I/AAAAAAAAAEI/nvgCtgFlCMY/s72-c/Saleh6kb.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>2</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8983338289940995135.post-7111029958942924429</id><published>2007-07-20T08:24:00.000+07:00</published><updated>2008-12-11T23:19:07.326+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Ideologi'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Roger Eatwell'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='politik'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Jendela'/><title type='text'>Ideologi-Ideologi Tak Ada Matinya</title><content type='html'>&lt;em&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;(Resensi ini pernah dimuat di cbn.net.id pada portal cybershopping-book review tahun 2004, kini saya mengarsipkannya pada blog saya)&lt;/span&gt;&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;a href="http://2.bp.blogspot.com/_BhFnIsjhfKc/RqARqt8tGOI/AAAAAAAAADk/UogZnZ5fbQw/s1600-h/Id-politik-10Kb.JPG"&gt;&lt;img id="BLOGGER_PHOTO_ID_5089087004515047650" style="FLOAT: right; MARGIN: 0px 0px 10px 10px; CURSOR: hand" alt="" src="http://2.bp.blogspot.com/_BhFnIsjhfKc/RqARqt8tGOI/AAAAAAAAADk/UogZnZ5fbQw/s200/Id-politik-10Kb.JPG" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;Judul Buku : &lt;em&gt;&lt;strong&gt;Ideologi Politik Kontemporer&lt;/strong&gt;&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;Penulis : Roger Eatwell dan Anthony Wright (ed.)&lt;br /&gt;Penerjemah : R.M. Ali&lt;br /&gt;Penerbit : Jendela, Yogyakarta&lt;br /&gt;Tahun terbit: 2004, April, cetakan pertama&lt;br /&gt;Tebal Buku : xii, 420 halaman&lt;br /&gt;Harga : Rp 45.000,-&lt;br /&gt;Judul Asli : Contemporary Political Ideologies (Continuum, London dan New York, 2001)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Roger Eatwell dkk. meneropong ke mana arah ideologi-ideologi apakah mereka sudah mati atau sedang menuju kematian? Ataukah mereka sedang berubah bentuk? Buku ini menyajikan asal-usul tiap ideologi dan ke mana arahnya pada permulaan abad ke-21 yang ditulis oleh para pakar politik, akademisi dari berbagai universitas di Inggris. Tak heran kalau contoh kasus banyak diambil dari peristiwa yang terjadi di Inggris.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bab pertama pengantar dari editor tentang apa yang dimaksud dengan ideologi-ideologi politik. kemudian bab-bab selanjutnya masing-masing mengenai liberalisme, konservatisme, demokrasi sosial dan sosialisme demokrasi, marxisme dan komunisme, anarkisme, nasionalisme, fasisme, feminisme, ekologisme, dan fundamentalisme Islam. Semuanya adalah ideologi Barat kecuali fundamentalisme Islam. Karena perkembangan pada akhir abad ke-20, maka tentang fundamentalisme Islam ditambahkan pada edisi yang diperluas.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Istilah ideologie dicetuskan oleh filsuf Perancis, Antoine Destutt de Tracy (1796) sebagai ilmu tentang pikiran manusia yang mampu menunjukan arah yang benar menuju masa depan. Jadi semula ideologi adalah ilmu seperti juga biologi, psikologi, fisika dll. Dari semacam ilmu atau kajian ideologi bergeser menjadi paham, doktrin, atau “keimanan”.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setiap tulisan menyajikan perjalanan ideologi-ideologi setelah kelahirannya pada abad ke-18, 19, atau 20 dengan segala variasinya. Abad ke-20 merupakan saat pertarungan atau jatuh bangunnya ideologi-ideologi. Para penganut endism awal 1960-an a.l. Raymond Aron, Daniel Bell, dan S.M. Lipset masing-masing menulis tentang “akhir ideologi”. Bahwa era ideologi-ideologi akan berakhir dan kapitalisme liberal pragmatis telah menang. Francis Fukuyama pada akhir 90-an menulis The End of History dan memotret gerakan menuju demokrasi dan kapitalisme sebagai bagian dari pola umum evolusi sejarah. Padahal waktu antara kedua perang dunia liberalisme seperti menjelang ajal terutama di Eropa. Masa ini ditandai dengan munculnya fasisme di Itali dan Jerman (1919). Fasisme dikalahkan dalam perang (1945), kemudian di lain pihak komunisme menguat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setelah membaca bab pertama pembaca tidak perlu membaca bab demi bab secara berurutan. Pembaca yang membutuhkan kajian lebih mendalam diberi panduan di akhir bab berupa referensi dan di bagian belakang buku ada indeks yang sangat membantu. Dari semua itu yang paling penting adalah editor meminta setiap penulis mengulas ihwal ideologi pada awal milenium baru ini. Contohnya mengenai komunisme, diulas bahwa pada awal milenium baru bekas blok komunis dicirikan oleh proses ganda. Di satu sisi partai-partai komunis masih bertahan bahkan dengan mengubah nama, di sisi lain mengadopsi prinsip dan kebijakan pasar bebas salah satu ikon kapitalis liberal. Sedangkan anarkisme sebagai sebuah doktrin sering disalahartikan dengan perilaku anarki. Kesamaan terkecil antara keduanya adalah penolakan terhadap otoritas negara serta kekuasaan dan kekerasan yang menyatu menjadi mesin negara.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Anarkisme sebagai doktrin mencapai perkembangan puncaknya pada awal abad ke-20. Colin Ward (1973) menulis dalam Anarchy in Action, “Alternatif anarkis adalah fragmentasi, perpecahan bukan penyatuan, keragaman bukan kesatuan, sekumpulan masyarakat bukan suatu masyarakat. Kaum anarkis kontemporer terus menyerukan aktivitas manusia yang bersifat lokal dan langsung” (hlm. 202).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bab mengenai fundamentalisme Islam ditulis oleh Youssef Choueiri cendikiawan kelahiran Lebanon. Menurut Choueiri hanya Iran yang mengalami revolusi Islam yang sebenarnya sedangkan di Sudan fundamentalisme diberlakukan dari atas setelah ada kesempatan. Para fundamentalis secara bertahap mengurangi kekakuan tuntutan mereka dan bersedia bergabung dalam proses politik. Mengenai Indonesia sebagai negara muslim terbesar Choueiri menengarai, “Eksperimen Indonesia mungkin pertanda akan datangnya sesuatu dalam pengertian bahwa fundamentalisme tidak lagi menjadi satu-satunya pilihan bagi oposisi yang efektif di suatu negara muslim” (hlm. 377). Harus diingat buku ini ditulis sebelum peristiwa 11/9, bom Bali, Casablanca, dan Madrid. Choueiri sendiri meramalkan perjuangan radikal yang tidak mempunyai argumen pembebasan akan ditinggalkan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Buku ditutup oleh editor dengan kesimpulan ideologi-ideologi belum akan mati. Ideologi kapitalisme liberal yang diduga dominan menghadapi banyak tantangan internal maupun eksternal. Sangat baik dibaca oleh mahasiswa, pegiat politik, atau siapa saja yang ingin menambah pengetahuan di bidang politik. Hanya saja dengan ukuran huruf yang kecil dan warnanya hitam tipis cukup melelahkan membacanya, tetapi jika tidak begitu mungkin lebih tebal dan mahal.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;(Asep Suryana, tinggal di Bandung)&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8983338289940995135-7111029958942924429?l=akubacabuku.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://akubacabuku.blogspot.com/feeds/7111029958942924429/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://akubacabuku.blogspot.com/2007/07/ideologi-ideologi-tak-ada-matinya.html#comment-form' title='2 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8983338289940995135/posts/default/7111029958942924429'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8983338289940995135/posts/default/7111029958942924429'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://akubacabuku.blogspot.com/2007/07/ideologi-ideologi-tak-ada-matinya.html' title='Ideologi-Ideologi Tak Ada Matinya'/><author><name>Asep Suryana</name><uri>http://www.blogger.com/profile/10523153530100050939</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://2.bp.blogspot.com/_BhFnIsjhfKc/Syj4fG2boRI/AAAAAAAAAdQ/qaZIYaAkDMk/S220/profil.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://2.bp.blogspot.com/_BhFnIsjhfKc/RqARqt8tGOI/AAAAAAAAADk/UogZnZ5fbQw/s72-c/Id-politik-10Kb.JPG' height='72' width='72'/><thr:total>2</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8983338289940995135.post-5797476794461865619</id><published>2007-07-19T20:24:00.000+07:00</published><updated>2008-12-11T23:19:07.527+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Krisis Kebudayaan'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='esai'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Saini K.M.'/><title type='text'>Pendidikan: Upaya Mengatasi Krisis</title><content type='html'>&lt;a href="http://3.bp.blogspot.com/_BhFnIsjhfKc/Rp7pEd8tGHI/AAAAAAAAACs/OjFQY_sooKE/s1600-h/Krisis+Keb-3Kb.JPG"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;&lt;img id="BLOGGER_PHOTO_ID_5088760891943229554" style="FLOAT: left; MARGIN: 0px 10px 10px 0px; CURSOR: hand" alt="" src="http://3.bp.blogspot.com/_BhFnIsjhfKc/Rp7pEd8tGHI/AAAAAAAAACs/OjFQY_sooKE/s400/Krisis+Keb-3Kb.JPG" border="0" /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;&lt;em&gt;&lt;span style="font-size:85%;color:#cc33cc;"&gt;(Resensi ini pernah dimuat di cbn.net.id pada portal cybershopping-book review tahun 2004, kini saya mengarsipkannya pada blog saya)&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/em&gt;&lt;div align="left"&gt;Judul Buku : &lt;strong&gt;&lt;em&gt;Krisis Kebudayaan&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;&lt;/strong&gt;Penulis : Saini K.M.&lt;br /&gt;Penerbit : Kelir, Bandung&lt;br /&gt;Tahun terbit : 2004, April&lt;br /&gt;Tebal Buku : xvi, 130 halaman&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saini K.M. dikenal dengan singkatan SKM adalah seorang budayawan dan seniman yang rendah hati, beliau juga mantan Direktur Kesenian, Dirjen Kebudayaan, Depdikbud. Namun di balik kerendahan hatinya terdapat ilmu dan pengetahuan yang luas, tidak heran kalau almarhum Arifin C. Noor pernah berkata, “Saini ini benar-benar ensiklopedi”.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Buku “Krisis Kebudayaan” ini merupakan kumpulan pilihan sepuluh esai yang pernah ditulis SKM di media massa atau makalah dalam seminar dan diskusi. Kumpulan ini tidak hanya ungkapan partisipasi penulis, tetapi juga ajakan kepada semua pihak terlibat kepada masalah bersama ini. SKM merasa masalah yang diapungkan dalam tulisannya bukan apa-apa dibanding jumlah dan bobot masalah yang sebenarnya kita hadapi. Tulisannya mudah dipahami, dimulai dengan identifikasi masalah, pembahasan dan kesimpulan. Pemilihan judul-judul tulisan mencakup agama dan keberagamaan, jati diri bangsa, krisis kebudayaan, kemanusiaan, dan kota sebagai organisme. Kelemahan dalam buku ini seperti umumnya terdapat dalam buku kumpulan tulisan seorang penulis adalah adanya pengulangan gagasan dalam bab lain.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tulisan yang paling menarik adalah mengenai keberagamaan dan kebudayaan. Agama dan kebudayaan adalah dua sisi dari mata uang yang sama. Satu sisi adalah uluran kasih Yang Ilahi, sisi lain adalah perjuangan manusia dalam ruang dan waktu sejarahnya. Menurut SKM penyampaian agama melalui bahasa sudah mengandaikan kebudayaan. Dengan hakikatnya yang tidak berubah, maka agama dan keberagamaan di dalam ruang (geografis) dan waktu (historis) yang berbeda harus menyesuaikan diri kepada kehadiran kebudayaan yang berbeda pula dengan demikian diharapkan tidak terjadi resistensi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kebudayaan adalah upaya atau hasil upaya manusia di dalam mengolah lingkungan demi keselamatan (survive) dan kesejahteraannya (growth). Lingkungan jasmani dan rohani senantiasa berubah dan manusia harus menjawab tantangannya. Terungkaplah sebuah hukum yang disebut hukum besi kebudayaan yaitu, “sifat hakiki dari kebudayaan adalah perubahan”. Kemampuan mengidentifikasi dan memberi jawaban yang tepat bagi tantangan itu biasanya disebut “kreativitas”. Inilah intisari kebudayaan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Berbicara tentang SDM sebagai aset dan modal berarti bicara tentang etika, etos, dan kreativitas. Hal ini tidak hanya bisa dimiliki begitu saja, tetapi harus melalui pembelajaran dan proses pewarisan. Tiga jalur yang dapat digunakan adalah jalur informal (keluarga), non formal (organisasi-organisasi kebudayaan, museum, galeri, perpustakaan, cagar budaya, dll), dan formal (sekolah). Tentu proses ini tidaklah sederhana dan murah, tetapi begitu lama dan dalamnya proses kerusakan nilai-nilai dasar di masyarakat selama tiga dasa warsa, maka tak ada jalan lain Pendidikan adalah jalan keluar utama dari multi krisis yang dialami bangsa kita. SKM mencontohkan dua bangsa yang bangkit dari keterpurukan PD II yaitu Jepang yang mengambil 50% dari Anggaran Belanja Negara (ABN) untuk pendidikan. Negara lainnya adalah Jerman yang meng’gratis’kan pendidikannya dari TK hingga perguruan tinggi. Hasilnya dua negara ini termasuk negara maju.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tata nilai yang tersusun selama tiga dasawarsa menampilkan wajah orde baru yang menakutkan, tetapi di lain pihak disadari bahwa itu rapuh dan menyimpan bom waktu. Orde baru tumbang oleh situasi ekonomi global yang tidak memberi ruang pada militerisme dan kapitalis-kapitalis palsu. Sedang Rezim Reformasi belum siap secara ‘ideologis’ dan budaya. SKM mengusulkan untuk membentuk tata nilai alternatif (budaya tanding) terhadap orde baru. Jika tidak maka dikhawatirkan bangsa ini terpecah-pecah atau kembali kepada kediktatoran.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Contoh kasus negara Spanyol yang berhasil melalui masa krisis setelah kematian diktator Franco tahun tujuh puluhan tidak terjadi chaos, karena adanya kesadaran para pemimpin bangsa tentang perlunya ‘ideologi’ baru yang demokratis sebagai pengganti fasisme. Menurut SKM keberhasilan mereka karena ada tiga hal. Pertama Spanyol adalah negara fasis terakhir di Eropa yang dikelilingi negara-negara yang sudah mantap demokrasinya. Kedua adalah kenegarawanan Adolfo Suarez yang menjadi perdana menteri paska Jenderal Franco. Ketiga bangsa Spanyol memiliki martabat sebagai warga negara bukan sebagai massa, yang percaya kepada proses-proses demokrasi dan tidak cenderung bertindak ekstra-parlementer.&lt;br /&gt;&lt;em&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;(Asep Suryana, peminat kebudayaan tinggal di Bandung)&lt;/span&gt;&lt;/em&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8983338289940995135-5797476794461865619?l=akubacabuku.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://akubacabuku.blogspot.com/feeds/5797476794461865619/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://akubacabuku.blogspot.com/2007/07/judul-buku-krisis-kebudayaan-penulis.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8983338289940995135/posts/default/5797476794461865619'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8983338289940995135/posts/default/5797476794461865619'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://akubacabuku.blogspot.com/2007/07/judul-buku-krisis-kebudayaan-penulis.html' title='Pendidikan: Upaya Mengatasi Krisis'/><author><name>Asep Suryana</name><uri>http://www.blogger.com/profile/10523153530100050939</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://2.bp.blogspot.com/_BhFnIsjhfKc/Syj4fG2boRI/AAAAAAAAAdQ/qaZIYaAkDMk/S220/profil.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://3.bp.blogspot.com/_BhFnIsjhfKc/Rp7pEd8tGHI/AAAAAAAAACs/OjFQY_sooKE/s72-c/Krisis+Keb-3Kb.JPG' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8983338289940995135.post-3560482693247065601</id><published>2007-07-19T19:20:00.000+07:00</published><updated>2008-12-11T23:19:07.687+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Saini KM'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Guru Gantangan'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Sunda'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Pantun'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Kelir'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='hermeneutika'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Jakob Sumardjo'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Babad Pakuan'/><title type='text'>Menafsirkan Simbol-Simbol Leluhur</title><content type='html'>&lt;a href="http://3.bp.blogspot.com/_BhFnIsjhfKc/Rp7vEd8tGJI/AAAAAAAAAC8/uLzh71qj8T4/s1600-h/Herm-Sunda-3kb.JPG"&gt;&lt;img id="BLOGGER_PHOTO_ID_5088767489012996242" style="FLOAT: left; MARGIN: 0px 10px 10px 0px; CURSOR: hand" alt="" src="http://3.bp.blogspot.com/_BhFnIsjhfKc/Rp7vEd8tGJI/AAAAAAAAAC8/uLzh71qj8T4/s400/Herm-Sunda-3kb.JPG" border="0" /&gt;&lt;/a&gt; &lt;span style="font-size:85%;"&gt;&lt;em&gt;&lt;span style="color:#330099;"&gt;(Resensi ini pernah dimuat di cbn.net.id pada portal cybershopping-book review tahun 2004, kini saya mengarsipkannya pada blog saya)&lt;/span&gt;&lt;/em&gt; &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;Judul Buku : &lt;em&gt;&lt;strong&gt;Hermeneutika Sunda: Simbol-Simbol Babad Pakuan/Guru Gantangan&lt;/strong&gt;&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;Penulis : Jakob Sumardjo&lt;br /&gt;Penerbit : Kelir, Bandung&lt;br /&gt;Tahun terbit : Pebruari 2004, Cetakan ke-1&lt;br /&gt;Tebal Buku : xviii, 132 halaman&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hermeneutika berasal dari bahasa Yunani hermeneuin yang berarti menafsirkan. Hermeneutika mungkin pula diasosiasikan kepada Hermes sebagai utusan dewa Zeus yang mempunyai tugas khusus menyampaikan pesan yang masih dalam bahasa langit ke dalam bahasa yang dimengerti manusia. Jadi hermeneutika adalah filsafat dan atau metode penafsiran secara ilmiah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jakob Sumardjo mengkaji naskah Babad Pakuan yang ditranskripsi dari aksara Sunda-Jawa ke aksara Latin oleh Atja, Saleh Danasasmita, dan Nana Darmana (1977). Naskah tersebut ditulis pada 1862 berdasarkan naskah lebih tua yang ditulis tahun 1816 dan 1817 sewaktu pemerintahan Dalem Sumedang, Pangeran Kornel.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Guru Gantangan adalah putra Prabu Siliwangi dari salah satu istrinya Kentring Manik Mayang Sunda dari Nusa Bima. Guru Gantangan dilahirkan di Sindangbarang yang termasuk wilayah Sumedang Larang. Pola babad ini ada dua yakni pola vertikal-manusia sempurna dan pola horizontal-mandala kekuasaan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada bagian pertama disebutkan asal-usul Jawa-Sunda. Seorang raja menikahi putri raja Mesir yang bernama Sri Putih. Keduanya kemudian menetap di pulau kosong dengan membawa seribu orang Mesir dan seribu orang Selan. Mereka membawa jawawut (tanaman padi-padian) untuk ditanam dan menjadi bahan makanan. Itu sebabnya pulau kosong tersebut dinamakan Jawa. Kerajaannya disebut Medang Kamulan. Kerajaan ini berpindah-pindah mengikuti pola perladangan jawawut. Kemudian terakhir menetap di Medang Agung Galuh. Terjadilah perpindahan dari pola perladangan ke pola persawahan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Raja Galuh punya dua anak Aria Banga dan Ciung Wanara. Keduanya berebut tahta dan tidak ada yang menang ataupun kalah. Mereka teringat pesan ayahnya yang menjadi pertapa bahwa perang dengan saudara pamali. Akhirnya negara Galuh dibagi menjadi dua dengan pemisahnya Sungai Cipamali (Kali Brebes). Aria Banga menguasai Jawa bagian timur, keturunannya memerintah Jawa (Majapahit). Adiknya Ciung Wanara Jawa bagian barat yang kelak keturunannya memerintah Sunda (Pajajaran).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tafsir cerita di atas menyiratkan pemahaman masyarakat Sunda bahwa Sunda dan Jawa masih bersaudara.. Selain itu masyarakat pada abad 19 masih mempercayai asal-usul mereka dari orang Timur Tengah dan India (Selan). Mereka berkeyakinan sejak awal sudah Islam meskipun tercampur agama-agama India. Akhir dari bagian pembukaan ini adalah silsilah raja-raja Pajajaran hingga Prabu Siliwangi ayah Guru Gantangan (GG).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kisah selanjutnya adalah kepergian GG ke Dunia Bawah Laut kepada penguasanya Nagaraja. Kemudian menuju penguasa gua bumi, Jonggrang Kalapitung. Setelah dikawinkan dengan putri Dunia Bawah, Payung Kancana, GG menuju Dunia Atas, kepada Batara Guruputra Hyang Bayu. Di dunia ini GG dikawinkan dengan sembilan bidadari. GG warga Dunia Tengah (Pajajaran) menjadi warga Dunia Bawah dan Dunia Atas melalui perkawinan. GG kembali ke Dunia Tengah dan telah menjadi manusia sempurna.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Cerita berikutnya GG sebagai manusia sempurna membentuk negara baru, mandala kekuasaan di Dunia Tengah. Mula-mula GG mendatangi Nusa Cina yang berada di bagian hilir, kemudian ke Nusa Bali (hulu) dan Nusa Siem (tengah, di antara Nusa Cina dan Nusa Bali). Di Nusa Siem inilah GG diangkat menjadi penguasa. Tentu saja GG kawin dengan putri-putri keraton negeri-negeri tersebut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Faham dualisme dan tripartit primordial Indonesia terus hidup dalam babad ini. Ada Dunia Bawah ada Dunia Atas. Ada Nusa Cina (hilir, profan) ada Nusa Bali (hulu, sakral), dan banyak lagi hal-hal oposisi dualisme lainnya. Transendensi adalah harmoni dari hal-hal imanen yang bertentangan tersebut, maka ada Dunia Tengah dan Nusa Siem. Jumlah tiga selalu muncul dalam babad ini. Gejala ini umum terdapat dalam masyarakat primordial perladangan di Indonesia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam masyarakat persawahan Indonesia prinsip dualisme dan tripartit ini tetap muncul, tetapi bukan dualisme tunggal melainkan ganda. Timur-barat dan utara-selatan, keempatnya disatukan dalam satu pusat (mancapat kalimo pancer). Arah utara-selatan melambangkan arah ruang rohani, karena negara-negara dibangun sepanjang sungai-sungai di Jawa yang sebagian besar mengalir dari selatan ke utara. Selatan adalah bagian hulu yang airnya bersih (sakral) dan utara bagian hilir, muara yang airnya keruh (profan). Timur berarti kelahiran dan barat berarti kematian. Apakah hal ini yang mendasari Pajajaran memilih Pakuan sebagai ibukotanya? Bukan Sunda Kalapa pelabuhan ramai dan tempat persinggungan dengan budaya luar. Antara Pakuan ke muara di utara ada tiga sungai. Di sebelah barat Keraton ada Sungai Cisadane, (sadhu = suci, bersih) dan di sebelah timur Sungai Cihaliwung/Ciliwung (haliwung = keruh). Sedangkan Sungai Cipakancilan membelah keraton sebagai Dunia Tengah dari dua sungai lainnya. Sungai Ciliwung dapat dilalui kapal-kapal niaga dari Sunda Kalapa. Begitu pula Majapahit tidak memilih pelabuhan Ujung Galuh sebagai ibu kotanya, tetapi di pedalaman, Trowulan. Masuk akal jika pemilihan ini karena khawatir terhadap serangan melalui laut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dari rekonstruksi cerita mungkin yang disebut Nusa Cina, Nusa Bali, dan Nusa Siem berada di sebelah timur Pasundan (Jawa Tengah), karena disebutkan GG pergi ke arah timur melewati Cirebon, Keling dan Brebes. Adapun penyebutan Cina dan Siem mungkin pengarang babad hanya pernah mendengar, tetapi tempatnya yang pasti tidak tahu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dari babad ini pula Jakob Sumardjo mengembangkan tafsir atas Kuta Pakuan yang digabungkan dengan sumber-sumber lain yaitu pantun-pantun Sunda, sumber Portugis dan Belanda (VOC). Hasil rekonstruksi peta kosmologis terdapat di hlm. 103, struktur kota Pakuan di hlm. 104, dan struktur keraton di hlm. 116. Tafsir dan rekonstruksi ini sangat menarik karena kerajaan Pajajaran tidak meninggalkan sisa-sisa yang “jelas” menunjukkan bekas keraton.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Babad Pakuan ini merupakan ingatan kolektif lisan masyarakat Sumedang terutama kaum menaknya terhadap budaya masa lampau leluhurnya (kerajaan Pajajaran runtuh tahun 1575). Mengapa GG? Karena GG lahir dari seorang perempuan dari Sumedang Larang. Semacam legitimasi bahwa kaum menak Sumedang mempunyai kaitan keturunan dari Pajajaran. Dengan berupaya merekonstruksi pemikiran-pemikiran nenek moyang kita dapat memahami mengapa keadaan masyarakat sepeti kita warisi sekarang ini. Untuk memahami mitos-mitos tersebut kita harus menempatkan sebagai mereka.&lt;br /&gt;&lt;div&gt;&lt;div align="right"&gt;&lt;em&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;(Asep Suryana, peminat kebudayaan tinggal di Bandung) &lt;/span&gt;&lt;/em&gt;&lt;/div&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;p&gt;&lt;/p&gt;&lt;br /&gt;&lt;div&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;a href="http://www.agloco.com/r/BBFX9211"&gt;&lt;/a&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8983338289940995135-3560482693247065601?l=akubacabuku.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://akubacabuku.blogspot.com/feeds/3560482693247065601/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://akubacabuku.blogspot.com/2007/07/menafsirkan-simbol-simbol-leluhur.html#comment-form' title='2 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8983338289940995135/posts/default/3560482693247065601'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8983338289940995135/posts/default/3560482693247065601'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://akubacabuku.blogspot.com/2007/07/menafsirkan-simbol-simbol-leluhur.html' title='Menafsirkan Simbol-Simbol Leluhur'/><author><name>Asep Suryana</name><uri>http://www.blogger.com/profile/10523153530100050939</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://2.bp.blogspot.com/_BhFnIsjhfKc/Syj4fG2boRI/AAAAAAAAAdQ/qaZIYaAkDMk/S220/profil.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://3.bp.blogspot.com/_BhFnIsjhfKc/Rp7vEd8tGJI/AAAAAAAAAC8/uLzh71qj8T4/s72-c/Herm-Sunda-3kb.JPG' height='72' width='72'/><thr:total>2</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8983338289940995135.post-4230374956975040630</id><published>2007-07-19T11:17:00.001+07:00</published><updated>2010-06-22T17:12:18.573+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Ricky Sutanto'/><title type='text'>Mewujudkan Cita-Cita yang Setinggi Langit</title><content type='html'>&lt;a href="http://4.bp.blogspot.com/_BhFnIsjhfKc/Rp7nVt8tGGI/AAAAAAAAACk/YBV5z8z22aA/s1600-h/2015-9KB.jpg"&gt;&lt;span style="font-size:85%;color:#333399;"&gt;&lt;img id="BLOGGER_PHOTO_ID_5088758989272717410" style="FLOAT: left; MARGIN: 0px 10px 10px 0px; CURSOR: hand" alt="" src="http://4.bp.blogspot.com/_BhFnIsjhfKc/Rp7nVt8tGGI/AAAAAAAAACk/YBV5z8z22aA/s200/2015-9KB.jpg" border="0" /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;&lt;em&gt;&lt;span style="color:#333399;"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;(Resensi ini pernah dimuat di cbn.net.id pada portal cybershopping-book review tahun 2004, kini saya mengarsipkannya pada blog saya)&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/em&gt;&lt;em&gt;&lt;/em&gt;&lt;div align="left"&gt; &lt;/div&gt;&lt;div align="left"&gt;Judul Buku : &lt;em&gt;&lt;strong&gt;2015 Kita Terkaya No. 5&lt;br /&gt;&lt;/strong&gt;&lt;/em&gt;Penulis : Ricky Sutanto&lt;br /&gt;Penerbit : Yayasan Nusa Sejahtera&lt;br /&gt;Tahun terbit : 2004, Maret, cetakan pertama&lt;br /&gt;Tebal Buku : xix, 188 halaman&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Siapapun boleh memimpikan Indonesia yang gemah-ripah, adil dan makmur seraya berusaha mewujudkannya. Ricky Sutanto seorang pengusaha sukses, 54 tahun, menuangkan gagasannya dalam bentuk sebuah buku kecil. Bagi sebagian orang mungkin ide dan gagasan beliau adalah mimpi jika memperpertimbangkan keadaan kita sekarang yang terpuruk. Mampukah 10 tahun lagi Indonesia menjadi negara terkaya No. 5? Layaknya seorang pelaku bisnis apalagi sering menjadi pionir, maka ide dan gagasan harus menjadi kenyataan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ricky Sutanto sengaja menuangkan ide dan gagasan dalam bentuk cerita agar dapat dipahami semua kalangan, bahkan tukang becak sekalipun. Tentu saja gaya seperti ini tak disukai akademisi. Semua gagasan terwujud tanpa hambatan. Dalam kesempatan tertentu buku yang dicetak dengan kertas koran dibagikan secara gratis kepada masyarakat mungkin agar dapat mengapresiasi gagasan di dalamnya. Pemeran utama cerita adalah Satrio seorang pengusaha cemerlang, berhasil, dan dikagumi tidak hanya di dalam negeri, tetapi juga di mancanegara.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Penahapan dilakukan untuk mencapai Indonesia makmur, sejahtera, bahkan terkaya nomor 5 di dunia tahun 2015 yaitu periode 2004-2005, 2006-2007, 2008-2009, hingga 2014-2015. Krisis yang kita alami diidentifikasi dan disederhanakan ke dalam tiga jenis yakni krisis ekonomi, krisis budaya, dan krisis politik. Kunci untuk mengatasi krisis-krisis tersebut tergantung pada sikap rakyat. Rakyat harus bersatu dan memilih kepala negara yang mampu membawa bangsa keluar dari kemelut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Cerita bergulir dari tanggal 5 April 2004 saat pemilu legislatif. Pada bagaian pertama yang menarik adalah peningkatan kesejahteraan, alasannya dengan kesejahteraanlah baru bicara soal penegakan hukum. Tanpa adanya kesejahteraan hukum sulit ditegakkan. Satrio sebagai “perwujudan” Ricky Sutanto membuat konsep upah minimum untuk PNS, guru, TNI, dan Polri Rp 2 juta, sedangkan untuk pegawai swasta Rp 1,5 juta. Gagasan ini menarik biasanya pengusaha alergi dengan UMR apalagi besarnya dua kali UMR DKI Jakarta. Kalangan petani padi terangkat kesejahteraannya dengan ditentukannya harga dasar gabah kering Rp 3.500/kg. Begitu pula nelayan melalui program Jala Jaya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Gagasan berikutnya adalah mengenai judi. Meskipun judi dilarang, tetapi tetap saja marak. Bahkan togel sangat merusak dan meninabobokan masyarakat kecil. Satrio menggagas judi dilokalisasi di Pulau Galang dan menyulapnya menjadi Vegasia Island Paradise (VIP) disertai dengan pariwisata yang terintegrasi. Ia ingin meniru Las Vegas, di sana judi hanya menyumbang pendapatan 25% sedangkan sebagian besar pendapatan dari pariwisata. Di luar VIP judi harus diberantas dengan tegas. Ide seperti ini pernah dilontarkan Gubernur Sutiyoso yakni lokalisasi judi di Kep. Seribu dan mendapat tentangan keras. Entah bagaimana nanti Satrio mewujudkannya. Dalam cerita VIP terwujud pada periode 2008-2009 dan diresmikan oleh Presiden Indonesia ke-6.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Gagasan lainnya lagi dari Satrio adalah mengarahkan Batam sebagai First Asean Economic Zone (FAEZ) sebagai perwujudan dari Nafta yang lamban. Jika ini berhasil dapat diikuti dengan Asean Economic Zone kedua di Subic atau tempat lainnya. Perkembangan selanjutnya adalah dibentuk dan diterapkannya Asean Law, Asean Currency, dan Asean Education. Dengan demikian Asean bisa bergandeng tangan dan mampu berkompetisi di era globalisasi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mengenai utang luar negeri kita sebesar USD 78 milyar, Satrio yakin sebenarnya bangsa kita mampu melunasinya dalam satu tahun. Dengan kurs Rp 8.500/USD dan hitungan sederhana maka setiap warga negara harus menyumbang Rp 8.500/hari dalam satu tahun. Dengan cara subsidi silang jika suatu perusahaan mempunyai 3000 karyawan dan setiap karyawan menyumbang Rp 3.500/hari dan sisanya oleh perusahaan Rp 5.000, maka dalam satu tahun terkumpul Rp 9,3 milyar. Jika semua perusahaan begini dalam tempo cepat utang terbayar lunas dan APBN terfokus pada pembangunan. Jika Satrio ditanya apakah semua gagasannya dapat diwujudkan? Jawabnya, “Jangan tanya bisa atau tidak bisa, tanyalah mau atau tidak mau.”&lt;br /&gt;&lt;em&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/em&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="right"&gt;&lt;em&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;(Asep Suryana, tinggal di Bandung)&lt;/span&gt;&lt;/em&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;script type="text/javascript"&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;  var _gaq = _gaq || [];&lt;br /&gt;  _gaq.push(['_setAccount', 'UA-4347011-3']);&lt;br /&gt;  _gaq.push(['_trackPageview']);&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;  (function() {&lt;br /&gt;    var ga = document.createElement('script'); ga.type = 'text/javascript'; ga.async = true;&lt;br /&gt;    ga.src = ('https:' == document.location.protocol ? 'https://ssl' : 'http://www') + '.google-analytics.com/ga.js';&lt;br /&gt;    var s = document.getElementsByTagName('script')[0]; s.parentNode.insertBefore(ga, s);&lt;br /&gt;  })();&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/script&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8983338289940995135-4230374956975040630?l=akubacabuku.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://akubacabuku.blogspot.com/feeds/4230374956975040630/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://akubacabuku.blogspot.com/2007/07/mewujudkan-cita-cita-yang-setinggi.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8983338289940995135/posts/default/4230374956975040630'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8983338289940995135/posts/default/4230374956975040630'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://akubacabuku.blogspot.com/2007/07/mewujudkan-cita-cita-yang-setinggi.html' title='Mewujudkan Cita-Cita yang Setinggi Langit'/><author><name>Asep Suryana</name><uri>http://www.blogger.com/profile/10523153530100050939</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://2.bp.blogspot.com/_BhFnIsjhfKc/Syj4fG2boRI/AAAAAAAAAdQ/qaZIYaAkDMk/S220/profil.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://4.bp.blogspot.com/_BhFnIsjhfKc/Rp7nVt8tGGI/AAAAAAAAACk/YBV5z8z22aA/s72-c/2015-9KB.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry></feed>
