Adsense

14 Agt 2008

Pembaharuan Sunda Abad ke-19

Judul Buku :

Semangat Baru: Kolonialisme, Budaya Cetak, dan Kesastraan Sunda Abad ke-19

Judul Asli : A New Spirit: Sundanese Publishing and the Changing Configuration of Writing in Nineteenth Century West Java

Penulis : Mikihiro Moriyama

Penerjemah : Suryadi, MA

Penerbit : Kepustakaan Populer Gramedia

Tahun terbit : 2005, Januari, Cetakan Pertama

Tebal Buku : xxvi, 338 halaman, 14 cm x 21 cm

ISBN : 979-91-0023-2


“Basa teh anoe djadi loeloengoe, pangtetelana djeung pangdjembarna tina sagala tanda-tanda noe ngabedakeun bangsa pada bangsa. Lamoen sipatna roepa-roepa basa tea leungit, bedana bakat-bakat kabangsaan oge moesna. Lamoen ras kabangsaanana soewoeng, basana eta bangsa tea oge lila-lila leungit.” (A. Meillet seorang linguis Perancis, dari artikel yang ditulis Memed Sastrahadiprawira dalam majalah Poesaka Sunda, 1929)


Semangat Baru adalah buku pertama yang membahas secara mendalam kehidupan bahasa dan sastra Sunda abad ke-19. Ditulis oleh seorang sarjana Jepang. Buku ini merupakan terjemahan dari disertasi Mikihiro Moriyama di Universitas Leiden Belanda tahun 2003. Royalti terjemahan inipun beliau sumbangkan untuk korban bencana tsunami di Aceh.


Karena kebutuhannya akan pegawai bumiputra yang semakin besar dan komunikasi dengan penduduk pribumi terutama era Tanam Paksa abad ke-19, di kalangan pemerintah maupun orang Belanda timbul kesadaran memahami budaya dan bahasa yang digunakan oleh bumiputra. Sekitar 1830-an keberadaan etnis tersendiri di Jawa Barat belum diakui oleh Belanda, mereka masih berpendapat bahasa yang digunakan di Jawa Barat adalah varian dari bahasa Jawa. Karena bahasa mencirikan bangsa, maka pengakuan etnis Sunda pun oleh Belanda masih samar-samar. Tulisan Andreas de Wilde seorang Belanda Pengusaha Perkebunan di Sukabumi tahun 1829 melukiskan suasana kebahasaan penduduk di Jawa Barat waktu itu. Mereka bertutur dalam bahasa Sunda yang berbeda dengan bahasa Melayu dan Jawa, tetapi banyak kosa kata dari kedua bahasa itu. Aksara yang digunakan ulama adalah aksara Arab. Jika tidak menggunakan aksara Arab penduduk umumnya menggunakan aksara Jawa.


Tonggak-tonggak peristiwa pada abad ke-19 a.l.:

1. Tahun 1841 terbit Kamus Bahasa Belanda-Melayu dan Sunda oleh Roorda di Amsterdam. Senarai kosa kata dikumpulkan oleh De Wilde. Secara resmi bahasa Sunda mendapat pengakuan sebagai bahasa yang mandiri.

2. Tahun 1842 Wolter Robert van Hoevell pendeta yang bertugas di Batavia menulis dalam sebuah jurnal istilah-istilah etnografi perbedaan Djalma Soenda dan Wong Djawa.

3. Tahun 1843 Pieter Mijer sekretaris Perhimpunan Batavia untuk Seni dan Ilmu Pengetahuan mengumumkan hadiah 1000 Gulden dan medali emas untuk siapa saja yang menyusun sebuah Kamus Bahasa Sunda yang baru. Dampaknya merangsang orang Eropa untuk mempelajari bahasa Sunda.

4. Tahun 1862 terbit kamus Sunda dalam bahasa Inggris yang pertama oleh Jonathan Rigg seorang Inggris pengusaha perkebunan di Bogor Selatan. “Ini membuat saya sedih karena penyusunnya bukan orang Belanda”, kata Koorders (1863). Koorders adalah seorang doktor teologia dan hukum yang ditugaskan ke Hindia-Belanda tahun 1862 untuk mendirikan sekolah guru (Kweekschool).

5. Tahun 1872 pemerintah kolonial mengumumkan bahwa bahasa Sunda paling murni dituturkan di Bandung. Hal ini berkaitan dengan para sarjana dan penginjil dalam menyusun kamus dan tata bahasa Sunda yang mereka pelajari. Mereka berpendapat bahwa setiap bahasa memiliki satu bentuk yang murni. Tahun 1912 ditegaskan kembali bahwa dialek Bandung sebagai bahasa Sunda baku. Buntut dari penetapan tersebut berpengaruh hingga kini.


Teknologi cetak litografi dan tipografi pada abad ke-19 membantu penyebaran buku-buku ajar berbahasa Sunda di sekolah. Berangsur-angsur aksara Jawa tidak digunakan lagi di Jawa Barat, tetapi beralih ke aksara latin yang alfabet dan ejaannya telah dibakukan Belanda. Jadi bahasa Sunda yang benar sesungguhnya ciptaan Belanda (hal. 33). Penggunaan aksara Arab dan pembuatan manuskrip dengan tulis tangan masih berlangsung hingga abad berikutnya.


Di kalangan orang Sunda ide tentang bahasa murni lain lagi, misalnya Moehamad Moesa (1823-1886) seorang hoofdpanghulu di Limbangan yang juga seorang penulis. Bagi beliau bahasa Sunda yang murni adalah bahasa yang tidak bercampur dengan bahasa Jawa dan Melayu. Buku-bukunya sejak tahun 1862 masih berupa wawacan dalam aksara Jawa. Pandangannya yang positif mengenai arti pendidikan Eropa dan kedekatannya dengan K.F. Holle (seorang Belanda yang menaruh perhatian pada bahasa dan kebudayaan Sunda) gaya tulisannya kemudian mulai merambah dalam bentuk prosa dan huruf latin. Beliau penulis lokal pertama yang hasil karyanya dibuat dalam buku cetakan, tak berlebihan kalau Moriyama memberi judul Bab 3 “Moehamad Moesa Sang Peloppor”. Sebelumnya orang Eropa berpendapat tidak ada kesastraan Sunda contoh pendapat dua orang Inggris Crawfurd (menjabat Residen Yogyakarta 1811-1816) menulis tahun 1820, “Tidak ada buku-buku dalam bahasa Sunda, karena itulah Sunda tidak memiliki kesastraan nasional”. dan Rigg (1862), “Orang Sunda tidak punya kesastraan yang bisa dijadikan rujukan, dan ini sudah menjadi konsekuensi bahasa lisan yang miskin yang dituturkan oleh tidak lebih dari dua juta orang” (hal. 44)


Mereka lupa bahwa kesastraan bukan hanya yang tertulis tetapi juga dalam bentuk lisan. Sebelumnya orang Sunda terbiasa dengan manuskrip (tulisan tangan) meskipun wawacan dan dangding Sunda ditulis dalam aksara Jawa, tidak berarti yang ditulis adalah berbahasa Jawa. Ini pengaruh ditaklukannya Jawa Barat oleh Mataram pada abad ke-17. Akibatnya kesenian, gaya hidup, pemerintahan, dan bahasa terkena dampaknya. Kesastraan Sunda juga berkembang menurut estetika Jawa. Padahal jauh sebelum abad ke-17 etnis ini sudah mempunyai aksara Sunda Kuno seperti dalam naskah Bujangga Manik dan Carita Parahiyangan. Bagaimanapun usaha-usaha Belanda merumuskan Bahasa Sunda pada abad ke-19 mendorong orang Sunda untuk merumuskan kembali jati dirinya yang sudah dua ratus tahun berada di bawah bayang-bayang Jawa. Dengan berkembangnya teknik cetak saat itu mempercepat proses perubahan.


Buku ini adalah karya ilmiah, bisa saja ada yang keliru dan koreksi ilmiah cukup terbuka. Menurut Edi S. Ekadjati yang dianggap guru dan orang tua oleh Moriyama berpendapat karya ini bertitik tolak dari pandangan kaum kolonial dan berakhir pada kreativitas dan kebijkan kaum kolonial pula, sedangkan bumiputra hanya sebagai objek saja (hal. xvi). Namun demikian menurut pendapat saya studi ini membuka cakrawala baru tentang sastra Sunda abad ke-19 perkembangan dan dampaknya. Salah satu bagian penting tentang kesadaran etnis ini memasuki era selanjutnya. Kita tunggu kajian lainnya apalagi kesastraan Sunda sebelum abad ke-19 pun masih banyak yang belum tergali. ***


(Terima kasih kepada Sdr. Herwin Bharata yang telah menghadiahkan buku ini kepada saya)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar